|
HR. Bukhari : "Berhati-hatilah dengan buruk sangka. Sesungguhnya buruk sangka adalah ucapan yang paling bodoh."
|





Selasa, 20 Maret 2012 pukul 09:45 WIB
Penulis : Muhammad Hilmy
Sore itu, aku mengunjungi sebuah panti yang terletak di daerah Jetis, Bantul. “Panti Asuhan Amanah” itulah namanya. Kedatanganku untuk menyampaikan sedekah dari beberapa teman-teman, ya meniru langkahnya mas Saptuari dengan program #SedekahRombongan, biar kebagian pahalanya. Akhirnya memang sedekah yang kecil terlihat besar, dan sedekah besar akan terlihat bertambah besar.
Panti asuhan ini memang luar biasa, bagaimana tidak. Dulu saya datang ketika KKN tahun 2008, kondisi panti masih sangat memprihatinkan, pasca gempa Yogyakarta 2006. Ada bagian bangunan yang atapnya bolong, sehingga kalau malam hari kami bisa melihat bintang-bintang dengan jelas di bangunan itu. Begitu pula dengan sistem drainase kamar mandi yang masih amburadul. Kamar anak-anakpun masih sangat sederhana, berlantaikan semen, kamar-kamar disekat dari kayu.
3 tahun berlalu sejak saya KKN, panti asuhan Amanah semakin menunjukkan perkembangan yang luar biasa, dari segi fisik maupun kualitasnya. Bangunan yang dulu bisa melihat bintang-bintang, sekarang berubah menjadi kantor sekretariat. Kamar anak-anak yang dulunya berlantaikan semen, sekarang sudah dikeramik. Dan puncaknya adalah renovasi total masjid yang ada di panti tersebut. Sebelumnya hanya masjid kecil, sekarang dibangun dengan cukup besar dan pastinya akan lebih bagus bentuknya.
Jelas, ini semua adalah rahmat dari Allah SWT. Dia gerakkan hati para donatur untuk memberikan sumbangsih kepada panti asuhan ini, hingga akhirnya panti asuhan ini bisa memiliki program-program pemberdayaan yang menakjubkan. Contohnya, memberdayakan petani sekitar untuk disewakan lahan dan digarap. Siapakah yang menyewakan lahan tersebut? Ya, panti asuhanlah yang menyewakannya. Sehingga jika anda ke panti ini, paradigma yang akan anda temukan adalah “panti bisa mandiri dan memberdayakan perekonomian di sekitarnya”. Panti asuhan bukanlah lembaga yang hanya bisa mengharap belas kasih dari orang lain, panti asuhan bisa mandiri!
Siapakah aktor di balik itu? Pak Sukirno-lah yang telah mengelola panti pasca gempa Yogyakarta hingga sekarang. Kemarin sore, ia mengisahkan mengenai rahmat Allah kepada panti ini. Bahwa segala perkembangan yang terjadi adalah karena rahmat Allah SWT, bukan karena peranan dirinya. “Mas, aku bisa saja to bilang,” kata beliau, “Kalau bukan karena saya di sini, panti gak akan bisa semaju ini! Tapi aku sadar, ini semua sudah diatur oleh Allah SWT. Aku hanya membantu saja.”
Sore itu aku tersadar, betapa manusia sangat dekat dengan sifat sombong. Penyakit itu bisa muncul melalui perkataan “karena saya”. “Karena saya nih, kamu bisa kerja”, “Karena saya nih, usaha ini bisa maju”, dan berbagai pernyataan lainnya. Pertanyaannya, apa betul “karena saya”? Tidak adakah peran Allah di balik setiap kesuksesan itu?
Kita hanyalah manusia, berasal dari setetes air yang hina, semasa hidupnya selalu membawa kotoran, dan matinya pun akan dijadikan santapan cacing dan belatung. Udara, makanan, air, dan kebutuhan lainnya sudah disediakan oleh Allah, maka pantaskah kita berkata “Karena saya nih, kita berhasil!”? Bukankah seharusnya kita berkata “Karena Allah-lah kita berhasil. Adapun saya hanya menjalankan amanah.”
Penyakit “karena saya” bisa terjadi kepada siapapun, baik kita sedang menjalankan misi bisnis maupun misi sosial. Apapun itu, penyakit tersebut bisa menghapus kebaikan amal yang sedang kita lakoni. Tak hanya itu, penyakit tersebut akan membuat rekan seperjuangan tersakiti, merasa peranan mereka tidak penting. Itu semua gara-gara penyakit “karena saya”.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Muhammad Hilmy sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.