Umar bin Khattab : "Kebajikan yang ringan adalah menunjukkan muka berseri-seri dan mengucapkan kata-kata yang lemah lembut."
Alamat Akun
http://rifgy.kotasantri.com
Bergabung
24 Februari 2011 pukul 14:24 WIB
Domisili
tangerang - banten
Pekerjaan
Dagang
Tulisan Saeful Lainnya
Rojaa
23 September 2011 pukul 16:50 WIB
Dahsyatnya Manusia
9 September 2011 pukul 15:30 WIB
Takut Mati
26 Agustus 2011 pukul 17:00 WIB
Ternyata Itu Kau (Pahlawan Devisa)
12 Agustus 2011 pukul 13:55 WIB
Ayah, Aku Minta Maaf
29 Juli 2011 pukul 13:15 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Kamis, 10 November 2011 pukul 12:15 WIB

Nasibmu, Oh Guru Ngaji

Penulis : Saeful Arif

Adalah mang Nur, pelanggan saya dari kampung yang mayoritas sebagian masyarakatnya seorang petani, juga Kampung yang terhitung lebih banyak santri dibanding kampung tempat saya tinggal, kampung yang jauh dari keramaian dibanding kampung saya yang bising dan remajanya mulai mengikuti tren kekini-kinian, nongkrong dan pergaulan ala remaja di kota-kota besar, seperti pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan tanpa hijab, nongkrong, bahkan minum-minuman keras. “Astaghfirullah”.

Di suatu hari. Saat itu saya bersiap-siap berangkat ke tempat kerja, saya ditelpon mang Nur. Katanya ada perlu dan meminta saya datang ke rumah. Kebetulan waktu itu hujan besar sekali, sehingga saya meminta mang Nur menunggu sampai hujan reda.

Lima belas menit, hujan reda, saya bergegas berangkat menuju ke sebuah kampung, rumah mang Nur yang berjarak kira-kira 5 km dari rumah saya. Tidak sampai satu jam saya sampai di tempatnya. Ternyata mang Nur sudah menunggu di jalan. Saya pun disambut dengann hangat dan dipersilahkan duduk oleh istrinya. Agar suasananya lebih akrab, saya pun mulai basa-basi, “Apa kabar, ibu? Di rumah aja?” tanya saya. “Ya, nak. Tiap hari juga di rumah, emang ke mana lagi. Hehehe?” “Mau ke sawah gak punya, hahaha,” sambut mang Nur menyambung pembicaraan istrinya sambil ketawa-ketawa. “Lho, mang, biasanya kan ada tuh yang joinan kaya di kampung saya,” sambung saya. “Nak mana ada yang percaya sama kita, kita bukan bidangnya alias gak ngerti masalah sawah. Hehehe.”

Suasana mulai akrab, barulah saya membicarakan poinnya. Ternyata mang Nur seseorang yang enak diajak ngobrol. Saat kami transaksi, beliau pengertian sekali.

Selesai. Saya tidak buru-buru pulang, tapi ngobrol ngalor-ngidul, dan sepertinya mang Nur adalah seorang yang alim, terlihat dari pembicaraannya yang kalem dan rendah hati. Saya pun khawatir dengan pembicaraan saya, takut “jangan-jangan saya salah omong”, tapi saya jadi penasaran. Kebetulan di pelataran rumahnya ada bangunan yang baru setengah jadi, kaca jendela belum ada. Saya coba tanya padanya dan katanya itu joglo, tempat anak-anak mengaji.

“Ayo Aambil dimakan kuenya, tehnya diminum mumpung masih hangat,” kata mang Nur. Saya pun mencicipinya. “Owh… Itu majelis ya, mang? Guru ngajinya siapa?” Enak gak enak saya coba tanya dan mang Nur pun menjawab, “Alhamdulillah saya dipercaya orang kampung sini untuk mengajar. Sebenernya ini berat, berhubung sudah dipercaya, ya sudah saya terima,” ungkapnya.

Semakin jauh pembicaraan kami, sehingga saya yakin bahwa mang Nur adalah seorang guru ngaji, ustadz. Dia bertutur nelangsanya jadi seorang guru ketika anak didiknya nakal. Kadang ada yang ribut sampai nangis-nangis, akhirnya orangtuanya menyalahkan. Katanya “tidak becus”, padahal mendidik seorang anak itu sebenarnya hak anak terhadap orangtuanya. Mang Nur bertutur, “Kadang ada selisih faham antar saya dengan orangtua murid.” Memang, tanpa adanya saling pengertian, keharmonisan sulit terbangun, padahal antara guru dan orangtua itu harus kompak. “Saya tidak meminta bayaran sepeser pun dari mereka, saya hanya meminta sewaktu-waktu waktu kontrol anak-anaknya ada atau gak di tempat pengajian,” mang Nur terlihat kesal. Meski begitu, mang Nur tetap sabar menghadapinya.

Bayangkan, selesai maghrib, saat orang-orang tua mereka berkumpul bersama keluarga, ada yang sambil ngobrol sama tetangga, ada yang sambil tidur-tiduran, seorang ustadz bercucur keringat menghadapi murid-muridnya sampai jam sebelas malam. Sehabis shalat shubuh, jam setengah enam pagi ketika orangtua mereka asik dengan segelas kopi, seorang ustadz menghadapi murid-muridnya lengkap dengan belek dan bau tak sedap dari mulut mereka. Mual pun tak terelak merogoh kantong berharap ada rokok, ternyata cuman tinggal bungkus kosong, untunglah ada pontot sisa semalam.

Semoga kita bisa saling muhasabah diri, menyadari bahwa sebagai guru, beliau tidak mengharap apapun dari kita kecuali anak dididiknya bisa membaca Al-Qur'an. Terakhir mang Nur berpesan pada saya, “Remaja masa kini seperti tanaman padi, apabila kurang perawatan, kurang pupuk, kurang obat, bisa habis dimakan wereng.”

Dan semoga guru-guru kita diberikan kesehatan jasmani dan ruhani, umur yang panjang, dan dikurniai sabar dan tabah untuk terus mendidik, membangun muda-mudi, anak-anak kita agar menjadi anak yg shaleh dan shalehah. Aamiin...

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Saeful Arif sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Eno Karta Susana | Guru
Subhanallah... KSC bisa dijadikan sebagai sarana kreativitas, nambah ilmu, dan mempererat tali silaturrahim. Tapi tetap kita harus berusaha menjaga niat. Semoga bermanfaat. Aamiin...
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1321 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels