Ibn. Athaillah : "Di antara tanda keberhasilan pada akhir perjuangan adalah berserah diri kepada Allah sejak permulaan "
Alamat Akun
http://saif.kotasantri.com
Bergabung
12 September 2010 pukul 22:19 WIB
Domisili
Ponorogo - Jawa Timur
Pekerjaan
Mahasiswa
Tulisan Muhammad Lainnya
Indahnya Kesyukuran
7 Maret 2011 pukul 09:45 WIB
Oh Allah, You Know Me So Well
28 Februari 2011 pukul 13:00 WIB
Ada Apa dengan Masalah? Dan Kenapa Harus Takut?
23 Februari 2011 pukul 11:22 WIB
Menanti Fajar
12 Desember 2010 pukul 18:10 WIB
Kapan Ya Jadi Layangan?
21 November 2010 pukul 23:30 WIB
Pelangi
Pelangi » Risalah

Rabu, 16 Maret 2011 pukul 11:45 WIB

Pergeseran Makna Insya Allah

Penulis : Muhammad Aris Saifuddin

Kata Insya Allah tentu sangat populer di telinga kita. Kata ini biasa kita gunakan ketika kita berucap janji kepada seseorang. Namun kini kata Insya Allah telah berubah makna menjadi kata penolakan secara halus untuk tidak memenuhi janji tersebut. Fakta yang terjadi di masyarakatpun tidak sedikit, malah banyak. Sampai-sampai timbul pertanyaan ketika kita mengucapkannya, "Lah kok Insya Allah sih?" Mungkin sering kita mendengarkannya, karena kata tersebut terlalu sering digunakan sebagai tameng untuk tidak menepati janji kepada seseorang.

Tentu saja kalimat pertanyaan tersebut mengundang pertanyaan, apa makna dari kata insya Allah yang sebenarnya?

Dalam firman-Nya, Allah SWT menegaskan betapa pentingnya penggunaan kata Insya Allah, "Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu : 'Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali dengan menyebut (Insya Allah).' Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah : 'Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini.'." (QS. Al-Kahfi : 23-24).

Secara bahasa, kata Insya Allah mempunyai arti jika Allah menghendaki atau jika Allah mengizinkan. Kata Insya Allah berarti penyerahan dari diri kita kepada Allah akan hasil akhir dari segala usaha kita, karena sekeras apapun dan secermat apapun usaha kita, ujungnya adalah tergantung apakah Allah menghendaki atau tidak.

Bila seseorang dari kita berkata, "Besok saya akan datang ke rumah kamu untuk membicarakan pekerjaan." Orang itu tidak mempunyai pikiran kalau ia akan tetap hidup samapai besok, begitu juga dengan orang yang akan ditemui. Kalaupun ia besok bisa pergi, mungkin waktu dan tempatnya berubah, atau mungkin esoknya orang itu tidak berkemampuan (sakit, bepergian, dan lain-lain). Jadi, manusia tidak kuasa menentukan kelima unsur itu, semua dikembalikan kepada yang mengaturnya, yaitu Allah.

Adapun sesuatu yang telah terjadi, tidak perlu dikaitkan dengan kehendak Allah jika maksudnya untuk ta'lil (menyatakan sebab). Misalnya ada yang berkata bahwa bulan April lalu telah dimulai pada hari kamis, Insya Allah. Maka sebenarnya kita tidak perlu menggunakan kata Insya Allah, karena bulan April sudah berlalu dan sudah diketahui. Jika seseorang berkata, "Aku mengenakan pakaianku, Insya Allah." sedangkan ia memang memakainya, maka sebaiknya tidak perlu menggunakan kata Insya Allah, karena itu sesuatu yang telah berlalu dan selesai. Kecuali jika tujuannya untuk beralasan atau dia memakainya atas kehendak Allah, maka ini tidak apa-apa.

Fenomena yang terjadi di masyarakat kita sekarang, kata Insya Allah hanya digunakan sebagai legitimasi. Di masyarakat kita, sudah tertanam pengertian yang salah mengenai penggunaan kata Insya Allah. Menurut mereka, Insya Allah = gak janji ya. Mereka menggunakan kata Insya Allah sebagai cara untuk tidak mengerjakan sesuatu. Dapat diambil contoh ketika kita diundang, kita menjawab dengan menggunakan kata Insya Allah bukan karena Allah-lah yang punya kuasa, tetapi sebagai cara berbasa-basi untuk tidak memenuhi undangan tersebut. Segampang itukah kita beralasan, kita tidak tahu apakah kita sudah cukup berusaha atau tidak. Tanpa sengaja kita telah menggunakan Allah sebagai tameng, kita gunakan Insya Allah sebagai alasan. Na’udzubillah.

Kata Insya Allah berarti kita mengatakan bahwa kita akan melaksanakan janji itu dengan sekuat tenaga dan hanya udzur syar’i (sakit, bepergian, atau mungkin juga kematian) saja yang membuat kita membatalkannya. Jadi selama kita tidak udzur, janji yang kita ucapkan dengan kata Insya Allah, maka WAJIB menunaikannya.

Saat kita menggunakan kata Insya Allah, maka seharusnya 100% usaha kita kerahkan untuk memenuhi agar janji tersebut terpenuhi, tapi disaat yang bersamaan kita harus yakin 100% bahwa apapun usaha kita, Allah-lah yang berhak menentukan hasil akhirnya. Hemat kata, Insya Allah merupakan bentuk penyerahan diri sekaligus perjuangan yang sempurna.

Oleh karena itu, marilah kita ucapkan Insya Allah dengan sepenuh hati bahwa apa yang kita ucapkan digunakan sebagai alat pemacu semangat dalam berusaha. Jangan kita ucapkan kata Insya Allah ketika memang tidak bermaksud untuk memenuhi permintaan seseorang. Lebih baik kita mengucapkan mengapa tidak bisa. Dan ucapkan Insya Allah apabila kita berjanji dan berusaha keras memenuhi janji itu.

Wallahu a'lam.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Muhammad Aris Saifuddin sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Arry Rahmawan | Penulis dan Trainer
Subhanallah, akhirnya KotaSantri.com semakin berkembang. Artikelnya bagus dan dapat menambah wawasan kita semua. Maju terus KotaSantri.com... ^^
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1023 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels