Imam Nawawi : "Aku mencintaimu karena agama yang ada padamu. Jika kau hilangkan agama dalam dirimu, hilanglah cintaku padamu."
Alamat Akun
http://redaksi.kotasantri.com
Bergabung
2 Februari 2009 pukul 14:07 WIB
Domisili
Bandung - Jawa Barat
Pekerjaan
Cyber Mujahid
KotaSantri.com merupakan singkatan dari Komunitas Santri Virtual yang terdiri dari gabungan 3 elemen kata, yakni Kota, Santri, dan .com. Kota merupakan singkatan dari KOmuniTAs, yang artinya tempat, sarana, atau wadah untuk berkumpul. Santri merupakan sebutan bagi netter yang ingin berbagi dan menuntut ilmu melalui dunia maya (internet). Sedangkan .com adalah …
http://kotasantri.com
Tulisan Redaksi Lainnya
Tak Sesulit yang Kita Bayangkan
27 April 2010 pukul 20:13 WIB
Miliki Harga Diri
20 April 2010 pukul 18:33 WIB
Seribu Topeng
26 Maret 2010 pukul 18:15 WIB
Bilik
Bilik » Mualaf

Kamis, 29 April 2010 pukul 22:00 WIB

Sugen Threen : Masuk Islam Setelah Jadi Pengelana Agama

Penulis : Redaksi KSC

Mimpi yang dialaminya pada suatu malam di penghujung September 2005 seakan menjadi pembuka jalan hidayah bagi Sugen Threen. "Dalam mimpi tersebut saya mengenakan pakaian gamis, bersorban lengkap dengan selendang sedang berdakwah," ujarnya.

Setelah mendapat mimpi seperti itu, pria kelahiran Jakarta, 15 Maret 1969, ini lantas menemui seorang ulama kenalannya yang bermukim di daerah Cibarusah, Bekasi. Kepada ulama tersebut, Sugen menceritakan mimpi yang didapatnya. "Mimpi bagus datangnya dari Allah, mimpi buruk datangnya dari setan," begitu jawaban sang kiai kala itu.

Mendapat jawaban seperti itu, Sugen merasa bahwa mimpi yang datang dalam tidurnya itu merupakan sebuah mimpi bagus. Ia pun teringat dengan perkataannya sendiri tatkala sang ulama memintanya untuk masuk Islam jauh sebelum ia mendapatkan mimpi itu.

Waktu itu ia berkata, "Buat apa masuk Islam, sedang orang Islam sendiri banyak yang tidak benar. Kalau Allah menyuruh secara langsung, saat itu juga saya akan masuk Islam." Setelah melakukan diskusi dan merenung, Sugen pun dengan mantap memutuskan masuk Islam.

Peristiwa tersebut terjadi tepat 10 hari sebelum datangnya bulan Ramadhan tahun 2005. Di hadapan KH Abdul Haq Hamidy, sang guru spiritualnya, ia mengutarakan keinginannya untuk masuk Islam. Dengan dibimbing oleh KH Abdul Haq Hamidy, ia pun mengucapkan syahadat.

Setelah resmi menjadi seorang mualaf, hari-harinya ia isi dengan belajar shalat wajib lima waktu. Semua itu, ia pelajari secara autodidak, baik melalui buku-buku agama maupun melihat secara langsung gerakan orang shalat. "Saya awalnya belajar shalat dari buku. Lalu, saya catat. Suatu hari, ketika ikut shalat berjama'ah, catatan saya bawa. Sambil mengikuti shalat berjama'ah, saya memerhatikan catatan tersebut. Akibatnya, jama'ah di samping saya bingung dengan tindakan saya," ujar Sugen mengingat memori masa lalunya belajar Islam.

Awalnya, Sugen adalah pemeluk Hindu. Ayahnya adalah warga Indonesia keturunan India, sementara sang ibu keturunan Arab. Meski kedua orangtuanya menikah secara Islam, namun menurutnya, dalam keseharian mereka tidak pernah menjalankan kewajiban sebagai seorang Muslim. Bahkan, dalam perjalanannya, ibunya memilih untuk menjadi pemeluk Hindu. Keyakinan yang dianut sang ibu ini pun diikuti oleh Sugen dan ketiga orang adiknya.

Ketika mengenyam pendidikan di bangku kuliah, ia sempat berpindah keyakinan ke agama Katolik. Hal ini dikarenakan ia mempunyai seorang pacar beragama Katolik. "Saya sempat dibaptis dan mendapat nama baptis Franciscus Xaverius," ujarnya.

Namun, karena hubungannya tak direstui sang Ibu, Sugen kembali ke Hindu dan memutuskan hubungan dengan sang pacar. Oleh orangtuanya, Sugen dijodohkan dengan gadis keturunan India yang juga merupakan pemeluk Hindu.

Selepas menamatkan kuliah di Fakultas Hukum Universitas Trisakti pada 1992, Sugen melakoni sejumlah pekerjaan yang menurut istilahnya 'bekerja di jalan yang keras'. Dengan postur tubuh yang tinggi besar, tak mengherankan jika ia pernah menjadi seorang debt collector dan backing di tempat-tempat hiburan. Pekerjaan tersebut, ia jalani di sela-sela kesibukannya sebagai seorang pengacara.

Profesinya selalu menjadi bayang-bayang ancaman dari pihak yang tidak menyukainya. Ia pun menjalin hubungan dengan ulama dan kiai. "Setiap kali akan bekerja, saya selalu minta dido'akan, selain kepada ibu juga ke para kiai dan ulama tersebut. Salah satunya adalah KH Abdul Haq Hamidy," kenangnya.

Meski bukan seorang pemeluk Islam, namun do'a yang diberikan oleh KH Abdul selalu ia lafalkan setiap kali hendak berangkat kerja. Dan, atas izin Allah, ia kerap luput dari berbagai upaya penyerangan yang hendak dilakukan oleh para musuh-musuhnya.

Perihal keputusannya memeluk Islam, dengan cepat diketahui oleh orang-orang terdekat Sugen. Ibunya langsung memanggilnya. "Kamu pindah agama seperti pakai baju aja, tidak bilang-bilang dan didiskusikan dulu dengan keluarga," ujar sang ibu kala itu.

Setelah berdiskusi, ibunya memutuskan kembali ke Islam. Ia pun bersyukur. Ia berhasil mengembalikan ibunya ke jalan yang benar. Anak-anaknya pun mengikuti jejaknya. Ia berharap, anggota keluarganya yang lain segera menyusul.

Kabar keislamannya makin meluas. Tetangga, teman, rekan kerja, pun banyak yang tahu. Di sinilah ujian bertubi-tubi datang menghantam. Atasannya, seorang pemeluk Hindu, langsung memanggilnya. Tak ada angin atau hujan, ia diberi cuti oleh perusahaannya selama sebulan.

Awalnya, ia menganggap cuti ini sebagai perhatian perusahaan pada dirinya. Ia anggap, cuti itu sebagai hadiah agar makin khusyuk menjalankan puasa. Selepas cuti pertama, ia masuk kantor. Lagi-lagi, perusahaan memberikan tambahan cuti baginya. Sebulan lagi. Kembali 'hadiah' ini ia ambil. Namun, di sinilah mulai munculnya ujian yang sesungguhnya.

Ketika menjalani masa cuti kedua kalinya ini, datang surat dari kantor. Isinya meminta Sugen untuk mengembalikan fasilitas kantor berupa mobil dinas. Ia juga di-nonjob-kan. "Saat itu rasanya saya seperti dihantam gemuruh besar," ujarnya sambil berusaha menahan air mata yang sore itu tak kuasa ia bendung. Yang bisa ia lakukan kemudian hanya pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan shalat.

Keesokan harinya, ia masuk ke kantor untuk menyelesaikan segala urusan administrasi dan pekerjaan kantor yang belum sempat ia selesaikan. Ia juga mendatangi kantor pusat untuk melapor. Saat datang ke kantor pusat ini, beruntung pemilik perusahaan tempatnya bekerja memanggilnya.

"Berkat beliau juga pihak kantor mau membayarkan gaji saya pada saat cuti selama dua bulan." Setelah resmi keluar dari pekerjaannya, Sugen menafkahi keluarga besarnya hanya dengan gaji yang terakhir dan menjual beberapa aset yang ia miliki saat itu, seperti mobil. Hidup sebagai pengangguran sempat ia jalani selama dua tahun. Meski dalam kondisi terpuruk pun, ia tidak pernah melupakan Allah SWT. "Hari-hari saya isi dengan belajar ngaji dan memperdalam Islam," ungkapnya.

Namun, di balik ujian ini, pasti ada hikmah. Melalui tangan seorang hambaNya, Allah SWT memberinya kesempatan untuk menjejakkan kaki di Tanah Suci. Salah seorang kenalannya yang bernama Sofyan Leimena, bersedia membiayainya untuk umrah. Saat itu, baru delapan bulan ia menjadi seorang Muslim dan tengah menganggur.

Karunia Allah SWT kemudian menghampirinya lagi pada Agustus 2007. Saat itu, akhirnya ia bisa mendapatkan pekerjaan, meski secara serabutan. Kemudian, pada Oktober 2007, ia mendapatkan panggilan wawancara dari sebuah perusahaan swasta. Ia pun diterima bekerja, dan hingga saat ini, ia masih bekerja di perusahaan tersebut.

Kemurahan hati sang pemilik perusahaan tempatnya bekerja saat ini, juga telah membawanya bisa menunaikan rukun Islam terakhir, naik haji. Pada musim haji tahun lalu, atas sebagian biaya dari kantor, ia berangkat ke Tanah Suci.

Dari Republika Online

http://kotasantri.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Redaksi KSC sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Mumtahah Annisa | Ibu Rumah Tangga
Di sini tempatnya kalau ingin berdiskusi sama teman-teman yang asyik banget.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1066 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels