|
QS. Luqman:17 : "Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). "
|
|
|
http://meylafarid.multiply.com |





Rabu, 16 Juni 2010 pukul 16:09 WIB
Penulis : Meyla Farid
Tumbuh sebagai anak dari seorang guru di tahun 80-90an, saya tahu banget apa arti istilah 'guru Oemar Bakri' dan 'guru tanpa tanda jasa'. Tidak seperti sekarang, dimana gaji guru sudah memenuhi standar kelayakan bagi kelangsungan hidup keluarganya. Ketika saya kecil, pemerintah saat itu belum benar-benar memperhatikan kesejahteraan pegawai negeri yang mereka sebut pahlawan tanpa tanda jasa ini.
Jaman ketika hanya ada 3 partai yang selalu bersaing. Dan jaman ketika setiap kali musim kampanye, pada akhirnya pastilah satu partai besar berwarna kuning yang menang. Partai yang mengusung gambar padi dan kapas di benderanya, dimana arti dari gambar tersebut adalah kesejahteraan merata bagi seluruh rakyat. Tapi pada kenyataannya, sebut saja untuk pegawai Oemar Bakri seperti ayah saya, sama sekali jauh dari kesejahteraan yang dijanjikan.
Setiap bulan menerima gaji, ayah juga harus mengeluarkan sepersekian dari gajinya sebagai potongan. Entah, untuk apa. Sampai sekarang saya belum mengetahuinya. Dari berbagai hal, banyak sekali potongan. Setiap bulan ketika ibu saya menerima 'setoran' gaji dari ayah, uang tersebut sebagian besar langsung ludes saat itu juga. Untuk apa? Untuk dibayarkan ke warung langganan, yang dengan baik hati selalu menghutangkan kami setiap kami membutuhkan. Wa Isoh, nama pemilik warung baik hati di kampung saya itu.
Yang saya ingat, setiap menjelang pertengahan bulan, ibu sudah harus terpaksa berhutang ke warung Wa Isoh. Bayangkan, seberapa 'besar' gaji ayah saya kalau tengah bulan saja sudah habis. Dan seberapa besar hutang keluarga kami tiap bulan ke warung Wa Isoh. Tapi Alhamdulillah setiap awal bulan ayah saya bisa menanggulanginya.
Begitulah kira-kira gambaran keluarga Oemar Bakri jaman dulu. Istilahnya, benar-benar gali lubang tutup lubang. Jangan membayangkan kami makan enak, maka gaji ayah bisa habis secepat itu. Saya ingat betul, setiap pagi saya sarapan dengan sekerat telor dadar, yang dibagi-bagi untuk ber-5. Satu telur, didadar, dan dipotong menjadi lima bagian, dan menjadi teman nasi kami semua. Ayah, ibu saya, saya, dan dua kakak saya. Tapi toh kami bisa menjalani hidup seperti itu. Ketika itu, susu juga masih merupakan makanan istimewa dan jarang bagi kami. Saya ingat sekali kalau ibu memaksakan diri membeli susu buat kami, kami sangat senang dan benar-benar menikmati susu tersebut.
Jika saya mengenang jaman perjuangan ayah saya dahulu sebagai guru, hati ini menjadi debu. Saya harus malu, dengan keadaan sekarang yang jauh lebih dimudahkan dibandingkan jaman kecil saya dulu. Tapi bukannya saya semakin mensyukuri setiap makanan dan susu yang bisa dengan relatif mudah didapat, malah semakin kurang menghargai pada keberadaan mereka. Dahulu, sepotong telur begitu kami syukuri. Sekarang, sebutir telur ditambah yang lainnya seakan tidak terasa 'keberadaannya'.
Bersyukur, bersyukur, dan harus menghargai setiap makanan yang ada. Tidak boleh membuang-buang makanan, apalagi memubadzirkan makanan. Ternyata ini sering saya lakukan tanpa saya sadari. Begitu tidak menghargai rezeki yang diberikan-Nya. Manusia, semakin banyak diberi, semakin lupa.
http://meylafarid.multiply.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Meyla Farid sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.