HR. Ibnu Majah dan Abi Ad-Dunya : "Secerdik-cerdik manusia ialah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling gigih membuat persiapan dalam menghadapi kematian itu."

Uji Coba Versi Baru

Saran dan masukan silahkan disampaikan melalui Form Kontak.
Alamat Akun
http://abisabila.kotasantri.com
Bergabung
30 Oktober 2009 pukul 12:46 WIB
Domisili
Tangerang - Banten
Pekerjaan
swasta
Nurudin, begitu nama yang tertera di akta kelahiran, ijazah, ktp dan dokumen-dokumen pribadiku lainnya. Nama itulah yang diberikan oleh kedua orang tuaku atas rekomendasi salah seorang paman. Begitulah, akhirnya namaku berbeda dengan kelima kakakku yang semuanya memiliki nama depan yang sama. Tapi, aku tetap bersyukur dan berharap bisa mewujudkan harapan …
http://abisabila.blogspot.com
nurudin.abisabila@gmail.com
abisabila@ymail.com
http://facebook.com/abisabila
Tulisan Abi Lainnya
Dekat Tapi Tak Terlihat
27 Januari 2010 pukul 09:10 WIB
Berlebihan dan Keterlaluan
23 Januari 2010 pukul 08:00 WIB
Ketika Anak Belum Mau Berjilbab
19 Januari 2010 pukul 08:30 WIB
Berjilbab Jangan Setengah-Setengah
13 Januari 2010 pukul 09:09 WIB
Saat Hidayah Datang Menyapa
9 Januari 2010 pukul 08:55 WIB
Santri
esa efriyani
staf bendahara
bandar lampung
ichna
pelajar
grobogan
Susilo Kindaichi
Karyawan Swasta
Surabaya
Forum
Suara
Mundzakir : istiqomhkan aku dgn aktvtas2 ramadhan krn hr2 esok tak ada jminan bgiku utk istiqomah dgn amal ramadhan tanpa ijin_Mu.
Ias : Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H..
Mohon maaf lahir dan bathin ya
zamroni : Saat saya menuliskan tulisan ini, kita akan menuju Hari Kemenangan, Hari Fitrah, Hari Suci, Hari Lahiriah dan Batiniah, hari dimana semua umat muslim di seluruh dunia merayakan kegembiraanya di Hari Raya Idul Fitri 1431 H/2010 M
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Ahad, 31 Januari 2010 pukul 08:00 WIB

Rajin Puasa Biar Cepat Kaya?

Penulis : Abi Sabila

Saat istirahat, usai shalat Jum’at.

Kamu tidak makan, Mad?” tanya seorang rekan kerja Ahmad, sambil mengambil jatah makan siang yang sudah siap sejak sebelum shalat Jum’at.

Saya puasa, Mas,“ jawab Ahmad singkat.

Kok hari Jum'at kamu puasa. Kan nggak boleh puasa khusus hari Jum'at.

Saya tidak puasa khusus hari Jum'at, Mas. Kemarin saya puasa, dan insya Allah besok juga puasa. Mulai hari ini saya puasa sunnah pertengahan bulan Safar, tanggal 13, 14, dan insya Allah sampai tanggal 15 nanti.“ Ahmad coba menjelaskan mengenai puasanya hari ini agar rekan kerjanya tidak salah paham, apalagi menganggapnya ‘linglung’ seperti bulan kemarin yang menyangka bahwa Ahmad salah mengira hari dan menghitung tanggal, padahal kala itu Ahmad yang rajin puasa sunah Senin – Kamis bukan salah mengira hari atau tanggal, tapi Ahmad memulai puasa pertengahan bulan yang kebetulan jatuh pada hari Rabu, tanggal 30 Desember.

Wah, puasa terus bisa cepet kaya dong!

Maksudnya?” tanya Ahmad tak mengerti.

Rekan kerja Ahmad menghentikan makan siangnya sesaat.

Kemarin kamu puasa hari Kamis. Hari ini, besok, dan besoknya lagi kamu puasa pertengahan bulan. Terus hari Seninnya kamu puasa juga, itu artinya kamu bisa menghemat uang jajan selama lima hari, gak cepat kaya dari mana?” jawabnya sambil tersenyum dan kembali meneruskan makan siangnya.

Amin!” jawab Ahmad prihatin.

***

Barangkali apa yang baru saja diucapkan rekan kerja Ahmad adalah sebatas seloroh saja, tapi bisa jadi memang begitu cara pandang dia terhadap orang yang rajin melakukan puasa sunnah. Sangat disayangkan dan harus segera diluruskan.

Rajin berpuasa sunnah biar cepat kaya? Bukan hal yang mustahil, namun bukan pula hal yang benar jika yang dimaksud adalah kaitannya dengan pengurangan jatah makan ataupun jajan. Mungkin jika yang dimaksudkan kaya karena keberkahan rejeki bagi orang-orang yang rajin berpuasa sunnah juga ibadah-ibadah sunnah lainya, itu ada benarnya.

Masih saja, dan kenyataannya memang benar-benar ada orang-orang yang memandang segala sesuatu termasuk ibadah dari sudut pandang, kepentingan, dan keuntungan duniawi saja. Sayang, jika ternyata ibadah-ibadah yang mereka kerjakan, baik wajib maupun sunnah orientasinya adalah dunia semata. Padahal pekerjaan dunia saja bisa bernilai ibadah jika diorientasikan untuk tujuan akhirat. Bekerja menjadi buruh pabrik misalnya, jika kita niatkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, maka akan bernilai ibadah. Dan segala pekerjaan dunia yang bernilai ibadah jelas akan membawa keberkahan atas hasil yang didapatkan.

Yang harus diubah adalah jangan pernah meniatkan ibadah untuk kepentingan dunia, karena hal ini tidak akan membawa hasil, baik dunia maupun akhiratnya. Luruskan niat bahwa ibadah kita - baik wajib maupun sunnah - tujuannya adalah Allah semata. Shalat kita tidak akan bernilai ibadah jika tujuan kita adalah agar dilihat orang. Puasa kita tidak akan bernilai ibadah jika tujuan kita adalah untuk menghemat uang belanja. Sebaliknya, pekerjaan dunia yang kita lakukan dengan mengharap keridhaan dan keberkahan dari Allah akan bernilai ibadah, sehingga bukan saja akan membawa hasil di dunia, tapi juga tabungan untuk akhirat.

Jika kita ingin kaya, hal yang sudah tentu harus dilakukan adalah usaha. Usaha di sini meliputi usaha yang berorientasi dunia, juga akhirat. Kita harus bekerja untuk bisa mendapatkan penghasilan. Bekerja yang dimaksudkan tidak asal kerja, tentunya bekerja yang dibenarkan oleh agama, bukan asal kerja yang penting cepat menghasilkan uang, meskipun harus menghalalkan segala cara. Selain bekerja, kita juga harus tak putus berdo'a, agar usaha kita diberi kemudahan dan kelancaran. Kemudian, dari penghasilan yang kita dapatkan, kita sisihkan sebagian untuk kita sedekahkan kepada orang lain yang membutuhkan ataupun kita sumbangkan untuk pembangunan masjid, atau lembaga sosial lainnya agar penghasilan kita menjadi barokah. Cara seperti inilah sebenarnya yang lebih tepat dan benar untuk bisa menjadi kaya.

Satu hal yang harus kita yakin, bahwa Allah Mahakaya, Allah tidak tidur, dan tidak mungkin menyia-nyiakan usaha kita, apalagi jika usaha kita itu kita tujukan untuk mengharap ridhaNya. Dan juga yang tak kalah penting bahwa kita memang membutuhkan harta dalam hidup ini, tapi bukan itu tujuan sebenarnya. Pastikan, apapun usaha kita adalah kita lakukan sesuai dengan aturan Allah SWT dan kita kerjakan untuk mengharapkan keridhaanNya. Apa yang tidak mungkin bagi Allah, termasuk memberikan kita kekayaan di dunia, juga surga di akhirat kelak.

--- Suka ---

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Abi Sabila sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Tulisan Favorit
Indahnya Kemiskinan
Ahad, pukul 08:30 WIB
Rasa Ini, Meluruhlah
Senin, pukul 12:25 WIB
Nurjanah | Ibu Rumah Tangga
Subhanallah... Setelah gabung dengan KotaSantri.com, saya jadi ketagihan pengen berkirim salam dengan sahabat semua. Di samping tambah teman, juga makin tambah pengetahuan. Saran untuk ke depannya, yang Pelangi / Bilik lebih ditingkatkan lagi tema-temanya. Afwan jiddan. Jazakallah.
KotaSantri.com © 2002 - 2010
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1170 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels