|
HR. At-Tirmidzi : "Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambil warisan tersebut, ia telah mengambil bagian yang banyak."
|
|
|
http://www.sofyanarif.web.id/ |
|
emsofyan.arif@gmail.com |
|
|
vyan_arief@yahoo.co.id |
|
sofyan.arif45 |
|
http://facebook.com/soefyanarif |
|
http://twitter.com/sofyan_arif |





Senin, 25 Juni 2012 pukul 09:15 WIB
Penulis : Muhammad Sofyan Arif
Saya mengerti kenapa semua orang setelah selesai studinya di tingkat SMA/MA berkeinginan sekolah di Kota Gudeg (Yogyakarta). Dari yang saya amati, karena Kota Gudeg ini sangat mendukung untuk kegiatan belajar. Banyak sekali universitas, institut, sekolah tinggi, akademi, dan sejenisnya. Sehingga para lulusan SMA/MA bertujuan sekolah di kota yang dulu pernah jadi ibu kota Indonesia ini.
Ketika saya sudah menyelesaikan studi S1 di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta, ada keluarga yang dari desa saya, tepatnya di Jambi bertanya, "Mas, saya ingin kuliah di Jogja, sebaiknya kuliah di mana ya?"
Pertanyaan yang biasa saya jumpai ketika adik-adik lulus dan kemudian ingin melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Saya menjawab dengan penuh keyakinan, "Kuliahlah di mana saja. Asalkan kamu belajar dengan sungguh-sungguh, pasti berhasil. Jangan lihat kampus besar ataupun kecil, tetapi sejauh mana kamu akan terus bekerja keras dan menuntut ilmu. Karena apapun background kita, jika kita belajar dengan tekun, pasti akan berhasil."
Kemudian muncul pertanyaan kembali, "Saya ingin kuliah di kampus A, biar keren." Saya setuju jika kita semua menginginkan kuliah di kampus negeri, tapi itu bukan merupakan jalan satu-satunya untuk meraih ilmu. Banyak alternatif lain yang masih bisa dijadikan solusi dalam mencapai cita-cita.
Kembali ke masalah Kota Gudeg ini. Kota ini cukup saya kagumi ketika awal masuk kuliah pada 2005, namun 7 tahun kemudian kota ini berubah. Dulu jalan-jalan tidak macet, udara masih sejuk, mahasiswa-mahasiswa masih menjaga akhlaq dengan baik, namun sekarang kebalikannya. Judul yang saya tulis di atas "Kotaku Tinggal Nama" adalah jeritan dari hati saya melihat fenomena yang terjadi di Kota Pelajar ini (katanya).
Maka dari itu, ada hal yang perlu saya sampaikan bahwa, ketika kita mau merantau ataupun studi di mana, perkuatkanlah dasar akhlaq kita, keimanan kita. Jika nanti di sana kita menemui hal-hal baru yang menyimpang, maka kita sudah mempunyai bentengnya. Kita tidak akan terpengaruh mereka, tetapi biarkan mereka terpengaruh kita. Tidak ada yang mustahil di dunia ini jika kita benar-benar mau dan ikhlas untuk menjalani hidup ini. Keraslah terhadap diri sendiri, dan yakinlah kita akan menuai hasilnya di kemudian hari.
Kota Jogja tidak seindah yang orang kira, namun beradaptasilah dengan kota ini. Jangan terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak baik, manfaatkan kota ini untuk benar-benar menuntut ilmu dan mencari pengalaman, karena hakikatnya kota Jogja ini adalah Kota Pelajar, tetapi manusia-manusia yang tidak bertanggungjawablah yang merusak semua ini. Semoga kota ini bisa menjadi seperti yang diinginkan.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Muhammad Sofyan Arif sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.