HR. At-Tirmidzi : "Pena (takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering, apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan."
Alamat Akun
http://indrawidjaja.kotasantri.com
Bergabung
26 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Jakarta - DKI Jakarta
Pekerjaan
Konsultant
simply person with simply motivation where find the Truth is as my way of live
http://indra.web.id
saya@indra.web.id
steven widjaja
http://facebook.com/steven indra widjaja
http://friendster.com/steven widjaja
Tulisan Indra Lainnya
Naoko Kasai : Mengenal Islam Lewat Pergaulan
29 Oktober 2009 pukul 22:33 WIB
Bernard Nababan : Ragu pada Isi Alkitab
8 Oktober 2009 pukul 21:15 WIB
Steven Indra : Terpikat Islam Karena Shalat
9 Juli 2009 pukul 21:14 WIB
Bilik
Bilik » Mualaf

Kamis, 19 November 2009 pukul 22:45 WIB

Ahmad Makboel : Meraih Keuntungan Ganda

Penulis : Indra Widjaja

Sebelum saya banyak bertutur, ada baiknya kalau saya kutipkan sebuah buku berjudul "Teman Harapan bagi Keturunan Tionghoa" yang disunting oleh Drs. H. Junus Yahya, mantan Ketua PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia). Dalam buku itu, antara lain tertulis, "Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpribumi keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat."

Apa yang dipaparkan buku tersebut benar-benar saya rasakan setelah saya beserta istri dan anak perempuan kami satu-satunya, masuk Islam. Keadaaan yang digambarkan itu, secara nyata saya nikmati. Tidak ada lagi jarak dalam bergaul sebagaimana terjadi ketika kami masih memeluk agama nenek moyang kami, Konghucu. Kemesraan hubungan batin antara saudara seagama, sungguh menakjubkan dan luar biasa.

Kalau Anda bertanya, apakah kepindahan saya kepada Islam semata karena hal tersebut di atas? Jawabnya, tidak! Kepindahan saya kepada Islam bermula dari dialog yang sehat. Tak ada kesan mengajak, apalagi memaksa, antara kami dan papa yang telah lebih dahulu masuk Islam. Meskipun dari sorot mata papa terasa ada getar yang menggambarkan keinginan seperti itu, namun sebagai orangtua yang bijak, beliau membawa kami pada dialog seputar masalah teologi Islam dan syari'atnya sembari membandingkannya dengan teologi agama nenek moyang kami. Dari dialog yang sehat itu, saya lalu tertarik memeluk Islam sebagai satu-satunya agama yang diridhai di sisiNya.

Bukti nyata papa tidak pernah memaksa kami ialah, dari 9 orang putra-putrinya (2 orang meninggal dunia), cuma saya dan kakak saya sajalah yang mengikuti jejak papa menjadi muslim. Sedangkan, saudara saya yang lain tetap dengan keyakinan leluhur kami. Tetapi, meskipun mereka belum atau tidak seiman dengan saya, namun simpati mereka terhadap Islam membuat saya tidak pernah bosan mendo'akan mereka. Semoga Allah SWT segera berkenan memberikan hidayahNya kepada mereka.

Saya berkeyakinan bahwa persoalan hidayah, terutama yang menyangkut masalah pindah agama (baca : masuk Islam) merupakan persoalan pokok. Tanpa hidayah, pindah agama takkan terjadi pada diri seseorang. Sejarah hidup Abu Thalib, paman Nabi Muhammad SAW menjadi contoh konkret. Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman, "Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai. Dan sesungguhnya Allah akan memberi petunjuk kepada yang dikehendaki."

Agaknya firman Allah itulah yang menjadi pegangan papa, sehingga beliau tidak serta-merta menyuruh atau mengajak kami pindah agama. Kalaupun papa mengajak kami berdialog tentang agama baru yang diyakininya, itu tak lain sekadar menunaikan kewajiban selaku orangtua kepada anak yang diamanatkan Allah kepadanya.

Kalau bicara soal gangguan atau hambatan setelah masuk Islam, terutama dari kalangan keturunan Tionghoa sendiri, sudah pasti ada. Tetapi semua itu saya anggap sebagai cobaan yang wajar dalam hidup. Apalagi untuk hal yang prinsip, amat wajar bila mengalami banyak cobaan. Dari sekian godaan, ada satu hal menarik menyangkut kekeliruan pandangan yang selama ini berkembang di masyarakat.

Kisahnya begini. Waktu tahun 1987, menjelang keberangkatan kami menunaikan ibadah haji, tiba-tiba pejabat Kesra Kabupaten Sumenep memanggil saya dan mengajukan pertanyaan yang rada aneh. "Saudara keturunan Cina, ya?" tanyanya membuka pembicaraan. "Ya," jawab saya polos. Ia pun melanjutkan pertanyaannya, "Apa betul kata orang, kalau orang Cina masuk Islam akan jatuh miskin?" Spontan saya jawab bahwa anggapan seperti itu tidak benar dan tidak berdasar. Lalu saya jelaskan kepadanya, justru dengan memeluk Islam, seseorang akan memperoleh keuntungan ganda, yaitu keuntungan di dunia dan keuntungan di akhirat.

Saya katakan demikian, karena dalam Islam tidak terlarang untuk menjadi orang kaya, asal diperoleh dengan cara benar dan dibelanjakan secara benar pula. Dan memang, dalam berusaha saya tidak mendapat hambatan yang berarti. Justru saya mendapat pegangan kuat yang menjadi kunci sukses saya dalam usaha.

Barangkali Anda bertanya tentang istri saya, apakah ia lantas menjadi muslimah begitu saya menyatakan diri menjadi seorang muslim? Jawabannya, tidak. Istri saya yang amat saya cintai, menjadi muslimah kira-kira satu tahun setelah saya masuk Islam. Saya tidak pernah memaksanya mengikuti agama saya. Sebagai seorang suami yang kelak akan dimintai tanggung jawab di hadapan hakim Mahaadil, saya menempuh cara dialogis seperti yang dicontohkan papa terhadap saya. Alhamdulillah, dengan dialog yang intens, akhirnya dengan kesadaran sendiri, ia menyatakan ingin masuk Islam.

Untuk tidak membuat Anda penasaran, baiklah saya perkenalkan diri saya. Saya dilahirkan di Sumenep, Madura, tahun 1935. Orangtua memberi saya nama Ong Boek Yoe. Setelah masuk Islam, nama saya diganti menjadi Makboel. Sepulang dari Tanah Suci tahun 1987, nama saya menjadi Haji Ahmad Makboel. Istri saya yang juga keturunan Cina, semula bernama Tjoa Kim Soe, tetapi kini lebih akrab dipanggil Haryati. Sekarang, kami tinggal di Kecamatan Ganding, Kabupaten Sumenep, Madura.

Diambil dari mualaf.com

http://indra.web.id

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Indra Widjaja sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Lucasgoru | Karyawan Swasta
Allahu Akbar... Terus terang, KotaSantri.com lebih membuka mata hati saya tentang Islam.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1930 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels