HR. Al Hakim : "Menyendiri lebih baik daripada berkawan dengan yang buruk, dan kawan bergaul yang shaleh lebih baik daripada menyendiri. Berbincang-bincang yang baik lebih baik daripada berdiam, dan berdiam adalah lebih baik daripada berbicara (ngobrol) yang buruk."
Alamat Akun
http://hilmybram.kotasantri.com
Bergabung
14 Desember 2009 pukul 23:28 WIB
Domisili
Sleman - DI Yogyakarta
Pekerjaan
Mahasiswa
Tulisan Muhammad Lainnya
Menikmati Proses
15 Mei 2012 pukul 10:30 WIB
Dosa dan Kesempitan Hidup
13 Mei 2012 pukul 10:00 WIB
Visi yang Menginspirasi
8 Mei 2012 pukul 05:30 WIB
Mendengar dan Memilah
2 Mei 2012 pukul 09:00 WIB
Kisah Spiritual Company
27 April 2012 pukul 00:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Sabtu, 19 Mei 2012 pukul 09:30 WIB

Ujian Kebesaran

Penulis : Muhammad Hilmy

Suatu hari di bulan puasa, saya mendapat kesempatan sekaligus kehormatan untuk menjemput salah seorang penulis buku, trainer, sekaligus motivator tingkat nasional bernama Andre Raditya. Kami menjemput untuk mengantar mas Andre ke salah satu restoran di Jogja, di sana ia dan 3 rekan lainnya mengisi acara buka puasa bersama.

Sepanjang perjalanan dari bandara ke restoran tersebut, saya berhasil menyerap banyak ilmu yang sampai sekarang sulit saya lupakan. Saya rasa ada satu faktor yang buat saya sulit melupakannya, karena usia kami hampir sama namun secara kualitas hidup, kami jauh berbeda. Faktor itu membuat saya tertampar dan malu. Terlebih ketika mendengar kerasnya hidup yang dia jalani untuk berada pada posisi sekarang.

“Mas, dalam kehidupan seseorang, pasti ada titik di mana ia berada pada posisi yang sangat rendah. Apa sikap yang sebaiknya kita lakukan?” tanya saya di sepanjang perjalanan. “Betul, mas, itulah yang namanya ujian kebesaran,” kata mas Andre. Ujian kebesaran, ya itulah titik di mana seorang manusia benar-benar diuji, apakah dia layak menjadi orang yang besar atau tidak di masa mendatang. Saya yang saat itu sedang berada dalam kondisi yang sangat down, terhibur dan kembali optimis mendengar penjelasan apa itu ujian kebesaran.

Kalau dipikir-pikir, ujian kebesaran selalu mendatangi orang-orang yang di kemudian hari menjadi orang yang luar biasa hebat dan inspiratif. Pak Jamil Azzaini, seorang motivator dan trainer SuksesMulia menjalani masa hidup yang pahit. Semasa kecil, orangtuanya adalah orang termiskin di kampung. Bahkan ayahnya pernah dimaki oleh orang terkaya di kampungnya hanya karena mau pinjam uang Rp. 150.000. Namun sekarang lihatlah, pak Jamil menjadi trainer yang sangat luar biasa inspiring.

Nabi Muhammad SAW juga mengalami ujian kebesaran. Sebelum fathul Mekkah, Nabi Muhammad dan para muslimin diasingkan, baik secara sosial maupun ekonomi. Tidak boleh ada satu kabilah pun yang boleh berdagang dengan kaum muslimin. Tujuan dari pengasingan ini tak lain untuk menjatuhkan mental kaum muslimin, yang saat itu masih berusia “muda”. Peristiwa ini menyebabkan kelaparan, bahkan sahabat Nabi memohon, “Wahai Rasul, mintakan kepada Allah makanan untuk kami,” saking hebatnya kelaparan itu. Tiga tahun lamanya pengasingan tersebut, kaum Muslimin benar-benar diuji, ujian kebesaran. Hingga akhirnya perjanjian yang ditempel di Ka’bah dimakan oleh ulat yang Allah kirim. Setelah itu, batallah perjanjian pengasingan kaum muslimin. Apa yang terjadi setelah itu? Nabi Muhammad menjalani Isra Mi’raj dan membawa “oleh-oleh” ibadah shalat dari Allah.

Secara garis besar, kisah Nabi Muhammad sangat sempurna untuk menggambarkan betapa ujian kebesaran, seperti pengasingan, kehilangan istri dan pamannya tercinta, difitnah, dilempar batu oleh penduduk Tha’if, kalah dalam perang Uhud, hinaan dari Abu Jahal pamannya sendiri, hingga akhirnya membuahkan kepribadian Nabi Muhammad yang sangat luar biasa. Ajaran Islam bisa tersebar ke seluruh dunia justru karena keteladanannya dan kebesaran namanya.

Maka benar yang dikatakan Ustadz Yusuf Mansur, kalau mau mencapai puncak ya harus melewati jurang yang dalam. Kalau mau menuju kesuksesan, harus mau diuji sampai berada pada titik nadir yang membuat kita mungkin berkata, “Ya Allah, saya nyerah deh!” titik di mana air mata kita menetes, titik di mana kita merasa gagal. Nah, jika anda mengalami ujian kebesaran, bergembiralah karena menurut siklus, anda sebenarnya sedang menuju jalan menuju kesuksesan. Kisah orang-orang besar menunjukkan fakta seperti itu.

Apa yang sebaiknya dilakukan kala menghadapi ujian kebesaran? Pertama, mengadulah kepada Allah. Segala kegelisahan, ketakutan, perasaan gagal, ceritakan kepada-Nya. Rasakan perasaan tenang dan damai kala bercerita kepada Tuhan. Kedua, terus melaju, sebagaimana Nabi Muhammad terus berdakwah dan menampilkan teladan terbaik, walaupun berbagai makian, cacian, tekanan mental dihadapinya. Jika kita putuskan untuk menyerah selamanya, maka sampai kapanpun kita tak akan pernah mencapai puncak.

Berbahagialah yang saat ini sedang menghadapi ujian kebesaran. Karena sesungguhnya Allah sedang menyeleksi kita, apakah kita layak jadi orang yang besar, hebat, dan sukses atau hanya sekedar menjadi pecundang.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Muhammad Hilmy sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Meyla Farid | Guru
Isinya sangat bagus dan bermanfaat. Site favoritku untuk saat ini. :)
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1421 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels