|
Ust. Aam Amiruddin : "Sesungguhnya sepercik kejujuran lebih berharga dari sebongkah cinta. Apa arti sebongkah cinta kalau dibangun di atas kebohongan? Pasti rapuh bukan? Betapa indahnya apabila kejujuran dan cinta ada pada diri seseorang. Beruntunglah Anda yang memiliki kejujuran dan ketulusan cinta."
|
|
|
http://rifarida.multiply.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |





Selasa, 1 November 2011 pukul 12:00 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Jari-jari saya tertahan bergerak, ketika seorang teman, di tengah-tengah obrolan kami via chating bertanya, "Cinta itu apa, Fa?"
Cinta. Tentu saja semua orang dewasa sudah tahu apa itu cinta. Hanya saja, tetap tak terdengar aneh jika ditanyakan oleh seseorang yang sedang bingung dengan perasaannya sendiri. Saya bisa memahami itu.
Sesaat saya berpikir, tentang obrolan ringan kami ini. Namanya juga obrolan ringan, ya bahasannya yang ringan-ringan saja. Tidak terlalu njlimet karena judulnya just fun.
"Sederhananya, cinta itu hanya soal rasa saja," jawab saya kemudian.
"Ia salah satu rasa (bisa juga sih disebut emosi) yang Allah ciptakan di hati, berbeda bentuk saja dengan rasa marah, rasa kecewa, dan rasa-rasa yang lainnya," lanjut saya.
Tentu saja, sebenarnya cinta tak sesederhana itu. Tapi berhubung teman saya ini sedang galau hatinya karena rasa cinta, ya saya jawab saja seolah itu bukan hal yang berat dan membuat dunia serasa mau kiamat jika bertepuk sebelah tangan. Pahahal, yang namanya cinta itu "deritanya" luar biasa bukan? Tapi, dalam obrolan yang saya anggap edisi khusus, saya ingin lebih menekankan pada pengendalian diri untuk teman saya ini.
Menarik sekali disimak setiap obrolan tentang cinta. Entah kenapa, mungkin karena memang berhubungan erat dengan fitrah manusia. Bagi ikhwah tarbiyah (baca; anak ngaji) dan sudah faham, tentu saja sangat tahu bagaimana memperlakukan dan mengendalikan rasa yang satu ini. Namun bagi mereka yang masih awam dan hidup hanya sebatas rutinitas kerja, jalan-jalan, dan mengeksiskan diri di komunitas-komunitas yang bukan majelis ilmu (Islam), maka cara memandang, memperlakukan, dan menempatkan cintapun pasti berbeda. Dan celakanya, perbedaan ini yang ternyata justru malah lazim di kalangan pemuda-pemudi kita, seperti lazimnya pacaran sebelum menikah. Sebuah hal, yang tentu saja menjadi larangan karena bermakna mendekati zina, bahkan mungkin sudah menjadi zina itu sendiri.
Artinya, menjadi PR kita bersama, bahkan mungkin tanggung jawab pertemanan, bagaimana menggeser kelaziman yang salah ini, menjadi sesuatu yang tak hanya bermakna larangan, tapi memalukan dan merusak harga diri.
Jelas, ini bukan pekerjaan yang mudah. Apalagi, ini juga masih sering menjadi dilema di kalangan aktivis dakwah yang juga hanya manusia biasa. Namun, setidaknya kita selangkah lebih faham tentang bab ini.
Hal ini yang kemudian menjadi alasan paling kuat untuk menuntut diri kita, agar sigap bersikap dan lebih mampu mengendalikan diri, jika rasa cinta pada lawan jenis datang di saat dan tempat yang bisa menyalahi syari’atNya. Begitupun, sigap bersikap jika ternyata hal itu dialami oleh teman kita, yang masih belum punya kefahaman memadai tentang hal ini.
Namun yang sering jadi persoalan justru, cara kita menjaga dan memahamkan orang-orang di sekitar kita, yang sangat ingin sekali kita menginginkan kebaikan ada pada mereka. Dan sepanjang pengalaman saya (yang masih sedikit ini), tidak ada yang lebih indah dari seni dakwah fardiyah, kecuali terbentuk dari memahami kondisi apapun -kondisi kejiwaan, kondisi kepekaan, kondisi harapan, kondisi kebiasaan, dan lainnya- yang ada pada objek dakwah.
Hidayah, adalah hak prerogratif Allah. Namun, usaha untuk meraih hidayah, adalah hak mereka yang kita ketahui. Maka, beritahukan hak itu agar mereka mengambilnya.
Wallahu a'lam bishshawab.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rifatul Farida sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.