Sirah Umar, Ibnu Abdil Hakam : "Aku akan duduk di sebuah tempat yang tak kuberikan sedikit pun tempat untuk syaitan."
Alamat Akun
http://bayugawtama.kotasantri.com
Bergabung
5 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Tangerang - Banten
Pekerjaan
Social Worker
http://twitter.com/bayugawtama
Tulisan Bayu Lainnya
Yang Bersedih di Hari Raya
12 Agustus 2013 pukul 20:00 WIB
Semur Tahu Buatan Ibu
11 Agustus 2013 pukul 22:00 WIB
Satu Blok di Tepi Masjid
6 Agustus 2013 pukul 21:00 WIB
Magnet Silaturrahim
3 Agustus 2013 pukul 23:00 WIB
Sepertinya, Ini Hari Terakhir Saya
2 Agustus 2013 pukul 20:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Ahad, 18 Agustus 2013 pukul 19:00 WIB

Energi Positif

Penulis : Bayu Gawtama

Beberapa pekan lalu, saya berkesempatan mengunjungi seorang sahabat di rumah sakit. Tak ada yang aneh dengan orang sakit, dinding putih teman setia, selimut bergaris biru muda, senampan buah segar bawaan penjenguk yang datang silih berganti, dan sisa makanan pagi yang belum sempat diangkat petugas.

Ya, tak ada yang aneh dengan sahabat saya yang sakit, kecuali pasien yang satu kamar dengannya. Seorang bapak berusia 60-an tampak iri dengan kehadiran saya beserta beberapa sahabat lain saat menjenguk sahabat saya, pasien sekamarnya. Binar matanya menyiratkan kerinduan akan seseorang seperti halnya sahabat saya yang tak hentinya dijenguk keluarga, kerabat, maupun sahabat.

Segera saya hampiri ia dan menyapanya. Belum satu kata keluar dari mulut saya ketika tiba-tiba ia menangkap tangan saya dan menariknya perlahan ke dadanya. Sebulir air jatuh dari sudut matanya yang memendam sepi, beberapa katapun mengalir dengan paraunya. Kepada saya ia bercerita, sudah tiga hari anaknya tidak menjenguknya, karena anak tunggalnya itu harus berdagang lebih giat untuk mengumpulkan biaya berobat. Isterinya telah lama meninggal, sehingga ia hanya hidup berdua dengan anaknya.

Tidak ada keluarganya di Jakarta, kerabat pun tak ada yang menjenguknya. Sahabat? Mungkin sudah terlalu lama ia tak lagi mengenal arti sahabat. Setidaknya, dalam tiga hari ini. Selain anaknya, tak ada lagi yang diharapkannya untuk sekadar tahu keadaannya di rumah sakit.

Saya teringat saat ikut serta salah satu kegiatan Kelompok Kerja Sosial (KKS) Melati di RS Fatmawati. Atas seizin pihak rumah sakit, kami, para relawan Melati mengunjungi paviliun anak dan mendongeng untuk anak-anak yang tengah menjalani masa perawatan. Ada ceria, dan tawa, juga tangis selama acara itu berlangsung. Betapa anak-anak yang mulai bosan dengan suasana rumah sakit, jenuh dengan perawat-perawat yang serba putih, atau bahkan wajah orangtua mereka yang tampak muram, hari itu terceriakan. Satu persatu para relawan mendatangi anak-anak yang tidak bisa turun dari pembaringannya, sementara beberapa relawan mengumpulkan anak-anak lainnya di aula untuk diajak bermain dan mendongeng.

Ada bening air yang siap tumpah di setiap pelupuk mata para relawan, menyaksikan wajah-wajah muram orangtua yang berhari-hari menunggu anaknya yang tak kunjung sembuh. Tak sedikit yang menangis ikut meresapi penderitaan anak-anak itu, sangat tergambar betapa menderitanya mereka, dari tangisnya, dari sorot matanya yang polos, dari keluh rintihnya menahan sakit, juga dari lunglai tubuhnya.

Saya dan juga rekan-rekan relawan lain sangat yakin, bahwa kesembuhan seseorang disebabkan oleh tiga faktor, Allah, dokter yang merawatnya, dan satu lagi yang tak kalah pentingnya adalah semangat untuk sembuh dari si pasien. Dan hal kecil yang kami lakukan pada hari itu hanyalah sedikit energi positif untuk menyalakan semangat hidup anak-anak itu. Setidaknya, semangat untuk sembuh.

Kepada bapak tua teman sekamar sahabat saya itu, saya terus merapatkan diri untuk bisa lebih dekat mendengarkan suaranya yang makin parau. Harap saya, semoga hal kecil yang saya lakukan itu bisa memberikan energi positif baginya. Terlebih ketika serombongan sahabat saya memberinya salam dan do'a sebelum kami meninggalkan kamar tersebut. Tak lupa, buah tangan yang kami niatkan untuk sahabat kami, dialihkan kepada ‘sahabat’ baru kami.

Dalam banyak kesempatan, tentu kita bisa memberikan energi positif kepada siapapun di lingkungan kita. Seperti halnya saya berharap, tulisan inipun bisa memberikan energi positif bagi yang membacanya.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Bayu Gawtama sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Nurjanah | Ibu Rumah Tangga
Subhanallah... Setelah gabung dengan KotaSantri.com, saya jadi ketagihan pengen berkirim salam dengan sahabat semua. Di samping tambah teman, juga makin tambah pengetahuan. Saran untuk ke depannya, yang Pelangi / Bilik lebih ditingkatkan lagi tema-temanya. Afwan jiddan. Jazakallah.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1089 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels