|
HR. At-Tirmidzi : "Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambil warisan tersebut, ia telah mengambil bagian yang banyak."
|





Kamis, 5 Agustus 2010 pukul 16:25 WIB
Penulis : Marsahid Agung S
Beberapa tahun lalu, saya dikejutkan oleh berita bahwa ada alumni Rohis SMU saya yang melepas jilbabnya karena gagal SPMB. Banyak reaksi muncul dari keluarga besar ADS SMU saya. Tapi mayoritas hanya mencibir dan membiarkannya. Sebagian bahkan (terutama yang seangkatan dengannya) mengatakan yang tidak-tidak tentang akhwat X itu. Hanya segelintir orang yang simpati, tapi hanya sebatas kata. Akhwat itu akhirnya kuliah di kampus saya. Lewat program BBQ yang diwajibkan, akhirnya beberapa bulan kemudian akhwat itu kembali berbusana muslimah rapi. Saya memang meminta kepada pengurus BBQ akhwat agar dia dimasukkan dalam kelompok khusus. Saya menceritakan kondisinya kepada pengurus BBQ itu dan juga tutor BBQ-nya. Mereka pun paham, tapi sempat bertanya, “Tahu nggak alasannya dia buka jilbab? Lho, memang teman-temannya ke mana?” Saya hanya menggeleng dan sejurus kemudian mengangguk-angguk, “Iya juga ya. Ke mana teman-temannya?”
Kemudian saya pun teringat akhwat seangkatan saya yang "ngilmu" di ITB. Ada sebuah “kepercayaan” tersendiri di keluarga besar alumni Rohis SMU saya soal alumni yang kuliah di ITB. “Kepercayaan” itu adalah semacam syndrom bahwa setiap alumni Rohis kami yang kuliah di ITB kemungkinan futurnya tinggi. Gaya hidup di Kota Paris van Java ini yang dituduh jadi biangnya. Hal itu memang menjadi fakta unik bagi kami. Sejak 1994 hingga 2000, telah cukup banyak saudara kami yang terkena syndrom itu. Dan setiap tahun usai UMPTN/SPMB saat ada yang diterima di ITB atau UNPAD (kampus Bandung), kami hanya bisa H2C (harap-harap cemas). Alhamdulillah beberapa tahun terakhir syndrom itu sudah mulai berkurang. Angkatan saya cukup banyak yang diterima di ITB dan salah satunya adalah akhwat Y, yang semasa SMU merupakan andalan departemen kaderisasi. Akhwat Y itu pun rupanya menjadi korban syndrom unik ini. Awalnya dia masih sempat aktif di milis keluarga besar kami. Kemudian cukup lama menghilang. Idul Fitri beberapa tahun lalu, saya dan teman-teman bertemu dia di sekolah saat kami akan silaturrahim ke rumah dewan guru. Dia yang datang untuk reuni bersama teman-temannya berpenampilan yang membuat kami sempat tak mengenalinya. Jilbabnya yang semasa SMU paling lebar kini jilbab gundul, pun pakaiannya yang dulu paling rapi kini mengikuti mode yang lagi trendi. Jelas saja hal itu menimbulkan tanda tanya besar di diri kami dan jadi bahan pembicaraan dalam perjalanan ke rumah kepala sekolah kami yang baru. Teman-teman pun akhirnya memvonisnya futur lalu tidak lagi peduli. Beberapa bulan setelah itu, ada beberapa e-mail di milis tentang Kristenisasi oleh turis yang dikirim oleh si Y! Bahasa Inggrisnya memang termasuk papan atas di angkatan kami. Dia juga mengirimkan sebuah e-mail tentang keinginannya untuk kembali. Tapi tampaknya teman-teman seangkatan saya tidak bereaksi. Saya pun lalu via jalur pribadi (japri) mengirimkan e-mail-e-mail untuk tetap menjaga semangatnya untuk kembali dan menumbuhkan kembali izzahnya yang dulu. Sayang, cukup lama saya kehilangan kontak dengannya. Saya hanya bisa mendo'akan agar Allah memberikan yang terbaik untuknya.
Saya pun dikejutkan oleh seorang teman sesama ADS yang mengatakan bahwa dia baru bertemu seorang akhwat senior yang dikabarkan futur. Teman saya itu menyayangkannya karena akhwat itu memiliki kelebihan yang jarang dimiliki akhwat ADS yang ada saat itu. Kreatif, inovatif, aktif, dan dinamis. Isunya, penyebab akhwat itu masuk dalam HMI (Himpunan Mantan Ikhwah) karena merasa potensinya tak bisa berkembang dan tersalurkan dengan baik. Hati saya makin miris saat tahu teman-teman seangkatannya tidak peduli, mencibirnya, bahkan menjauhinya.
Hal serupa terjadi pada akhwat kakak kelas saya di SMU. Potensinya sangat besar, aktif di teater dan organisasi, ayahnya pada saat itu adalah wakil kepala sekolah. Namun sayang saat dia hijrah, semangatnya dan kemampuannya yang tinggi tidak tersalurkan dengan baik hingga dia akhirnya memilih bergabung dengan gerakan lain. Lulus SMU, dia melakukan berbagai manuver di sekolah kami yang membuat dirinya masuk dalam blacklist syura alumni Rohis.
Dan cerita dari adik kelas saya di organisasi pelajar muslim daerah menambah ‘ketakjuban’ saya atas fenomena ini. Dia bercerita bahwa ketua keputrian Rohis angkatannya futur dan tak ada seorang pun yang peduli meski dia telah meminta pada akhwat-akhwat seangkatannya untuk mencoba mengajaknya kembali. Bahkan usahanya pun sempat dikacaukan oleh ulah sok tahu teman-temannya. Selain itu, ada beberapa orang akhwat yang tiba-tiba memutuskan untuk hijrah ke gerakan lain. Dia tidak mempermasalahkan hijrahnya bahkan mendukungnya, karena itu adalah hak mereka. Yang dia kesalkan dan sesalkan justru tindakan reaktif dari seorang senior ADS yang memarahi mereka, bahkan menghukum mereka jika tetap pada keputusannya. Akhirnya, satu orang kembali tapi tiga orang tetap pada putusannya meski dengan resiko kehilangan teman-teman lama.
***
Saya terkadang dibuat bingung sendiri ketika dihadapkan pada kenyataan-kenyataan di atas. Inginnya saya bisa berkata, “Aku ‘kan tetap ada di sini, temani hatimu ‘tuk berbagi yang terhempas karena tersakiti.” kepada mereka semua. Tapi, ah saya justru jadi bertanya apa yang terjadi dengan teman-teman mereka yang lebih berhak dan berkewajiban untuk itu? Bukankah katanya wanita lebih peka perasaannya, apalagi terhadap sesamanya? Tidakkah? Berbagai macam pikiran melintas. Di manakah ukhuwah itu? Langsung terputuskah ikatannya hanya karena mereka futur? Sesempit itukah ukhuwah Islamiyah? Sebatas formalitas dalam pengajian, dalam kerja organisasi dakwah, sebatas ikhwan atau akhwat, sebatas itukah? Bukankah setiap muslim itu bersaudara? Dan sudahkah kita berukhuwah sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah?
Kenapa kita bersikap seolah kita tak pernah salah dan merasa telah mendapat tiket syurga gratis? Sehingga saat ada saudara kita berbuat kesalahan hingga futur, kita lalu bersikap seolah dia bukan lagi saudara kita, tidak lagi layak mendapat syurga hingga tak perlu dipedulikan. Coba dibalik, jika diri kita berada dalam posisi mereka. Banyak yang beralasan, “Agenda kita yang lain masih banyak yang harus diutamakan ketimbang ngurusin orang yang nggak bisa ngurus dirinya. Tenang aja, mati satu tumbuh seribu.”
Ah, tidak berhargakah satu orang yang sudah merasakan manis pahitnya dakwah dan telah memiliki wawasan keislaman yang baik dengan segala potensi yang dimilikinya? Hanya karena dia melemah imannya atau banyak menuntut dan terkesan ingin bergerak cepat mengembangkan potensinya, maka dia tak lagi layak mendapat satu tempat di dalam kendaraan kita untuk bersama menuju syurga. Allah saja Maha Pengampun atas segala dosa hamba-Nya kecuali dosa syirik, kenapa kita tidak?
Saya pun menyadari bahwa, “Kita belumlah menjadi baik. Tapi sedang dalam menuju menjadi baik”.
Allahu a'lam.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Marsahid Agung S sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.