|
QS. Al-'Ankabuut : 64 : "Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui."
|
|
latape2003@gmail.com |
|
latape2003 |
|
|
la_tape2003 |
|
latape2003 |
|
latape2003@gmail.com |
|
http://twitter.com/latape2003 |




Jum'at, 30 Desember 2011 pukul 11:15 WIB
Penulis : Abdul Latief Sukyan
Tidak berbeda dengan teman seperjuangan lainnya, ia hanyalah seorang pembantu rumah tangga, ia dan suaminya yang bekerja sebagai supir di sebuah keluarga kecil di negeri rantau. Aku pernah menjumpainya di rumah temanku, dan aku melihatnya memang telah tua. Walaupun kerjanya sangat lambat, tapi ia tetap semangat untuk bekerja. Bekerja di usianya yang mencapai 55 tahun memang terasa tidak pantas lagi, di samping penyakit gula yang menimpanya, tapi ia tetap mempunyai harapan dan mempunyai keikhlasan untuk selalu bekerja.
Pernah suatu hari aku bertanya pada temanku, "Layaknya perempuan tua ini harus beristirahat dan pulang ke kampung halamannya?"
Ia menjawab, "Ia masih mempunyai anak-anak yang belum rampung kuliahnya, sehingga ia harus tetap bekerja untuk membiayai mereka. Semoga Allah memberikan pertolongan kepadanya dan keluarganya."
Belakangan aku sudah tidak melihat Jumanah lagi sejak 3 tahun lalu. Aku penasaran dan bertanya lagi pada temanku. Temanku sambil menyeruput kopi Arab-nya menjawab, "Ia sudah lama pulang dan duduk manis di kampung halamannya. Pantas dan memang sudah selayaknya. Ia telah berbuat dan bekerja banyak untuk keluarganya." Tanpa terasa, kedua mata temanku berlinangan air mata dan selanjutnya diikuti senyum yang mengherankan.
"Ada apa sebenarnya?" tanyaku penasaran.
"Jumanah telah menggapai cita-citanya. Ia sekarang bangga dan bahagia, karenanya ia memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai TKW di sini."
"Hah, kenapa, kenapa? Tujuannya telah tergapai? Anak-anaknya telah lulus kuliah?" tanyaku.
Temanku tidak menjawab, tapi ia beranjak dari tempat duduknya dan mengambil sebuah foto masjid indah yang tertulis di pintu depannya dengan ukiran marmer, “Masjid Jumanah”.
"Apa ini? Masjid? Masjidnya? Masjid sang TKW?" tanyaku.
Ia menjawab, "Ini adalah tujuan dan cita-cita Jumanah yang telah terwujud. Salah satu dari cita-citanya adalah membangun masjid dari hasil kerja dan hasil keringatnya sendiri, sebagai sedekah jariyah dan agar hidup matinya menjadi berkah. Begitu keyakinannya."
Ketika aku mendengar dan menyaksikan foto masjid tersebut, dunia seakan berputar dan berjungkir balik, dan betapa kecilnya diriku ini, aku merasa sangat-sangat kerdil di hadapan keagungan sang TKW yang bernama Jumanah.
Jumanah telah meletakkan sebuah tujuan mulia yang tidak saja bernuansa duniawi semata, tapi juga ukhrawi. Ia bukan sekedar cita-cita atau impian yang selalu menemani penat kerja bahkan tidur malamnya, tetapi sebuah usaha dengan berangkat jauh dari kampung halamannya, bekerja dengan sungguh-sungguh dengan kekuatan yang tidak pernah terputus-putus walaupun urat tangannya semakin menyiratkan ketuaannya.
Tinggal aku termangu merenungi diriku sendiri setelah tanya jawab panjang dengan temanku. Bila tadi itu merupakan tujuan seorang pembantu buta huruf, lalu bagaimana dengan aku, tujuan kami semua bangsa Arab yang rajin dan mengerti bahasa Al-Qur'an. Kami memang seorang terpelajar, dan kami juga menerima kebaikan do'a Ibrahim AS dengan dibukakan keran-keran rezeki yang berlimpah ruah. Lalu apa tujuan kami?
Membangun rumah sebesar istana atau bahkan lebih besar dari rumah saudariku, membeli mobil mewah yang lebih mewah dari mobil tetanggaku, membangun kerajaan bisnisku yang mengalahkan para konglomerat Eropa sekalipun, memasukkan anak-anakku ke kuliah kedokteran atau engineering agar mereka memanggilku bapak atau ibu seorang dokter atau seorang insinyur.
Tiada henti memang keduniaan menguasai alam sadar dan alam tidak sadar kita. Lalu siapakah yang merugi sebenarnya?
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Abdul Latief Sukyan sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.