HR. Ahmad & Al Hakim : "Kemuliaan orang adalah agamanya, harga dirinya (kehormatannya) adalah akalnya, sedangkan ketinggian kedudukannya adalah akhlaknya. "
Alamat Akun
http://abuaufa.kotasantri.com
Bergabung
6 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Pontianak - Kalimantan Barat
Pekerjaan
Lecturer
Abu Aufa, nama pena itu yang digunakan dalam setiap goresan penanya. Terlahir 38 tahun silam dengan nama Ferry Hadary, ia adalah suami dari Mirya Emeralda, serta abi dari Hikari Aufa Rafiqi (Aufa, almarhum) dan Zafirah Asy Syifa (Asy Syifa, 1 tahun 9 bulan). Anak ke-2 dari 4 bersaudara ini, lahir …
ferryhadary
Tulisan Ferry Lainnya
Bekerjalah dengan Cinta
16 Januari 2010 pukul 16:24 WIB
Embun di Daun Semanggi
12 Januari 2010 pukul 20:31 WIB
Suami Mencintai Istri
9 Januari 2010 pukul 17:46 WIB
Beautiful
6 Januari 2010 pukul 16:30 WIB
Itu Santa, Nak...
22 Desember 2009 pukul 16:25 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Selasa, 26 Januari 2010 pukul 16:46 WIB

Anak Bangsa

Penulis : Ferry Hadary

Sepasang kaki menghentak lantai, silih berganti kiri dan kanan. Tangannya pula bergerak berayunan. Sementara bibir mungil mencoba mengikuti lagu yang didengar seraya pandangan tak lepas dari layar kaca. Ia dengan semangat meniru Tasya yang lucu bergaya sambil bernyanyi Aku Anak Indonesia.

Aku anak Indonesia, anak yang merdeka
Seribu pulaunya, ragam sukunya, satu jiwa raganya
Indonesia, Indonesia
Aku bangga menjadi anak Indonesia

Entahlah, rasanya anakku belum mengerti dengan makna kata yang coba dinyanyikannya. Mungkin gaya menggemaskan penyanyi cilik tersebut yang lebih menarik perhatian. Sementara itu, tampak beberapa anak lain juga ikut bernyanyi dan menari bersama idola mereka. Kaki-kaki serentak menghentak dan kepalan tangan teracung meninju angkasa. Tampak rasa optimis mereka sebagai anak Indonesia.

Hmm...
Seketika, tingkah laku anak-anak bangsa tersebut membuatku tersenyum. Begitu jelas wajah-wajah itu memancarkan semburat bangga. Mereka masih bisa tertawa, bernyanyi riang gembira tanpa peduli apa yang terjadi kelak dengan masa depannya. Sementara realita di luar sana mungkin akan membuat mereka sukar untuk menggantungkan cita-cita setinggi bintang.

Biaya pendidikan yang semakin tak terjangkau, tingkat gizi yang rendah, hingga kesejahteraan yang masih sangat memprihatinkan adalah beberapa kenyataan yang ada. Entah bagaimana mereka nanti akan hidup, tumbuh, serta berkembang menjadi anak-anak yang berbudi luhur, cerdas, dan ceria.

Ah!!! Bagi kita orang dewasa atau mungkin salah satu dari orangtua mereka, semua itu terkadang membuat kita sulit merasa bangga menjadi warga negara Indonesia. Karenanya tak heran ada yang berpendapat Indonesia belum merdeka hingga di usia 60 tahunnya. Tak jarang pula habis-habisan mencela padahal tak pernah sedikit pun memberi sumbangsih untuk negeri tercinta.

Hei...!!!
Lihatlah anak-anak bangsa! Mereka tetap saja bergembira. Riuh rendah bersorak-sorai, terpingkal-pingkal mengikuti lomba balap karung, makan kerupuk, atau memanjat pohon pinang yang telah dilumuri sisa oli kental. Bahkan ketika harus jatuh di sungai kecil yang kotor karena tepukan bantal temannya pun membuat mereka berteriak senang. Wajah-wajah mungil itu tampak sumringah, walau harus pulang dengan tubuh berpeluh, berbalur lumuran oli, atau bau keringat yang menyengat. Tataplah pula bola mata mereka! Tidakkah terpancar binar bangga menjadi anak Indonesia?

Dan ketika esok dan hari kemudian terus menjelang, langkah-langkah kecil itu selalu bersemangat pula melangkah ke sekolah. Menapak aspal jalan walau dengan kaki telanjang sambil membawa peralatan tulis yang begitu sederhana. Bahkan ketika polio merajalela, busung lapar, deman berdarah, atau aneka penyakit lainnya, wajah anak bangsa masih mampu tersenyum bahagia. Sementara kita lah yang selalu berkeluh kesah dan tak pernah merasa telah merdeka.

Padahal, bukankah mereka yang mestinya lebih berhak khawatir dan resah karena masa depan ini adalah miliknya? Namun, ternyata mereka bisa tersenyum, bernyanyi, menari, bergembira walau dengan segala kekurangan yang ada di negerinya.

Ketika banyak koruptor yang menetap di luar negeri setelah puas mengeruk kekayaan Bumi Pertiwi, atau para remaja yang telah kehilangan jati diri dengan latah meniru budaya luar yang tak lebih baik bahkan lebih rendah dari budaya negeri Ibu Kartini, maka sepantasnya kita semua mau belajar dari anak-anak bangsa ini.

Mereka pula gambaran masa depan bangsa, penerus cita-cita Proklamasi nan mulia. Semoga seumur hayat mereka akan selalu bangga dengan Indonesia. Entah nanti setelah besar terpaksa menjadi tenaga kerja di negeri orang, mereka pun tak malu, karena masih terselip rasa bangga. Hingga, jika nanti di suatu saat mereka telah menjadi orang pintar, diminta mengajar atau bekerja di negeri seberang, tak juga lupa mengaku sebagai anak bangsa.

Busungkan dan selalu tepuk dada, katakan kepada semua orang yang bertanya, "Aku anak Indonesia dan selalu bangga karenanya."

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ferry Hadary sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Meyla Farid | Guru
Isinya sangat bagus dan bermanfaat. Site favoritku untuk saat ini. :)
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1238 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels