|
HR. At-Tirmidzi : "Pena (takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering, apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan."
|
|
|
http://arryrahmawan.net |
|
contact@arryrahmawan.net |
|
arry.rahmawan@gmail.com |
|
|
arry_tiui09 |
|
arry.rahmawan@windowslive.com |
|
arry.rahmawan@gmail.com |
|
http://twitter.com/arryrahmawan |





Sabtu, 23 November 2013 pukul 20:00 WIB
Penulis : Arry Rahmawan
Apa yang kita rasakan saat suatu saat kita bertemu dan berpapasan dengan seseorang (apalagi yang sudah kita kenal), memasang wajah datar? Apa yang kita rasakan? Mungkin bagi mereka yang cuek, itu biasa-biasa saja. Tetapi bagi mereka yang peka, ada suatu rasa yang tidak enak pastinya. "Jangan-jangan dia marah ya?"
Kemudian bandingkan dengan kondisi sebaliknya. Jika suatu saat kita berpapasan dengan orang, yang bahkan kita tidak kenal sekalipun, kemudian dia memberikan senyuman kepada kita. Rasanya, wah. Enak. Nyaman. Bahkan kita tidak sungkan untuk memberikan senyuman juga kepada dia.
Ada lagi kalau dalam kasus bisnis misalnya. Waktu itu dari staf CerdasMulia ada yang memasukkan proposal ke sekolah-sekolah. Staf yang satu mendapatkan 3 deal, sementara yang satu lagi tidak mendapatkan deal sama sekali dari 5 kesempatan yang dicoba. Ternyata setelah ditelusuri, yang membedakan hanyalah kemurahan dalam memberikan senyuman. Tentu saja staf CerdasMulia yang mampu menggolkan proyek itu mendapatkan succession fee yang lumayan. Berawal dari sebuah senyuman!
"Berbagi senyuman adalah cara paling mudah untuk membahagiakan dan menghilangkan sedih orang lain."
"Berbagi senyuman adalah salah satu cara yang terindah untuk membuat diri dan orang lain menjadi pribadi yang selalu bahagia."
"Jika ingin mengetahui tingkat kebahagiaan seseorang, lihatlah berapa sering dia tersenyum dan berbagi senyuman kepada orang lain."
Tentu saja kita tidak mengetahui bagaimana situasi dan kondisi perasaan orang lain saat itu. Begitu pula kita tidak bisa berharap bahwa orang lain mengetahui apa perasaan kita. Tetapi, justru dengan senyuman itu, selain dapat memadamkan ketidaknyamanan, juga dapat membuat diri sendiri lebih merasa senang. Bayangkan ini. Siapa tahu, berawal dari sebuah senyuman (yang menurut kita mungkin tidak ada artinya), ternyata memiliki sejuta makna bagi orang lain. Sebagai pelaku bisnis, saya sering sekali melihat dampak sebuah senyuman tulus yang akhirnya mampu menciptakan sebuah kerja sama strategis dalam jangka waktu yang sangat panjang.
"Tersenyumlah dari Hati ke Hati. Senyuman palsu akan mudah terbongkar, tetapi senyum yang tulus akan memancarkan aura kebahagiaannya tersendiri."
Maka, selama kita masih bisa tersenyum, berikanlah senyuman itu kepada dunia. Jangan sampai kita baru menyesalinya ketika kita sudah tidak dapat membagi senyuman kita lagi.
"Setiap 1 menit marah yang kita keluarkan, maka di situ pula kita kehilangan 60 detik untuk tersenyum." Bukan berarti tidak boleh marah, tetapi seringkali kita lupa bahwa sebuah senyuman dapat menjadi cara marah yang paling elegan.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Arry Rahmawan sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.