|
HR. Al Hakim : "Menyendiri lebih baik daripada berkawan dengan yang buruk, dan kawan bergaul yang shaleh lebih baik daripada menyendiri. Berbincang-bincang yang baik lebih baik daripada berdiam, dan berdiam adalah lebih baik daripada berbicara (ngobrol) yang buruk."
|


Kamis, 17 Juni 2010 pukul 15:45 WIB
Penulis : Muhammad Hilmy
“Messi membawa bola, bola dioper ke Higuain. Dan Higuain tembak, GOOOLLLL!!!!!!”
Sontak para pecinta sepak bola turut berteriak “Goooooooollllll”, padahal saat itu waktu menunjukkan pukul 02.30 WIB. Harus diakui bahwa wabah demam Piala Dunia (PD) sedang menyerang sedari sore hingga malam, layar televisi Anda akan dihiasi pemain-pemain yang berusaha memasukkan sebuah bola ke gawang. Menarik? Mayoritas orang bilang seperti itu (termasuk saya). Membosankan? Mungkin bagi yang tidak menyukai bola akan berkata seperti itu. Buang-buang waktu? Bisa jadi juga, waktu tidur berkurang dan pagi-pagi fenomena menguap pasti akan terjadi.
Tapi tahukah Anda, bahwa fenomena pertandingan PD yang berlangsung tengah malam bisa menjadi jalan untuk latihan bangun malam? Di bulan Ramadhan kita mudah bangun malam karena harus sahur, maka tak ada salahnya kita berkata “di musim PD kita mudah bangun malam karena harus nonton tim kesayangan”. Mungkin tidak ada korelasi khusus antara pertandingan PD dengan tahajjud, namun bukankah akan lebih arif lagi jika kita melaksanakan shalat tahajjud sebelum/sesudah pertandingan tim kesayangan kita? Kalau tim kita menang, niscaya tahajjudnya jadi lebih enak. Kalau tim kita kalah, maka shalat tahajjud bisa jadi obat untuk meredakan hati yang marah. Sehingga agar nonton PD jadi berkah, jangan lupa untuk sekalian melaksanakan shalat tahajjud.
Jadi, bagi Anda yang gemar sepakbola namun sulit bangun malam untuk tahajjud, manfaatkan momen ini sebaik-baiknya untuk kembali melatih insting bangun malam kita, agar selepas PD kita bisa tetap giat bangun jam setengah dua untuk melaksanakan shalat tahajjud.
Selamat menikmati PD dengan bertanggung jawab.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Muhammad Hilmy sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.