|
HR. At-Tirmidzi : "Pena (takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering, apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan."
|





Rabu, 1 Februari 2012 pukul 10:00 WIB
Penulis : Muhammad Nahar
Ketika seorang pengamat tata kota mengajukan usul pembangunan tugu peringatan peristiwa Xenia maut di halte depan Tugu Tani, pro dan kontra pun bermunculan. Ada yang setuju dengan alasan agar orang tidak mudah melupakan peristiwa tragis tersebut. Ada pula yang mengatakan bahwa tugu itu akan menjadi peringatan agar orang lebih waspada terhadap bahaya miras dan narkoba. Namun tidak sedikit pula yang menolak. Pihak yang menolak beralasan bahwa tugu adalah cikal bakal penyembahan berhala. Ada juga yang mengatakan bahwa jika setiap tempat terjadi kecelakaan dibangun tugu, maka entah akan ada berapa banyak tugu di ibukota ini.
�
Alasan agar orang tidak mudah melupakan peristiwa penabrakan tragis itupun diragukan banyak pihak. Terbukti nama-nama para pahlawan yang dijadikan nama jalan pun tidak banyak membawa kebaikan dan perbaikan di negeri ini. Tidak sedikit orang di negeri ini yang tidak mengerti, memahami, apalagi menghayati sejarah perjuangan para pahlawan tersebut. Ditambah lagi sejarah yang kita ketahui sekarang ini seringkali merupakan produk yang sudah dimanipulasi pihak penguasa demi kepentingan kekuasaan. Sehingga, banyak orang yang tidak banyak tahu sejarah bangsa ini yang sesungguhnya.
�
Bangsa yang besar, kata Bung Karno, adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya. Menghargai jasa para pahlawan tentu bukan dengan mendirikan tugu atau patung mereka, tetapi mengisi kemerdekaan ini dengan usaha dan karya-karya terbaik yang kita mampu. Insya Allah, perjuangan para pahlawan tersebut benar-benar ikhlas dan tulus demi kemerdekaan bangsa ini. Mereka telah berjuang dan mengorbankan segala yang mereka miliki. Mereka tidak ingin dibuatkan tugu, patung, atau diabadikan dalam nama jalan-jalan di kota-kota. Yang mereka harapkan hanya agar hasil perjuangan mereka tidak disia-siakan. Mereka pasti berharap generasi yang hidup di alam kemerdekaan ini akan memanfaatkan anugerah mahabesar ini dengan sebaik-baiknya.
�
Namun, kenyataan yang kita saksikan saat ini sungguh bertolak belakang dengan idealisme tersebut. Kemerdekaan yang dianugerahkan Allah SWT berkat perjuangan para pahlawan yang berurai air mata, berpeluh keringat, dan bersimbah darah seakan tidak ada artinya lagi. Hampir di seluruh tempat di negeri ini kita saksikan fenomena generasi instan yang hanya memuja kesenangan sesaat belaka. Baik mereka yang masih bergantung pada kedua orangtuanya atau yang sudah bisa mandiri dalam mencari nafkah. Hampir setiap hari mereka menghabiskan waktu dan harta demi kepuasan pribadi tanpa berempati pada orang lain. Mulai dari yang sekedar makan-makan di berbagai restoran cepat saji, keluyuran di mall-mall, atau bermain game online di rumah atau warnet sampai dengan mereka yang berfoya-foya dengan miras dan narkoba di tempat-tempat hiburan. Kecelakaan tragis di depan Tugu Tani beberapa waktu yang lalu hanya puncak dari gunung es kesemrawutan dan kerusakan peradaban. Suatu kerusakan yang merajalela bagai kanker ganas yang menggerogoti bangsa ini.
�
Bercermin dari paparan di atas, adalah suatu kenaifan apabila kita hanya membangun tugu untuk mengenang para korban kecelakaan itu. Tugu raksasa sebesar Monas saja tidak mampu menggugah bangsa ini untuk lebih baik dalam mengisi kemerdekaan yang dianugerahkan kepadanya. Tugu itu, jikapun jadi dibangun, hanya akan menjadi monumen mati hampa makna yang hanya bisa diam seribu bahasa. Tugu tersebut lebih tepat dimaknai sebagai sebuah batu nisan di atas kuburan kematian hati nurani sebuah bangsa bernama INDONESIA.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Muhammad Nahar sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.