Ibn Qudamah : "Ketahuilah, waktu hidupmu sangat terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desahnya akan mengurani bagian dari dirimu. Sungguh, setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tak ada bandingannya."
Alamat Akun
http://amalia_mahbuby.kotasantri.com
Bergabung
15 November 2009 pukul 17:49 WIB
Domisili
kota cinta - Jawa Timur
Pekerjaan
Mahasiswa
Tulisan Ichy Lainnya
Surat Cinta untuk Wanita Surga
24 Desember 2009 pukul 17:40 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Sabtu, 2 Januari 2010 pukul 15:00 WIB

Cara Mereka Mengasihi Kita

Penulis : Ichy Azalea

6 tahun yang lalu. Hari ini kelulusanku dari Sekolah Dasar. Ayah mewakili orangtua murid memberikan sambutan. Baru beberapa patah kata beliau menangis sesenggukan dan tak dapat lagi meneruskan kata-katanya. Jujur saat itu aku malu, mungkin teman-temanku berpikir ayahku cengeng. Namun setelah itu, hadirin memberikan applaus yang begitu meriah untuk ayahku.

Bukan, ayah bukannya cengeng. Pantang baginya seorang lelaki untuk menangis, tapi saat itu ia tak dapat menahan rasa haru dan bangga pada anaknya. Beliau seakan ingin menunjukkan pada dunia, “Aku rela mengeluarkan airmata ini di depan orang banyak karena ini adalah airmata kebanggaanku padanya.” Padahal aku hanya (baru) lulus dari Sekolah Dasar, belum bisa memberikan apa-apa untukmu, ayah.

5 tahun yang lalu. Melelahkan sekali hari ini, tapi terbayarkan dengan perasaan puas setelah bermain seharian dengan teman-teman. Hari mulai menjelang senja, sudah saatnya pulang. Tapi belum lagi aku sampai di depan pagar rumah, mama sudah menghadangku di tengah jalan. Gugup dan takut sudah berebutan di pikiranku. Benar saja, mama langsung menarikku ke dalam rumah, dan memarahiku habis-habisan. Aku sungguh malu pada teman-temanku yang menyaksikan.

Bukan, mama bukanlah seorang ibu yang galak. Aku tahu, mama tidaklah bermaksud memarahiku, tapi rasa khawatir beliau tak tertahankan, anaknya baru pulang menjelang senja. Pasti tadi mama kebingungan, tak rela sesuatu yang buruk terjadi pada anaknya. Maafkan aku, mama.

Kini, aku sudah menginjak kelas 3 SMU, perlu mengikuti tambahan bimbingan belajar. Aku minta dibelikan motor agar lebih mudah pergi ke tempat les dari asrama. Mama pun membelikannya untukku, tapi ayah malah melarangku untuk membawa motor tersebut ke kota tempatku sekolah. Aku berdebat di meja makan dengan ayah, aku tidak suka jika ayah masih saja menganggapku anak kecil. Akhirnya ayah bilang, “Mungkin ini karena ayah terlalu menyayangimu.” Aku tak dapat membantah lagi.

Aku tahu, selama ini ayah paling tidak bisa mengekspresikan rasa sayangnya lewat kata-kata. Tapi malam ini, ayah berkata seperti itu, sungguh aku merasa sangat bersalah. Ayah bukanlah menganggap aku masih si kecil yang lemah, tapi baginya, selamanya aku akan menjadi “si kecilnya” yang begitu ia sayang. Beliau pasti tak ingin kejadian buruk yang pernah terjadi dulu terulang lagi. Lama ayah baru bisa meyakinkan hatinya untuk mengizinkanku membawa motor. Aku pasti akan hati-hati, ayah.

Orangtua mungkin mengekspresikan kasih sayang mereka dengan cara yang berbeda, hingga saat itu tak mampu kita pahami. Tapi seiring berjalannya waktu, kedewasaan menuntut kita memahami kenangan-kenangan itu untuk diambil pelajaran. Berterima kasihlah kepada orangtua tercinta, yang tak pernah lelah membimbing kita untuk mengisi “kantong-kantong” bekal ini, dalam melewati perjalanan yang pasti akan lebih menantang.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ichy Azalea sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Yussi | Karyawati
Subhanallah sekali bisa bergabung di KotaSantri.com. Barakallah...
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1201 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels