QS. Al-'Ankabuut : 64 : "Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui."
Alamat Akun
http://abisabila.kotasantri.com
Bergabung
30 Oktober 2009 pukul 19:46 WIB
Domisili
Tangerang - Banten
Pekerjaan
swasta
Seorang pembaca yang sedang belajar menulis.
http://www.abisabila.com
http://facebook.com/abi.sabila
http://twitter.com/AbiSabila
Tulisan Abi Lainnya
Ikhlas Apa Pelit?
19 Maret 2010 pukul 15:35 WIB
Tiga Pelajaran dalam Satu Pengajian
13 Maret 2010 pukul 16:45 WIB
Siapa Bilang Tidak Bayar?
9 Maret 2010 pukul 15:40 WIB
Jika Cinta Nabi
2 Maret 2010 pukul 15:34 WIB
Lelaki Pengendara Motor dan Sepeda
25 Februari 2010 pukul 15:30 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Jum'at, 26 Maret 2010 pukul 15:30 WIB

Selamat Datang Hidayah

Penulis : Abi Sabila

Hidayah, hadir dengan jalan berbeda dan tidak bisa dipaksa-paksa. Itulah pokok pembicaraan kami malam itu, usai mengaji sambil menunggu waktu Isya datang. Kami saling bertukar cerita, kapan dan bagaimana hidayah datang dan tetap bertahan hingga sekarang.

“Saya kembali rajin shalat tahajjud setelah mendengar sebuah lagu shalawat di komputer saya. Saat itu saya sedang kerja lembur, hanya sendirian. Untuk mengusir sepi, saya memutar lagu-lagu shalawat yang banyak tersimpan di komputer. Entah karena suasana kantor yang sepi, atau karena memang sudah saatnya hidayah itu datang kembali, syair lagu yang menceritakan keutamaan shalat tahajjud dalam bahasa Jawa itu benar-benar menyentuh hati. Saya yang sudah sekian lama tak mengerjakan shalat tahajjud, kembali tergugah untuk menjalankan shalat tahajjud. Alhamdulillah, sejak itu hingga sekarang saya kembali bersemangat mengerjakan shalat tahajjud. Setiap malam sebelum tidur, saya setel alarm di Hp saya agar bisa bangun jam setengah tiga," kisah salah satu jama'ah tentang sebuah syair lagu shalawat yang dirasakannya telah membangkitkan kembali semangat shalat tahajjud yang sudah berbulan-bulan ditinggalkannya.

“Kalau saya kembali rutin berpuasa sunnah Senin Kamis lantaran teman kerja, ketika saya masih bekerja di perusahaan yang lama. Kala itu hari pertama kerja setelah libur lebaran. Saat jam istirahat, Sarni (nama teman kerja saya), tetap asyik dengan pekerjaannya. Ketika saya tanya, rupanya dia sedang puasa sunnah bulan Syawal. Mendengar itu, saya dan mas Yatno yang kebetulan bertugas satu mesin dengannya sepakat untuk berpuasa sunnah bulan Syawal mulai besok paginya. Alhamdulillah, sejak saat itu saya kembali rajin berpuasa sunnah Senin Kamis, juga puasa tengah bulan tanggal 13, 14, dan 15. Sudah lebih dari tujuh tahun kami tak berkumpul lagi, semenjak saya keluar dari perusahaan tersebut. Semoga mereka berdua senantiasa istiqamah dan diberkahi Allah,“ kenang seorang jama'ah lainnya. Dia merasa dua orang rekan kerjanyalah yang telah membangkitkan kembali semangatnya untuk berpuasa sunnah.

Seorang jama'ah yang lain menimpali dengan ceritanya, bagaimana sang istri kini istiqamah mengenakan jilbab di rumah. “Kalau istriku, jujur saja, mengenakan jilbab karena awalnya terinspirasi dari salah satu artis yang diidolakannya. Sang artis merubah penampilannya dengan mengenakan jilbab yang sesuai syar’i. Awalnya saya agak cemas, jangan-jangan istriku hanya sekedar mengikuti trend saja, dan kembali melepas jilbabnya jika satu saat sang artis melepaskan jilbabnya. Tapi alhamdulillah, sudah tiga tahun lebih istriku berjilbab. Bukan hanya ketika hendak bepergian, tapi di rumah pun dia tetap mengenakannya. Yang lebih membuatku bersyukur, rupanya keinginannya berjilbab bukan semata karena artis idolanya. Ia sudah mantap dan merasa nyaman dengan penampilannya sekarang, bahkan ia tak lagi mengidolakan sang artis. Baginya, lebih pantas jika ia mengidolakan Siti Khadijah ataupun Siti Aisyah.”

Seorang jama'ah di sebelah kiriku membagi cerita tentang kebiasaannya berwudhu ketika hendak bepergian atau berangkat kerja. “Saya sering membaca artikel di salah satu situs Islam, bahkan saya kemudian mengoleksi tulisan-tulisan yang dikirim oleh pembaca situs tersebut dalam komputer saya. Sampai saat ini jumlahnya sudah ratusan, bahkan sepertinya sudah hampir mencapai ribuan. Salah satu tulisan yang sangat berkesan dan membawa perubahan pada kebiasaan saya adalah tentang seseorang yang senantiasa menjaga wudhunya. Sebelumnya saya hanya berwudhu ketika hendak shalat atau membaca Al-Qur'an. Tapi setelah membaca artikel tersebut, setiap hendak bepergian, termasuk akan berangkat kerja, saya wudhu terlebih dulu. Hanya saja, saya belum bisa untuk terus memperbaharui wudhu ketika jam kerja. Pernah ada teman kerja yang menyangka bahwa saya mengantuk, sehingga harus mondar-mandir ke kamar mandi untuk cuci muka. Tapi bukan karena itu, bukan karena risih dengan pertanyaan mereka, sebab setelah kujelaskan, mereka tak lagi mempermasalahkannya. Hanya saja, jujur saya sendiri yang belum bisa menjaganya. Ada saja godaannya, paling sering adalah saya jadi sering merasa ingin buang angin, dan terkadang jadi malas untuk sering-sering berwudhu kembali. Tapi paling tidak, setiap mau berangkat kerja dan juga bepergian lainnya, saya selalu mengusahakan untuk berwudhu terlebih dulu. Alhamdulillah, ada perasaan nyaman ketika bepergian dalam kondisi berwudhu.”

“Dulu aku berfikir tak perlu shalat di mushala, toh di rumah aku juga sudah shalat berjama'ah dengan istri dan anakku. Namun pandanganku berubah, terutama setelah aku bertemu dengan ‘jelmaan malaikat’. Aku anggap demikian karena sampai saat ini aku tidak tahu pasti siapa dan yang mana pria muda yang telah mengubah pola pikirku tentang shalat di mushala. Seorang remaja berpakaian muslim, lengkap dengan sarung dan peci berpapasan di jalan, ketika aku baru pulang dari jalan-jalan dengan keponakan. Aku masih ingat, saat itu dia baru pulang dari shalat Ashar di mushala. Ajaib, melihat penampilannya yang sangat jarang kulihat di sekitar sini, terutama untuk anak muda seumuran dia, saat itu juga aku tergugah dan langsung berazam untuk shalat berjama'ah di mushala. Alhamdulillah, sejak saat itu sampai sekarang, aku benar-benar telah jatuh hati dengan mushala ini,“ kenangku tentang pria muda ‘misterius’ yang sampai saat ini tak pernah kuketahui secara pasti.

“Kalau aku, meski terkadang hanya dua rakaat, aku berusaha untuk tetap shalat Dhuha. Tak masalah jika yang kulakukan terlihat asing di kantorku, karena itu jugalah yang dilakukan oleh teman kerja yang berlainan kantor denganku. Sebelum kerja di perusahaan sekarang, aku hampir tidak pernah mengerjakan shalat Dhuha. Di perusahaan yang lama, rasanya belum pernah aku melihat ada yang melakukan shalat Dhuha. Tapi alhamdulillah, di perusahaan sekarang aku mengenal seorang yang istiqamah menjalankan shalat Dhuha. Aku salut dengannya, dan aku berusaha untuk tetap menjalankannya sebelum memulai bekerja. Aku sengaja menyisakan tempat seukuran sajadah di sela-sela rak file khusus untuk aku shalat dhuha,” kisah jama'ah yang duduk di ujung.

***

Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendakinya, dengan jalan yang berbeda-beda. Tak selamanya hidayah datang kepada seseorang pada saat mengikuti sebuah pengajian. Tak jarang, ceramah seorang da'i kondang hanya sekedar didengarkan tanpa mampu menggugah jama'ah yang mendengarkan untuk melakukannya. Tapi, terkadang dari sebuah kejadian sederhana yang jauh dari forum-forum pengajian, hidayah itu datang kepada sesorang, menyentuh dan menggerakannya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Hidayah tidak bisa dipaksa-paksa, kalaupun bisa biasanya tidak bertahan lama. Hidayah akan tetap bertahan manakala seseorang menerima dengan segala kesadarannya. Seperti jama'ah yang rajin shalat tahajjud, ia tak pernah putus asa meskipun istrinya belum mengikutinya. Ia tetap optimis dan berdo'a agar Allah memberikan juga hidayah itu pada istrinya. Juga jama'ah yang rajin puasa sunnah, ia tak pernah terpengaruh rekan-rekan kerjanya yang tidak puasa. Dia berharap, satu saat nanti mereka akan mendapatkan hidayah, sebagaimana dulu dia mendapatkan hidayah melalui teman kerjanya. Atau istri seorang jama'ah yang memutuskan untuk mengenakan jilbab, ia tetap istiqamah meskipun ibu dan adik kandungnya sampai saat ini belum mengikuti langkahnya. Ia yakin, keinginan itu sudah ada, hanya mungkin masih menunggu waktu yang tepat. Juga jama'ah yang selalu menjaga wudhunya, meski sampai saat ini belum bisa selalu memperbarui wudhunya, ia tetap beruasaha agar hidayah itu tertanam di hatinya. Begitu pun aku, meski saat kejadian yang kuanggap awal hidayah itu aku bersama dengan keponakanku, sampai saat ini dia belum sepenuhnya melakukan shalat berjama'ah di mushala, namun aku yakin satu saat nanti dengan izin Allah, ia juga akan mengikuti langkahku. Juga, jama'ah yang rajin mengerjakan shalat dhuha tak membuat rekan kerja lainnya tersadar untuk shalat bahkan untuk shalat wajib sekalipun, namun dia tetap berharap satu saat nanti hidayah akan mendatanginya dengan caranya yang terkadang tidak terduga.

Bagaimana dengan anda? Semoga tulisan ini bisa menjadi jalan agar hidayah itu bisa masuk dan tetap bertahan pada diri kita. Insya Allah.

http://www.abisabila.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Abi Sabila sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Desy Rahayu | Pegawai
Saya baru bergabung di KotaSantri.com setelah saya membaca beberapa cerita yang sangat menarik, saya berkeinginan juga untuk berbagi cerita dengan Anda semua.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1829 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels