QS. Luqman:17 : "Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). "
Alamat Akun
http://arry_rahmawan.kotasantri.com
Bergabung
4 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Bogor - Jawa Barat
Pekerjaan
Creative Writer and Blogger
Arry Rahmawan lahir di Tangerang, 5 Desember 1990. Mahasiswa pascasarjana Universitas Indonesia. Saat ini kesibukannya sebagai penulis di http://arryrahmawan.net, berbagai jurnal, majalah, buletin, dan telah menerbitkan 5 buah buku. Pendiri dan direktur dari CerdasMulia Leadrrship and Training Center (cerdasmulia.com) ini juga aktif sebagai pembicara seminar nasional di berbagai daerah di …
http://arryrahmawan.net
contact@arryrahmawan.net
arry.rahmawan@gmail.com
arry_tiui09
arry.rahmawan@windowslive.com
arry.rahmawan@gmail.com
http://twitter.com/arryrahmawan
Tulisan Arry Lainnya
Memberikan Impact dengan Aksi
12 September 2013 pukul 20:00 WIB
Waspada dengan 3 Ketakutan
7 September 2013 pukul 22:00 WIB
Kebiasaan Berwacana
6 September 2013 pukul 20:00 WIB
Mengingat Usia dalam Berkarya
31 Agustus 2013 pukul 20:20 WIB
Memulai Berlatih Menulis
30 Agustus 2013 pukul 22:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Rabu, 18 September 2013 pukul 20:00 WIB

Why Not Now?

Penulis : Arry Rahmawan

Pekan ini, saya mulai mencoba untuk merutinkan diri berolahraga, dengan bermain badminton. Pokoknya setiap pekan, saya mencoba bagaimana caranya bisa menjadi berkeringat, karena ternyata berolahraga dapat membuat diri kita menjadi lebih segar dan bugar.

Tulisan kali ini bukanlah untuk membahas permainan badminton saya (yang biasa saja dan cuma buat santai tentunya), namun adalah awal mula kemudian merutinkan bermain badminton ini.

Sebagai seorang yang masih terhitung muda, 22 tahun, saya seringkali merasa bahwa diri ini belum waktunya untuk rajin berolahraga. Dua hal yang paling penting adalah belajar dan bekerja. Kesibukan sebagai mahasiswa S2 dan pemimpin sebuah lembaga training membuat saya seringkali lupa untuk berolahraga, padahal kita semua tentu sama-sama tahu bahwa olahraga itu penting.

Sampai pada suatu saat, saya bertemu dengan seorang teman yang (menurut saya) sangat sehat dengan kehidupan yang juga happy. Dia mengingatkan saya pentingnya olahraga rutin, minimal sepekan sekali.

“Ya sih, sebenernya gue juga pengen olahraga, tapi gue sibuk banget karena banyak hal yang harus gue kerjakan. Mungkin nanti kali ya, kalau gue udah lulus kuliah, bisnis gue udah bisa ditinggal, gue akan mulai membiasakan olahraga.”

Teman saya ini hanya menjawab singkat, “Why not now?”

Hah? Saya tertegun. Saya pun kemudian berpikir, “Ya juga sih, kenapa menunggu nanti? Bukannya saya bisa justru mewajibkan olahraga bersama di lembaga pelatihan yang saya pimpin? Kenapa harus menunggu nanti ya? Bagaimana kalau saya sakit duluan?”

Sejak itulah kemudian saya sadar dan merutinkan olahraga. Namun ada satu hal yang menarik yang saya pelajari, yaitu pertanyaan, “Why not now?”

Sewaktu kuliah S1 dulu, saya pernah banyak ketemu dengan teman-teman mahasiswa seusia saya yang lagi idealis-idealisnya. Semangat untuk mengabdi kepada masyarakat, beberapa semangat untuk berbisnis, yang lainnya semangat mengejar prestasi. Namun banyak dari mereka yang juga mirip-mirip dengan saya berbicaranya.

“Gue nanti pengen banget deh bikin sekolah, ngasih beasiswa untuk anak-anak gak mampu, membuka lapangan pekerjaan, membuka bisnis, tapi nantilah setelah gue kuliah dan gue mau nabung dulu, kerja dulu 10 tahun.”

“Why not now?”

Saya jadi ingat dengan diri saya sendiri 3 tahun yang lalu.

“Saya ingin menjadi seorang penulis yang menginspirasi. Namun saya mau belajar dulu ah, mau kursus, mau tahu dulu teori menulisnya (karena waktu itu tulisan saya buruk sekali). Baru nanti setelah saya lulus kursus nulis, saya mau langsung nulis.”

Salah? Tidak, tapi “Why not now?” Kenapa itu nggak dilakukan sekarang? Akhirnya ya saya coba-coba juga menulis di blog, menulis buku, ternyata di usia 22 tahun saya jadi sering diminta untuk menjadi pembicara dalam berbagai workshop menulis dan diminta menulis oleh beberapa penerbit besar.

Jadi, jika Anda memiliki sesuatu yang ingin diwujudkan, asa, harapan, cita, dan impian, benarkah hal itu memerlukan penundaan waktu 1,5, bahkan hingga 10 tahun bagi Anda untuk memulainya?

Why not Now?

http://arryrahmawan.net

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Arry Rahmawan sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Eko Prasetyo | Editor Bahasa
Tulisan-tulisan di KotaSantri.com bagus dan sering dijadikan acuan oleh banyak pembaca. Saya memahaminya karena kebetulan juga berkecimpung di media serta punya banyak teman pembaca KotaSantri.com.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.2895 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels