|
Ibn Qudamah : "Ketahuilah, waktu hidupmu sangat terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desahnya akan mengurani bagian dari dirimu. Sungguh, setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tak ada bandingannya."
|
|
|
http://www.abisabila.com |
|
http://facebook.com/abi.sabila |
|
http://twitter.com/AbiSabila |





Sabtu, 9 Januari 2010 pukul 15:55 WIB
Penulis : Abi Sabila
Kabar tentang Abel Xavier – mantan pemain sepakbola Liverpool asal Portugal – yang memutuskan pensiun dari dunia sepak bola dan memeluk agama Islam yang pertama kuketahui dari salah satu situs media Islam rujukan, seketika mengingatkanku pada sosok bu “D”. Tak ada kaitannya memang antara pemain bola yang kemudian mengganti namanya menjadi Faisal Xavier tersebut dengan Bu D, kecuali keduanya adalah sama-sama mualaf.
Bu D adalah salah satu pembaca Oase Iman yang merasa tergugah hatinya setelah membaca salah satu tulisanku yang di-publish pertengahan Ramadhan tahun lalu. Seketika jiwanya terpanggil untuk berbagi rezeki dengan tokoh yang kujadikan inti dari tulisanku tersebut, namun sempat kutolak awalnya. Sebelumnya, ada pak K - yang dengan segenap kerendahan hati - juga kutolak niat baiknya dengan beberapa alasan, di antaranya karena aku tak ingin justru kesan ‘memelas’ yang lebih menonjol dibanding pesan moral dan hikmah yang ingin kusampaikan melalui kisah nyata tersebut.
Adalah pak Y - orang yang memperkenalkan Bu D padaku - yang kemudian meyakinkanku akan kesungguhan dan ketulusan Bu D untuk berbagi. Beliaulah juga yang memberitahuku bahwa Bu D ini adalah seorang mualaf. Singkat cerita, hanya dalam hitungan beberapa menit, Bu D telah mentransfer sejumlah uang yang menurutku jumlahnya cukup besar melalui rekeningku untuk kemudian kusampaikan pada keluarga yang kuangkat dalam tulisanku tersebut. Subhanallah! Tidak mudah memberikan sesuatu kepada orang yang belum dikenalnya, melalui orang yang tak dikenal pula, kecuali dilandasi ketulusan berbagi dan keikhlasan beramal. Dan semua itu menjadi sulit apabila hidayah tak pernah datang dalam hatinya.
Sama seperti Faisal Xavier, aku pun tak tahu persis bagaimana mula ceritanya Bu D ini menjadi seorang mualaf. Yang pasti, saat hidayah datang menyapa, ia akan datang dengan cara dan jalannya sendiri. Tak dapat dicegah, juga tak mudah dipinta. Allah memberikan hidayah kepada siapa saja yang dikehendakiNya, dan tidak memberikan atau bahkan mencabut hidayah dari seseorang dengan kehendakNya kapan saja dan bermacam caranya.
Seorang pengemis tua dan buta di salah satu sudut pasar Madinah, mengucap dua kalimat syahadat setelah tahu bahwa orang yang selama ini dengan lemah lembut menyuapinya tiap hari dan orang itu kini telah tiada adalah Rasulullah yang setiap hari, setiap saat dibencinya. Bahkan dia selalu menghasut orang-orang untuk ikut membenci dan memusuhinya. Namun sebaliknya, meski Abu Thalib adalah seorang paman Rasulullah yang dengan jiwa raga dan hartanya selalu melindungi Rasulullah dan dakwahnya, namun hidayah tidak juga datang padanya sampai akhir hayatnya.
Faisal Xavier, Bu D, dan para mualaf lainnya, sangat beruntung karena telah dipilih Allah SWT untuk menerima hidayahNya. Bu D bukan saja telah mendapatkan anugerah terbesar dalam hidupnya, namun beliau telah mampu membagi manisnya hidayah itu kepada orang lain. Selamat datang, selamat bergabung di keluarga Islam, saudara dan saudariku. Hidayah telah datang padamu, rawat dan pupuklah dengan ibadah, jagalah dan pertahankan dengan segenap jiwa dan raga agar jangan pernah terlepas sampai kapan pun juga, hingga nyawa berpisah dari raga. Do’aku, do’a kami semua untuk kalian, saudara-saudara baruku.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Abi Sabila sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.