|
HR. At-Tirmidzi : "Ya Allah, sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada Engkau dari hati yang tidak pernah tunduk, dari do'a yang tidak didengar, dari jiwa (nafsu) yang tidak pernah merasa puas, dan dari ilmu yang tidak bermanfaat."
|
|
|
http://www.ardadinata.web.id |
|
http://facebook.com/ardadinata |
|
http://twitter.com/ardadinata |





Rabu, 12 September 2012 pukul 11:15 WIB
Penulis : @ Arda Dinata
Bersatu berarti menjadi satu; berkumpul atau bergabung menjadi satu. Sehebat apapun kekuatan, bila tercerai berai, niscaya akan menjadi sangat lemah dan mudah diperdaya. Keadaan suatu kaum tergantung dirinya, bila mereka bodoh, maka akan mudah ditipu. Bila ia lemah, maka akan mudah ditindas. Bila kita tercerai berai, maka akan mudah dijajah.
Untuk itu, silakan renungkan sendiri nasib umat Islam di negeri ini, yang katanya merupakan umat Islam terbesar di dunia? Buktinya, kita bisa melihat dan merasakan sendiri keadaan ekonomi, sosial, budaya, politik, ternyata kita demikian lemah sehingga dikuasai oleh pihak yang tidak menyukai kita.
Bagai sebuah lidi yang kecil mungil, bila bergabung dan diikat kuat menjadi satu, niscaya akan bisa menyapu jalanan, bahkan air selokan sekalipun atau mungkin bisa juga dipakai memukul dan mengusir seekor anjing! Artinya, bila kita, yang lemah ini mau saja bertekad untuk bersatu-padu membangun kebersamaan, niscaya akan lahir kekuatan yang akan bermanfaat, tidak saja bagi kita sendiri, tapi juga bagi bangsa ini. Dampaknya, bila lahir keadilan, maka akan lahir pula kasih sayang dan kesejahteraan.
Firman Allah SWT, “Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujuraat : 10). Ukhuwah Islamiyah tumbuh dari akar akidah Islam. Dan akidah Islam ini akan menumbuhkan tunas-tunas persaudaraan Islam. Di antara upaya yang bisa mulai kita lakukan, demi suksesnya sebuah ukhuwah ini adalah sebagai berikut.
1. Komitmen membuat bangunan.
Begitu banyak bahan bangunan yang sangat lengkap di etalase toko (khusus) penjual bahan bangunan. Tapi, ia tidak dapat membentuk sebuah bangunan indah, tidak kokoh, padahal semuanya telah lengkap. Penyebabnya adalah karena memang tak ada komitmen untuk menjadi sebuah bangunan.
Kondisi itu, akan berbeda setelah ada tekad untuk membangun rumah yang dirancang oleh ahlinya, lalu secara bertahap bahan bangunan tersebut tersusun dengan rapi pada tempat yang telah direncanakan, saling menguatkan dan memperindah, sehingga hasilnya adalah sebuah bangunan kokoh, indah, dan penuh manfaat.
Dengan kata lain, tidak akan pernah ada persatuan yang kokoh, indah, dan penuh manfaat, sebelum di antara umat ada tekad yang kuat, mendalam, dan disertai dengan konsep perencanaan yang matang, serta pelaksanaan yang sungguh-sungguh lagi konsisten, istiqamah yang diselimuti dengan kesabaran dan pengorbanan yang tulus demi kesuksesan bersama.
Untuk itu, pada diri kita harus ada semangat bergelora berupa keinginan bersatu dan mempersatukan umat, selalu terbayang kemaslahatan yang besar, tidak hanya bagi diri sendiri, tapi juga bagi generasi mendatang. Mulailah dengan persiapan ilmu yang memadai untuk berproses mempersatukan umat dan siap dengan pengorbanan harta, tenaga, maupun waktu. Tanpa kesadaran yang bergelora seperti itu pada setiap diri umat, maka memang tipis harapan ukhuwah ini akan terwujud.
2. Perbedaan adalah bagian kekuatan.
Kekuatan akan muncul, manakala ditopang oleh komponen-komponen yang membentuk sebuah kekuatan itu sendiri. Salah satu komponen itu, tentu memiliki perbedaan-perbedaan yang satu sama lainnya saling mendukung terciptanya sebuah kekuatan.
Ibarat sebuah bangunan rumah yang kokoh, maka ia terbangun oleh adanya perbedaan-perbedaan bahan bangunan. Ada pasangan batu, bata, adukan semen, besi, kayu, genteng, dan lain-lain yang membuat dirinya berdiri kokoh. Coba kita bayangkan, bila bangunan itu hanya berupa tumpukkan batu, bata, atau adukan semen saja, maka bangunan tersebut akan mudah roboh dan tidak terlihat indah.
Perbedaan adalah hiasan kehidupan dan membantu orang-orang yang hidup. Ia merupakan fitrah manusia dan bagian terpenting dari beragam sisi primer kehidupan. Kita bisa melihat bahwa perbedaan itu akan terlihat indah, manakala kita dapat menyatukannya sesuai aturan dan nilai-nilai Islam.
Oleh karena itu, sudah seharusnya era pemikiran manusia sekarang ini adalah era kematangan, karena Islam telah menjadi penutup risalah langit yang dikirim kepada manusia, ketika manusia telah mencapai taraf kedewasaan. Islam memandang perbedaan sebagai wujud kemahakuasaan Allah atas ciptaan-Nya dan rahmat yang Allah turunkan bagi makhluk-Nya. Dengan perbedaan, kehidupan menjadi dinamis dan tidak stagnan, karena akan mengantarkan sebuah kompetisi dari masing-masing elemen untuk berbuat yang terbaik.
3. Jangan menonjolkan diri.
Setiap kita memiliki aset dalam membentuk suatu kekuatan umat. Karena setiap kesuksesan yang kita dapatkan pada hakekatnya terdapat kontribusi peran dari orang lain. Untuk itu, sangat bijaksana seandainya di antara kita dalam membangun kesatuan umat ini, tidak berusaha saling menonjolkan diri. Biarlah nama kita tidak disebut, asalkan kita benar-benar telah berperan dalam menyukseskan kepentingan umat. Karena balasan Allah SWT itu tidak akan keliru lagi tertukar.
Sungguh indah, seandainya kita bisa mencontoh kerjasama dari sebuah bangunan yang kokoh dan indah. Misalnya, bagaimana relanya sebuah batu menjadi pondasi yang tertimbun di tanah untuk mengokohkan bangunan, pasangan bata-bata yang membentuk sekat-sekat bangunan dengan diplester adukan pasir dan semen agar terlihat indah, dan lain-lain. Begitu seterusnya sampai ke bagian atas bangunan (genteng), mereka tidak saling menonjolkan diri bahwa dirinya yang paling berjasa, tetapi mereka jelas-jelas ikhlas dan saling melengkapi demi suksesnya sebuah bangunan yang kokoh dan indah. Sungguh luar bisa, jika umat Islam bisa mencontoh dari sikap komponen-komponen yang membentuk sebuah bangunan tersebut.
4. Diri bagian dari kesuksesan orang lain.
Sungguh beruntung bagi mereka yang memiliki pikiran dan tindakan bahwa dirinya telah berusaha maksimal untuk dapat menjadi jalan kesuksesan bagi dirinya dan orang lain. Kesuksesan yang sejati adalah apabila orang lain merasakan nikmat dari kesuksesan yang kita raih. Dalam arti lain, diri kita berusaha untuk menjadi bagian dari kesuksesan orang lain.
Kita harusnya, berbahagia apabila orang lain menjadi sukses. Bukan sebaliknya, kita berusaha menghalang-halangi terhadap kesuksesan orang lain. Karena sungguh tidak berarti, bila kesuksesan yang kita dapatkan itu hanya dapat dirasakan oleh diri sendiri. Sukses yang hakiki, tidak lain adalah kesuksesan bersama. Lebih bagus lagi, bila diri kita ini menjadi bagian dari kesuksesan orang lain.
5. Mulai dari diri sendiri.
Perilaku mulai dari diri sendiri adalah sesuatu yang mudah dan aman dilakukan setiap orang, daripada perilaku menyuruh kepada orang lain. Memulai dari diri sendiri, juga berarti ia memiliki inisiatif yang tepat, sebelum memproyeksikannya kepada orang lain. Artinya, kegiatan menyeru kebaikan (baca : membuat umat bersatu) kepada orang lain dianggap efektif, bila dimulai dengan menyeru berbuat baik kepada diri sendiri terlebih dahulu.
Jangan harap kesuksesan itu tercipta, bila kita hanya menuntut pada pihak lain. Padahal diri kita, sama sekali tidak memulai sendiri dalam hal membangun kesuksesan tersebut. Untuk itu, jangan kita menuntut orang lain untuk membentuk umat bersatu tanpa diawali dari diri sendiri untuk memulainya. Jadi, umat bersatu akan lebih cepat terwujud, bila setiap kita memulai mewujudkannya dari diri sendiri, memulai dalam hal-hal kecil, dan melakukannya dari saat ini.
Wallahu a’lam.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan @ Arda Dinata sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.