|
HR. At-Tirmidzi : "Pena (takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering, apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan."
|
|
|
http://www.ardadinata.web.id |
|
http://facebook.com/ardadinata |
|
http://twitter.com/ardadinata |





Rabu, 1 Mei 2013 pukul 22:30 WIB
Penulis : @ Arda Dinata
Terjalinnya persahabatan yang baik pada manusia selama hidupnya di dunia, maka akan mengantarkan terjalinya persahabatan yang baik pula terhadap orang yang telah meninggal, nantinya. Dalam arti lain, persahabatan/hubungan orang yang masih hidup dan telah meninggal itu masih terus berlangsung, walaupun tidak berhubungan secara fisik.
Dari Sofyan, dari seorang yang mendengar dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah bersabda, “Amalan orang yang masih hidup berpengaruh terhadap orangtuanya yang telah meninggal. Jika yang masih hidup berbuat baik, maka yang telah mati akan memuji Allah dan merasa gembira. Jika yang masih hidup berbuat jelek, maka orangtuanya yang telah meninggal dunia berdo'a : Ya Allah, jangan Kau matikan dia sebelum Kau beri hidayah.”
Nabi SAW bersabda, "Di dalam kuburnya, orang yang telah mati merasa terganggu sebagaimana ia merasakannya ketika ia masih hidup.”
“Gangguan macam mana itu?” tanya sahabat.
“Seorang yang telah mati tak bisa melakukan dosa, tidak bisa bertengkar, bermusuhan, dan tidak bisa menyakiti tetangga. Hanya saja bila kamu bertengkar dengan seseorang, pastilah orang tersebut akan mencacimu dan mencaci kedua orangtuamu. Saat itulah orangtuamu yang telah meninggal akan terganggu oleh perlakuan buruk itu. Sebaliknya, mereka yang telah mati merasa gembira ketika ia mendapatkan kebaikan yang menjadi hak mereka.”
Di bagian lain, dijelaskan juga dari Abdul Aziz bin Suhaib bahwa ia mendengar hadits dari Anas bin Malik. Lewatlah iring-iringan jenazah yang lain. Mereka menyebut-nyebut kejelekannya. Nabi bersabda, “Pastilah akan mendapatkannya.”
“Apa yang pasti, wahai Rasul?” tanya Umar.
“Yang kalian puji kebaikannya pastilah mendapat surga. Demikian juga yang kalian sebut kejelekannya, pastilah mendapat mereka.” Nabi melanjutkan sabdanya, “Kalian akan menjadi saksi Allah di bumi.”
Di bagian lain, dari Abdul Aswad Addaili : Saat itu aku duduk di dekat Umar. Nabi bersabda, “Seseorang yang mati lantas ada tiga orang bersaksi akan kebaikannya, maka pastilah ia mendapat surga.”
“Kalau cuma dua orang, wahai Rasul?” tanyaku.
“Ya, meskipun cuma dua orang.”
Kami tidak bertanya bila yang menjadi saksi hanya satu orang.
Kalau kita cermati dari beberapa keterangan di atas, terlihat jelas perlunya terjalin persahabatan yang harmonis di dunia, yang mampu menolong “sahabatnya” bila telah meninggal dunia. Inilah jalinan persahabatan dengan orang yang telah meninggal dunia. Melihat betapa pentingnya bentuk jalinan persahabatan sampai seseorang meninggal ini, maka sahabat yang masih hidup ini berpengaruh terhadap kesaksian atas amal sahabatnya yang telah meninggal itu.
Dari Amir bin Rabi’ah, Nabi bersabda, “Jika seseorang meninggal dan Allah mengetahui kejelekannya sedang orang-orang mengatakannya baik, maka Allah berfirman kepada Malaikat: Kalian jadi saksi bahwa Aku terima hamba-Ku atas hamba-Ku yang mati. Kuampuni dia dengan sepengetahuan-Ku."
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan @ Arda Dinata sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.