Ali Bin Abi Thalib : "Hati orang bodoh terdapat pada lidahnya, sedangkan lidah orang berakal terdapat pada hatinya."
Alamat Akun
http://indrawidjaja.kotasantri.com
Bergabung
26 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Jakarta - DKI Jakarta
Pekerjaan
Konsultant
simply person with simply motivation where find the Truth is as my way of live
http://indra.web.id
saya@indra.web.id
steven widjaja
http://facebook.com/steven indra widjaja
http://friendster.com/steven widjaja
Tulisan Indra Lainnya
Tjia Liang Goan : Selamat Tinggal Kegelapan
14 Januari 2010 pukul 22:51 WIB
Leoni Fatimah : Tergugah Acara MTQ
31 Desember 2009 pukul 22:16 WIB
Agus Slamet : Ada Apa dengan Islam?
17 Desember 2009 pukul 22:00 WIB
M. Syarif Hidayatullah : Hidayah Melalui Buku
3 Desember 2009 pukul 22:15 WIB
Ahmad Makboel : Meraih Keuntungan Ganda
19 November 2009 pukul 22:45 WIB
Bilik
Bilik » Mualaf

Kamis, 28 Januari 2010 pukul 22:45 WIB

Go Bing Ching : Ikut Khitanan Massal

Penulis : Indra Widjaja

Sesuatu yang wajar bila warga keturunan Cina menganut agama Kristen, seperti saya yang lahir dari orangtua keturunan Cina. Papa saya, Go Liong Wat dan mama Lu King Sang yang sama-sama menganut agama Kristen, tentunya mempunyai pengharapan terhadap anak laki-laki yang dilahirkannya.

Walaupun papa dan mama bukan termasuk penganut Kristen yang fanatik, tetapi saya mendapatkan bimbingan yang intens dalam mengenal agama keluarga kami itu. Papa saya yang asli keturunan Cina walaupun lahir di Purwokerto, selalu menanamkan cinta kasih terhadap sesama. Demikian juga mama, selalu mengingatkan saya untuk taat kepada ajaran agama Kristen.

Saya, Go Bing Ching, lahir di Semarang, Jawa Tengah, 22 Januari 1953, kota tempat papa saya bekerja. Seingat saya, saya belum pernah menginjakkan kaki ke negeri leluhur kami di Tiongkok, karena papa dan mama saya segera membawa saya ke daerah asal ibu di Dusun Barongan, Jetis, Bantul, Yogyakarta.

Setelah menetap di dusun itulah saya mulai merasakan perubahan cinta kasih yang diberikan papa. Pasalnya, papa harus bekerja di Semarang, sementara saya dan mama tinggal di dusun. Namun, di Dusun Barong inilah saya justru menemukan iman yang baru.

Ketika papa saya jarang berkumpul dengan keluarga, maka perhatian dan cinta kasih yang dulu selalu ditanamkannya, semakin pudar. Terlebih mama, beliau selalu disibukan oleh dagangannya. Sehingga, tanpa saya sadari, saya yang ketika kecil dulu selalu hafal dengan nyanyian-nyanyian gerejani, ketika itu larut oleh suasana dusun yang Islami.

Papa dan mama, seperti sudah saya katakan, bukan pengikut Kristen yang fanatik. Oleh karenanya mereka tidak pernah melarang saya, apalagi memarahi jika melihat saya bergaul dengan kawan-kawan sebaya, dan kerap bermain-main di masjid sebelah rumah. Mereka tampaknya sudah disibukkan oleh pekerjaan mereka masing-masing. Barangkali mereka khawatir jika dilarang saya tidak akan mempunyai kawan.

Ketika papa dan mama disibukkan dengan rutinitas kerja, maka pada saat itu seakan-akan agama buat mereka hanya sekadar sebagai pengisi kolom agama dalam KTP. Karena itu tak mengherankan jika saya dimasukkan ke sekolah Muhammadiyah Pulo Kadang, satu-satunya SD yang ada di sekitar Dusun Barongan. Dan, di SD ini saya mulai mendapatkan sesuatu yang berbeda dengan yang pernah disampaikan kedua orangtua saya.

Tuhan yang menurut kepercayaan Kristen melebur dalam 3 oknum (Tuhan Bapa, Tuhan Anak, dan Roh Kudus) dan sering disebut sebagai trinitas, sedangkan di dalam Islam diyakini hanya satu (esa) dalam arti yang mutlak, yaitu Allah SWT. Yesus yang oleh orang Kristen konon diyakini mati di tiang salib untuk menebus dosa umatnya, temyata tidak demikian dalam pelajaran yang saya terirna dari guru di SD Muhammadiyah itu.

Dengan suasana seperti itulah saya berkembang menjadi seorang remaja. Walaupun saya sudah memahami tata cara shalat, tetapi saya belum mengerjakannya. Sehingga, apa yang saya pelajari khususnya tentang Islam baru bersifat pengetahuan belaka. Saya masih takut dengan ancaman Tuhan Yesus yang dulu sering diceritakan papa dan mama saya.

Menginjak usia remaja, semua teman-teman saya yang laki-laki sudah dikhitan, sedangkan saya belum. Saya jadi bingung, mengingat ajaran orangtua saya tidak menganjurkan hal seperti itu. Rupanya kebingungan saya itu diketahui oleh seorang guru yang mengajar anak-anak mengaji di masjid sebelah rumah. Sehingga tanpa memberitahukan orangtua saya, saya didaftarkannya mengikuti khitanan massal. Dan, pada saat khitanan itulah saya bersama anak-anak lainnya dibaiat dengan cara mengucapkan dua kalimat syahadat.

Mengetahui kejadian itu, papa dan mama saya seperti tidak ambil pusing. Mereka tidak menampakkan kemarahan, walaupun tidak menampakkan kegembiraan. Yang jelas, sehabis mengucapkan syahadat itulah saya diberi penjelasan tentang konsekuensi menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW. Mulai saat itulah saya mulai mencoba apa-apa yang sudah saya pelajari, khususnya shalat. Tetapi untuk mengerjakannya di rumah, saya belum berani, sehingga terpaksa saya harus ke Masjid Nurul Huda atau ke rumah tetangga.

Menginjak usia 32 tahun, saya melangsungkan perkawinan secara Islam dengan seorang gadis desa. Namanya Suratmi. Beberapa waktu lamanya tidak terjadi sesuatu yang menyulitkan diri saya. Saya mulai berdagang kecil-kecilan dengan membuka kios di Pasar Barongan, Jetis. Di samping itu, saya mulai aktif sebagai anggota jama'ah Masjid Nurul Huda.

Di saat-saat saya sedang aktif itulah, berbagai cobaan mulai muncul. Tetapi itu saya pikir bukan lantaran aktivitas saya di Masjid Nurul-Huda, melainkan karena status kewarganegaraan yang saya miliki.

Memang saya akui, sebelum aktif di jama'ah Masjid Nurul Huda, hampir tidak pernah terjadi kesulitan yang berarti pada diri saya. Saya diperlakukan sebagaimana umumnya WNI yang lain : mendapat KTP, SIM, dan fasiiitas lainnya. Tetapi setelah aktif di masjid, tiba-tiba saya mendapat surat dari pamong desa yang isinya mencabut kepemilikan KTP atas nama saya. Mulai saat itulah berbagai teror bermunculan.

Saya sering disebut-sebut sebagai penjajah di negeri orang. Saya sering didatangi petugas. Mereka menteror saya macam-macam dengan alasan status kewarganegaraan saya dipertanyakan. Bahkan, pemah seorang pejabat pemerintah datang mengharuskan saya untuk selalu pasok upeti sebagai imbalan atas domisili saya di tempat itu.

Lucunya lagi, beberapa petugas keamanan datang dengan masing-masing mengendarai sepeda motor. Mereka minta pada saya untuk memenuhi bensin sepeda motomya. Dan setelah penuh, mereka pun pergi tanpa memberikan uang sepersen pun. Hal-hal seperti itu masih sering terjadi sampai saat ini.

Untuk menyelesaikan proses kewarganegaraan, sebenarnya sudah saya usahakan. Tetapi hingga kini hasilnya tetap nihil. Beberapa upaya telah saya tempuh, namun belum juga tampak hasilnya. Mereka mensyaratkan sesuatu yang tidak mungkin bisa saya penuhi. Sebab, untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari saja saya sudah ngos-ngosan.

Karena status kewarganegaraan itulah saya jadi tersiksa. Setiap langkah dakwah yang saya kerjakan selalu mendapat rintangan. Saya dianggap hidup di negeri orang. Dan yang paling menyakitkan, saya dianggap sebagai penjajah. Atas itu semua, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya hanya berserah diri pada Allah. Semoga saya yang lemah ini kuat menerima cobaan. Aamiin.

Setelah era reformasi ini, kini semua telah berjalan dengan baik dan cobaan-cobaan itu telah berlalu, hal ini tentunya memang telah ditetapkan oleh Allah SWT untuk hamba-hambaNya yang berserah diri kepadaNya.

Dari mualaf.com

http://indra.web.id

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Indra Widjaja sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Fariz Aziz | Mahasiswa
Alhamdulillah KotaSantri.com masih ada. Udah 2 tahun nich gak browsing web ini.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1287 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels