|
Ali Bin Abi Thalib : "Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan, tapi ilmu bertambah apabila dibelanjakan."
|


Rabu, 5 Agustus 2009 pukul 17:05 WIB
Penulis : ilham muhammad
Jalan Soekarno Hatta di hari Minggu begitu ramai ketika saya melintas di sana. Angin sepoi-sepoi yang berhembus menambah rasa kantuk saya saat itu. Hanya saja, saya sedang menaiki sebuah motor, dan jika saya tertidur, pasti tahu apa yang akan terjadi. Ya, minimal jatuh atau tertabrak mobil.
Suasana di jalan begitu memusingkan, terutama bagi saya yang kurang suka jalan-jalan. Suara klakson mobil begitu banyak seolah menutupi suara yang lain. Ditambah lagi dengan sepeda motor yang jumlahnya begitu banyak mencoba menyalip kendaraan lewat kanan lah, lewat kiri lah. Semakin menambah kepusingan yang melanda diri ini.
Begitu banyak mobil mewah seperti Mercedes-Benz, BMW, Ferari, bahkan hingga Toyota, Daihatsu, yang walaupun berasal dari Jepang, tapi mobil-mobilnya merupakan yang paling mewah di antara jajaran produk tersebut. Dan juga bermacam-macam motor yang tak kalah mewah, seperti CBR, Minerva, bahkan hingga Harley Davidson.
Kendaraan mewah tersebut begitu berkilauan, suara-suara mesin yang berfungsi dengan mulus, selalu saja membuat orang yang melihatnya iri. Iri ingin memiliki mobil tersebut.
***
Dunia, memang sebuah tempat yang seringkali melalaikan bagi siapa saja. Dunia tidak akan pandang bulu untuk menjadikan siapa pun korban kefanaannya. Seorang pemabuk, seorang pelajar, seorang polisi, bahkan seorang ulama pun bisa menjadi hamba dunia.
Sungguh dunia ini merupakan kumpulan perhiasan yang bisa melenakan manusia dari tujuan asalnya. Perhiasan itu bisa berupa harta, pangkat, dan bahkan wanita.
Di zaman era globalisasi ini atau lebih pantas disebut zaman edan, orang-orang benar-benar sudah dipengaruhi oleh hal-hal tersebut. Seolah tiada tujuan yang lebih agung dari itu, manusia hingga mati-matian ingin mendapatkan perhiasan-perhiasan dunia itu. Mereka rela kerja siang sampai malam, dari malam sampe siang lagi untuk mendapatkannya. Dan tidak jarang hingga melalaikan kewajiban mereka untuk beribadah hanya karena Allah semata.
Kalau mau jujur, manusia saat ini -dan mungkin termasuk kita- hidupnya tidak memiliki tujuan hidup yang mulia, manusia kini hidup hanya untuk gaya hidup dan hidup gaya. Apakah manusia sudah lupa tujuan hidup yang sesungguhnya, seperti yang difirmankan Allah SWT.
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepadaKu.” (QS. Adz-Dzaariyaat : 56).
Manusia kini benar-benar melupakan hakikat kehidupan yang telah diajarkan oleh Allah dalam hidupnya, bahwa hidup ini adalah perlombaan amal.
“Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya? Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk : 2).
Sungguh merugilah manusia, kita mengumpulkan sebanyak-banyaknya harta dunia tanpa memikirkan akhirat kita. Kita merasa bahwa dunia inilah yang penting. Lalu, bagaimana manusia bisa lupa akan firman Allah SWT.
"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaanNya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadiid : 20).
Sebuah ilustrasi yang saya ceritakan di atas (tentang jalan Soekarno-Hatta) merupakan sebuah ilustrasi nyata tentang kehidupan manusia saat ini. Seharusnya kita malu sebagai manusia atas apa yang kita lakukan.
Kita sering bangga dengan apa yang kita punya, kita bangga dengan mobil yang berkilau. Tapi, apakah mobil itu bisa menyelamatkan kita di akhirat nanti? Apakah dengan segala kemewahan yang kita punya, akan menambah berat timbangan kita di akhirat?
Astaghfirullahal ’adziim...
Ampuni kami, ya Allah.
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)?” (QS. Al-Hadiid : 16).
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan ilham muhammad sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.