Ibn Qudamah : "Ketahuilah, waktu hidupmu sangat terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desahnya akan mengurani bagian dari dirimu. Sungguh, setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tak ada bandingannya."
Alamat Akun
http://abisabila.kotasantri.com
Bergabung
30 Oktober 2009 pukul 19:46 WIB
Domisili
Tangerang - Banten
Pekerjaan
swasta
Seorang pembaca yang sedang belajar menulis.
http://www.abisabila.com
http://facebook.com/abi.sabila
http://twitter.com/AbiSabila
Tulisan Abi Lainnya
Mau Langsung atau Mampir Dulu?
26 Desember 2011 pukul 10:00 WIB
Tutup Mata Buka Telinga
19 Desember 2011 pukul 08:30 WIB
Ujian di Atas Ujian
13 Desember 2011 pukul 08:30 WIB
Karena Allah Semata
6 Desember 2011 pukul 08:08 WIB
Tak Lagi Dinanti
29 November 2011 pukul 08:45 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Selasa, 3 Januari 2012 pukul 08:30 WIB

Karena Manusia itu Pelupa

Penulis : Abi Sabila

Seperti petani yang kehilangan cangkulnya, aku mondar-mandir, dari kantor ke area produksi, terus ke area inventory dan balik ke kantor lagi, bertanya pada beberapa orang yang kuharap melihat atau bahkan meminjam (tapi belum mengembalikan) pulpen, senjata utamaku untuk menyelesaikan laporan sebelum kuinput ke komputer.

Tak perlu repot-repot mencari seandainya aku masih punya pulpen cadangan. Tapi sayangnya, pulpen itu satu-satunya yang tersisa, tak ada lagi stok di kantor. Meski tentu saja salah satu rekan kerjaku tak berkebaratan bila kupinjam pulpennya, tapi aku tidak bisa menggunakan dengan leluasa karena ia pun perlu untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Penasaran, sekali lagi kupastikan dengan mencari di laci sampai di kolong meja, barangkali pulpenku terjatuh di sana, tapi hasilnya tetap sama, tidak ada. Dan pencarianku baru terhenti ketika seorang rekan kerja yang duduk di seberang meja, tersenyum sambil menunjuk ke lengan kiriku. Astaghfirullah, ternyata pulpen yang sejak tadi kucari-cari bukan dipinjam orang ataupun terjatuh saat aku mengembalikan laporan ke produksi, juga saat mengantar dokumen ke departemen inventory, melainkan kusimpan di saku lengan kiriku sendiri. Manajemen di perusahaan tempatku menjemput rejeki memang mewajibkan seluruh karyawannya mengenakan baju seragam yang sama, baik warna maupun modelnya, yaitu dua saku di depan dan satu saku di lengan kiri, untuk menyimpan pulpen atau peralatan lain seperti tespen yang biasa dilakukan karyawan bagian elektrik. Sebenarnya jarang aku menyimpan pulpen di saku ini, tapi kenapa pulpen itu ada di sana, aku benar-benar lupa.

Kejadian yang hampir sama juga pernah dialami si A. Sama sepertiku, dia juga berkali-kali membuka tas dan laci untuk mencari sebatang rokok yang ternyata ia selipkan di telinga kanannya. Juga si B yang sibuk bertanya siapa yang terakhir memakai stapler, padahal ia sendiri yang sedang memegangnya. Atau si C yang berkali-kali membongkar tumpukan file di mejanya untuk mencari satu dokumen yang sebenarnya sudah ia serahkan ke atasan sehari sebelumnya. Dan masih banyak kejadian-kejadian lain yang sebenarnya tidak mengenakan tapi terasa menggelikan akhirnya.

Begitulah kita, manusia. Di samping kelebihan, masing-masing juga memiliki kekurangan. Dan salah satu kekurangan yang dimiliki oleh setiap orang adalah lupa, hanya tingkatan dan intensitasnya yang berbeda. Tidak mengenal pria atau wanita, tua ataupun muda, miskin ataupun kaya. Lazimnya memang semakin tua seseorang, semakin sering ia lupa. Tapi bukan berarti bahwa yang muda belia sama sekali tak pernah lupa. Ini sudah kodrat manusia, tempatnya salah dan lupa.

Untuk hal-hal yang terlihat mata saja kita sering lupa, apalagi hal-hal yang tidak kasat mata seperti adanya alam kubur, padang mahsyar, mizan, surga, dan neraka. Terkadang ada yang bukannya lupa, tapi pura-pura lupa, sengaja melakukan walaupun ia tahu bahwa apa yang diperbuatnya di dunia akan diminta pertanggungjawabannya kelak di akhirat. Astaghfirullah! Di sinilah pentingnya kita sebagai saudara untuk saling mengingatkan karena manusia itu pelupa. Kita mungkin tidak memiliki pertalian darah, tapi melalui dua kalimat syahadat yang kita ikrarkan, Allah telah menjadikan kita sebagai saudara.

Saling mengingatkan, ini menunjukan adanya komunikasi dua arah. Satu saat kita mengingatkan orang lain tapi di lain waktu kita yang diingatkan. Jangan hanya mengingatkan tapi tak terima kalau orang lain mengingatkan. Atau sebaliknya, maunya diingatkan tapi tak peduli ketika orang lain perlu diingatkan.

Saling mengingatkan, terlebih dalam hal kebaikan, ibadah, adalah keharusan. Jangan sampai satu kemungkaran terjadi di depan mata tanpa sedikitpun kita berusaha untuk mencegahnya, mengingatkan sang pelaku bahwa tindakannya keliru. Juga ketika seseorang lalai dalam menjalankan kewajiban beribadah, seharusnya kita menjadi orang pertama yang mengingatkan, tentunya sekaligus mengingatkan diri sendiri, memastikan bahwa kita sudah melakukannya.

Dan jika melalui tulisan aku berusaha untuk menjalankan kewajiban saling mengingatkan, berharap ada manfaat yang bisa diambil, yaitu yang lupa menjadi ingat bahwa manusia itu pelupa, karenanya harus saling mengingatkan, terutama dalam hal kebaikan, maka aku juga berharap ada yang mengingatkanku, karena bagaimanapun, aku hanyalah manusia yang tiada luput dari salah, khilaf, dan tentu saja lupa. Astaghfirullah!

Saudaraku, mari kita saling mengingatkan, menguatkan, dan juga mendo'akan. Insya Allah.

http://www.abisabila.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Abi Sabila sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

M. Hilmy | Wiraswasta
Insya Allah... Isinya ringan seperti kapas, berbobot seperti baja, dan dalam seperti samudera.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1403 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels