HR. At-Tirmidzi : "Pena (takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering, apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan."
Alamat Akun
http://redaksi.kotasantri.com
Bergabung
2 Februari 2009 pukul 14:07 WIB
Domisili
Bandung - Jawa Barat
Pekerjaan
Cyber Mujahid
KotaSantri.com merupakan singkatan dari Komunitas Santri Virtual yang terdiri dari gabungan 3 elemen kata, yakni Kota, Santri, dan .com. Kota merupakan singkatan dari KOmuniTAs, yang artinya tempat, sarana, atau wadah untuk berkumpul. Santri merupakan sebutan bagi netter yang ingin berbagi dan menuntut ilmu melalui dunia maya (internet). Sedangkan .com adalah …
http://kotasantri.com
Tulisan Redaksi Lainnya
Si Fakir yang Dermawan
19 Maret 2013 pukul 18:00 WIB
Sebutir Peluh dan Setetes Airmata
17 Maret 2013 pukul 15:00 WIB
Menjadi Muslimah Berprestasi
14 Maret 2013 pukul 14:00 WIB
Suami Memasak, Kenapa Tidak?
2 Maret 2013 pukul 14:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Risalah

Rabu, 20 Maret 2013 pukul 21:00 WIB

Bahagia di Dunia, Abadi di Akhirat

Penulis : Redaksi KSC

Janganlah memandang remeh kehidupan di dunia. Kehidupan di dunia, selain menjadi ladang bagi orang-orang beriman untuk menuai hasilnya di akhirat, pun adalah sesuatu yang pantas dinikmati. Begitu banyak kebahagiaan hidup di dunia ini yang bisa diraih oleh seorang muslim. Kebahagiaan dunia, tidaklah berarti mengabaikan iman dan ketaatan seorang muslim. Demikian halnya, penderitaan dan kepapaan hidup tidaklah identik dengan keimanan dan ketaatan jalan hidup. Seorang muslim, yang teguh dalam keimanannya, yang kokoh dalam menjalankan agamanya, akan meraih kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

Kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat bukanlah kondisi yang saling bertentangan bagi seorang muslim. Kebahagiaan di akhirat yang abadi, adalah kelanjutan kebahagiaan hidup di dunia. Karena itulah, betapa malangnya orang-orang yang meluputkan kebahagiaan di dunia, dimana hidupnya terasa menyengsarakan dan dalam kesempitan, sementara kebahagiaan akhiratpun luput darinya.

Hanya saja, ukuran kebahagiaan orang beriman, tidaklah diukur dengan apa yang dirasakan oleh raganya semata. Ukuran duniawi yang materialistis tidak membatasi ukuran kebahagiaan iman yang tidak terhingga. Jika ukuran kebahagiaan pada harta adalah mengumpulkannya dan lalu memuaskan kebutuhan raganya semata, maka sangatlah terbatas kebahagiaan itu. Sebab, raga manusia ada batasnya, batas kemampuan menikmatinya, dan batas waktunya yang sesaat dan sekedap. Nikmatilah makanan lezat, raga hanya merasakannya sesaat dan perutpun menampung dengan ukuran terbatas. Itulah ukuran kebahagiaan dunia. Seperti itu pulalah kebahagiaan duniawi lainnya. Sesaat dan terbatas.

Namun, ukuran kebahagiaan seorang beriman jauh melampaui apa yang dirasakan raga dan ukuran duniawi lainnya. Kebahagiaan orang beriman tatkala berusaha dan memperoleh harta kekayaan, adalah ketika ia mendistribusikannya. Harta yang dimiliki, menjadi sarana kebaikan yang dapat dirasakan manfaatnya oleh orang lain. Kekuasaan yang dicapainya, menjadi sarana untuk menegakkan keadilan dan mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Begitulah seseterusnya, sebagaimana yang dinyatakan oleh asy-syahid Sayid Quthub : "Ketika kita memberi, kita menerima lebih banyak."

Itulah ukuran hati yang dipenuhi iman. Kian banyak memberi, semakin lapang yang ia rasakan. Berbeda dengan ukuran hati yang ditakar oleh duniawi. Kian banyak meraih dan menerima, semakin kurang yang ia rasakan. Karena itu, betapa sengsaranya hidup ini, bila kebahagiaan dan kesengsaraan ditakar oleh ukuran-ukuran duniawi. Kehinaanlah yang kita peroleh bila kehormatan kita sandarkan pada harta dan kekuasaan. Namun, kehormatan akan kita peroleh bila kita sandarkan pada keikhlasan. Kian banyak amal shalih yang kita lakukan, kian banyak manfaat yang kita tebar, maka panenpun akan peroleh dari Allah SWT berupa kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Benarlah apa yang dinyatakan Rasulullah SAW : "Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi sesama."

Kebahagiaan di dunia adalah terasakannya ketentraman hidup, ketenangan dalam mengarungi jalan hidup, serta semakin bertambahnya keyakinan atas kehidupan yang hendak dicapainya. Kebahagiaan itu, bukan hal yang abstrak atau angan-angan, tetapi terwujud dalam kehidupan pribadinya, dalam rumah tangganya, dalam kehidupan bermasyarakat. Ketenangan ini, bukan kondisi yang statis, tanpa usaha, tanpa perjuangan dan proses, atau dicapai dengan sikap pasrah yang salah. Bukanlah tawakal bila tanpa ikhtiar. Tidaklah disebut sabar bila tanpa jihad (usaha keras dan sungguh-sungguh). Semua usaha dan proses itu, justru sesuatu yang malah dinikmati pula oleh orang-orang beriman.

"Allah itulah yang memberikan ketentraman dalam hatinya orang-orang yang beriman, supaya keimanan mereka itu bertambah dari keimanan yang telah ada." (QS. Al-Fath : 4). Dan firmanNya : "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih itu akan diberi petunjuk oleh Rabb mereka dengan sebab keimanan mereka." (QS. Yunus : 9).

Lalu, adakah kebahagiaan yang Allah tanamkan ke dalam hati orang beriman itu hanya bersifat ruhaniah semata? Tidak, bahkan Allah memberikan segala kebahagiaan hidup di dunia ini bagi orang-orang beriman dan beramal shalih, sebagaimana yang telah dinikmati dan dirasakan oleh generasi Islam sebelumnya. Kemakmuran hidup dalam cara hidup yang bersahaja. Ketentraman hidup ditengah perjuangan (jihad) yang tidak pernah henti. Saat itu, peradaban Islam menjadi pemimpin Ummat manusia, bahkan kekhilafahan Islam mampu tegak selama lebih dari 14 abad.

"Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih bahwa Dia akan mengangkat mereka sebagai khalifah (sebagai pemegang kekuasaan) di bumi ini, sebagaimana Dia telah menjadikan khalifah orang-orang sebelum mereka itu. Allah juga akan meneguhkan kedudukan agama yang diridhai olehNya untuk mereka serta mengganti keadaan mereka sesudah adanya perasaan takut dengan aman tentram." (QS. An-Nur 55).

Janji Allah itu telah wujud pada masa lalu, dirasakan oleh orang-orang beriman yang telah berlalu. Dan janji itu, tetap berlaku bagi orang-orang beriman, beramal shalih dan senantiasa berjihad di jalanNya hingga akhir zaman.

Swadaya-20/060504

http://kotasantri.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Redaksi KSC sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Cybi Newsletter | Buletin Bulanan
Situs ini berisi berbagai tulisan menarik yang bernuansa anak muda. Walau demikian, situs ini tetap dapat memberikan siraman rohani dan memperkaya wawasan Anda, ketika membaca dan menekuninya.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.2004 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels