Ibn Qudamah : "Ketahuilah, waktu hidupmu sangat terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desahnya akan mengurani bagian dari dirimu. Sungguh, setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tak ada bandingannya."
Alamat Akun
http://masekoprasetyo.kotasantri.com
Bergabung
5 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Surabaya - Jawa Timur
Pekerjaan
Editor Jawa Pos
Seorang pecandu berat wedang kopi, tapi antirokok. Arek Suroboyo yang besar di Bekasi. Pengagum berat kebesaran Allah ini hobi sepak bola dan melempar senyum. Pemuda yang doyan kacang ijo ini juga pegiat baca buku. Bergelut dengan naskah dan tata bahasa adalah tugasnya sehari-hari sebagai editor bahasa Jawa Pos.
http://samuderaislam.blogspot.com
Tulisan Eko Lainnya
Warung Kejujuran sebagai Pendidikan Antikorupsi
27 Januari 2012 pukul 13:30 WIB
Begadang Boleh, Ibadah Lebih Penting!
11 Desember 2011 pukul 08:00 WIB
Puasanya Bapak
3 September 2011 pukul 10:00 WIB
Jatah Sahur dari Office Boy
31 Agustus 2011 pukul 08:00 WIB
Air Mata yang Indah
28 Agustus 2011 pukul 08:30 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Sabtu, 4 Februari 2012 pukul 08:00 WIB

Seutas Harapan Korban Lapindo

Penulis : Eko Prasetyo

Saat hendak berkunjung ke rumah salah seorang famili di Buduran, Sidoarjo, pagi itu terasa ada yang aneh. Jalanan, yang biasanya lancar jika Minggu, terasa padat dan macet mulai daerah Waru. Tampaknya, pintu tol ke arah Porong yang menghubungkan arah Malang dan Pasuruan kembali ditutup pagi itu. Padahal, jam belum menunjukkan pukul sebelas.

Cuaca yang agak terik membuat kemacetan panjang tersebut terasa melelahkan. Persis memasuki kawasan Gedangan, salah seorang warga setempat memberitahukan bahwa hari itu ada unjuk rasa korban lumpur Lapindo. Mereka memblokir jalan masuk ke arah Surabaya dan memusatkan aksinya di kawasan tol Porong. Sehingga, aksi itu mengakibatkan akses jalan Surabaya-Sidoarjo macet. Bahkan, arah ke Mojokerto pun terlihat sangat padat. Setelah sampai di tempat tujuan, lega sekali rasanya.

Perjalanan, yang biasanya bisa ditempuh sekitar 30 menit, molor sampai 1 jam lebih karena macet. Lewat berita di televisi, saya bisa mafhum karena kemacetan tadi disebabkan demo korban lumpur Lapindo. Memang, tidak pernah disangka, dulu semburan kecil akibat semburan lumpur di areal eksplorasi salah satu sumur milik PT Lapindo Brantas, di Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Sidoarjo, pada 29 Mei 2006 masih menjadi tontonan. Hal tersebut berlangsung hingga sekitar tiga bulan.

Material yang awalnya berupa zat cair itu lama-kelamaan menggenang, bercampur lumpur pekat, dan berbau gas. Itulah awal musibah yang menjadi derita berkepanjangan para warga yang terdampak lumpur tersebut. Ribuan hektare areal sawah penduduk, ratusan dusun, perumahan, pabrik, hingga bangunan sekolah ikut tenggelam setelah terendam lumpur yang saat ini tingginya mencapai sekitar 12 meter. Tak ada yang tahu sampai kapan musibah yang konon disebabkan kelalaian dalam melaksanakan prosedur tersebut akan berakhir. Adakah ini sebuah peringatan dari Allah?

Selain melumpuhkan akses industri di Sidoarjo yang juga berdampak di beberapa wilayah di Jawa Timur, para anak-anak usia sekolah turut merasakan getirnya hidup di pengungsian. Mereka terpaksa belajar seadanya karena gedung sekolahnya tinggal terlihat atapnya saja. Saat berkunjung ke daerah terdampak lumpur, hati ini semakin tak tega melihat para warga yang kebanyakan terdiri atas ibu-ibu dan anak-anak kecil itu berebut makanan.

Terkadang, nasi bungkus yang mereka terima sudah basi. Mereka benar-benar kehilangan keceriaan yang terkubur bersama dengan tenggelamnya rumah mereka. Yang ada hanya wajah-wajah kosong, berusaha memperjuangkan kembali hak ganti rugi atas tanah atau rumah mereka. Juga, hak mendapat pendidikan buat anak-anak mereka yang tidak lagi bisa mengenyam pelajaran di gedung sekolah. Yang sangat mengetuk nurani, puluhan pengungsi di Pasar Porong Baru saat ini mulai mengemis masal. Itu bisa dilihat di sepanjang jalur Porong-Sidoarjo.

Mereka berjajar sambil membawa kardus dan poster meminta-minta kepada supir truk dan kendaraan yang melintas di jalan tersebut. Mereka mengaku terpaksa mengemis untuk makan. Salah seorang di antara warga itu mengatakan, ”Hanya uang dari ngemis ini kekayaan kami.” Degup hati ini berdesir kencang membayangkan andai saya atau keluarga saya mengalami hal seperti mereka. Sungguh, ujian tersebut sangat berat.

Namun, Allah tidaklah menguji di luar batas kemampuan hamba-Nya. Tubuh ini merinding rasanya menyaksikan saudara-saudara saya tersebut mengemis sembari menengadahkan kardus-kardus yang mereka bawa, berharap ada makanan atau uang dari pengendara yang melintas.

Ya Allah, ya Rabb.. ketuklah jiwaku, buncahkan kasihku, bukalah mata hatiku atas penderitaan mereka yang aku sendiri belum tentu sanggup menerima cobaan seperti mereka. Semoga Allah melimpahkan kekuatan dan kesabaran kepada korban lumpur Lapindo.

http://samuderaislam.blogspot.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Eko Prasetyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Elsye Ivanne | Swasta
Semoga dengann bergabung di KotaSantri.com banyak manfaat yang saya dapatkan n dapat bertukar fikian dengan akhi n ukhti. Mohon bimbingannnya karena dalam waktu dekat saya harus mengakhiri masa lajang dan berdampingan dengann seorang aktivis dakwah.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.3167 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels