Umar bin Khattab : "Kebajikan yang ringan adalah menunjukkan muka berseri-seri dan mengucapkan kata-kata yang lemah lembut."
Alamat Akun
http://abisabila.kotasantri.com
Bergabung
30 Oktober 2009 pukul 19:46 WIB
Domisili
Tangerang - Banten
Pekerjaan
swasta
Seorang pembaca yang sedang belajar menulis.
http://www.abisabila.com
http://facebook.com/abi.sabila
http://twitter.com/AbiSabila
Tulisan Abi Lainnya
Makan Malam di Pinggir Istana
4 Desember 2009 pukul 15:33 WIB
Takut Kiamat? Bohong!
30 November 2009 pukul 15:15 WIB
Bukankah Menjadi Tua Itu Wajar dan Pasti?
24 November 2009 pukul 15:00 WIB
Sama Harinya, Beda Aktivitasnya
18 November 2009 pukul 15:55 WIB
Bawang Putih untuk Istriku
12 November 2009 pukul 15:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Selasa, 8 Desember 2009 pukul 16:55 WIB

Merindu Baitullah

Penulis : Abi Sabila

Aku sengaja tidak langsung pulang meskipun sebagian besar jama'ah shalat Idul Adha sudah pulang ke rumah masing-masing. Bahkan sampai semua tikar yang dihamparkan di halaman mushala sudah selesai dirapihkan, aku masih menunggu lelaki itu menyelesaikan shalat dhuhanya. Ada sesuatu yang membuatku penasaran dan ingin segera kudapatkan jawaban darinya.

Lelaki bersarung coklat itu datang kurang lebih tiga puluh menit sebelum shalat Idul Adha dimulai, hanya berselang beberapa menit setelah kedatanganku. Dia mengambil tempat duduk tepat di samping kananku. Sejak kedatangannya, dia lebih banyak menunduk. Suara takbirnya hanya samar-samar kudengar. Beberapa kali aku sempat menangkap gerakan tangannya mengusap mukanya. Lebih tepatnya menghapus air mata yang meleleh di pipinya.

Gerak tangannya yang sebisa mungkin dia sembunyikan dari orang banyak itu semakin sering kulihat ketika sang khatib mulai menyampaikan khutbah Idul Adha pagi itu. Barangkali tidak banyak jama'ah yang menyadari hal ini, namun dia tak bisa menyembunyikannya dariku yang secara diam-diam memperhatikan gerak-geriknya sejak awal kedatangannya. Aku tahu persis saat isakan tangis tak dapat ditahannya, juga ketika pundaknya terguncang setiap khatib melafalkan kalimat Labaik Allahuma Labaik, Labaik Kalasyarikala Labbaik.

Maaf, jika karena saya kekhusyukan akhi jadi terganggu,“ suaranya masih serak ketika lelaki itu menjawab pertanyaanku mengapa dia menangis saat khatib menyampaikan khutbah tadi. Wajahnya tertunduk, dia terlihat salah tingkah di depanku.

Oh ndak, justru aku yang minta maaf. Mungkin aku yang terlalu ingin tahu persoalan pribadi akhi,“ jawabku agak gugup. Jujur, aku jadi malu dan baru sadar, jangan-jangan rasa penasaranku sudah melanggar batas privasinya.

Betul akhi, tadi saya menangis saat mendengar khutbah ustadz. Ja'I, bahkan sejak saya datang di mushala ini sebenarnya sudah tak bisa menahan perasaan saya. Saya menangis karena saya rindu, khi, rindu sekali," suara laki-laki yang terlihat segar dengan baju koko warna hijau muda itu terhenti. Dia tertunduk, entah malu atau masih mencoba menata perasaanya.

Akhi rindu dengan keluarga? Rindu orangtua, anak, atau istri?” tanyaku semakin penasaran.

Dia tak langsung menjawab. Kulihat dia menarik nafas cukup panjang. Kupastikan dia sedang menata perasaannya sebelum menjawab pertanyaanku.

Bukan! Kedua orangtua saya hari ini justru baru datang dari kampung. Pagi tadi mereka sampai di rumah kakak saya di Cibitung. Kalau istri dan anak saya kan ada di sini, kumpul dengan saya setiap hari. Siang nanti kami akan ke sana, berkumpul dengan saudara-saudara yang lainnya. Kebetulan besok kakak saya akan mengadakan resepsi pernikahan salah satu keponakan saya.”

Aku terdiam, menunggu penjelasannya lebih lanjut. Tak lama kemudian dia pun melanjutkan ceritanya.

Saya rindu Baitullah, khi. Saya ingin sekali bisa ziarah ke Mekkah dan Madinah. Saya ingin sujud di depan Ka'bah, bersimpuh di Arafah. Tapi semua itu masihlah mimpi, semuanya karena alasan ekonomi,” kali ini lelaki ini menjawab tanpa memandang ke arahku. Diarahkan pandangannya pada atap tempat wudhu yang baru selesai dikerjakan seminggu yang lalu. Nyata sekali dia tak ingin aku melihat matanya yang kembali berkaca-kaca.

Layaknya orang yang sedang jatuh cinta, ketika rindu menyapa, maka bukan hanya makan saja yang tak enak, namun tidur pun menjadi tak nyenyak. Barangkali begitulah rasa rindu yang kini menyelimuti hati dan perasaan lelaki beranak satu ini. Bisa jadi malah rasa rindu itu sudah begitu mendendam, hingga hatinya begitu mudah tersentuh ketika mendengar kumandang takbir.

Beberapa saat kami saling terdiam, menyelami perasaan masing-masing. Timbul perasaan malu dalam hatiku bila mengingat pertanyaanku tadi. Dugaanku ternyata salah, terlalu rendah dan murah mengartikan tangisannya. Dia bukan sekedar merindukan perjumpaan dengan keluarganya, tapi lebih dari itu, dia merindukan kehadirannya di Baitullah.

Kalau keinginan untuk bisa menunaikan ibadah haji, aku rasa bukan hanya aku atau dia, tapi seluruh muslim di penjuru dunia ini memiliki keinginan yang sama. Jangankan yang belum pernah, rata-rata yang sudah pernah ibadah haji pun ingin mengulangnya lagi. Lagi dan lagi. Saat-saat menyimak khutbah Idul Adha adalah saat yang paling mudah menggugah perasaan haru mereka yang sudah menunaikan ibadah haji. Tak heran bila ada seorang khatib yang suaranya menjadi terbata ketika menyampaikan khutbahnya. Kenangan indah di Baitullah membuat hatinya menjadi mudah tersentuh.

Tapi lelaki yang kini duduk tepat di depanku dan masih belum mau menghadapkan kembali wajahnya kepadaku sedemikian terharunya hingga tak mampu menahan tangis, padahal setahuku dia belum pernah melaksanakan ibadah haji. Kalau bukan karena manisnya kenangan, pastilah karena kerinduan yang mendalam tentang indahnya menjadi tamu Allah yang selama ini baru mampu ia bayangkan. Aku kembali merasa malu. Satu hal yang tak pernah terjadi pada driku, meski kupastikan bahwa dalam hatiku pun sebenarnya merindukan panggilan itu ditujukan kepadaku.

Sesaat kemudian aku tersadar. Aku yang telah membuat suasana hatinya semakin pilu, maka aku pulalah yang harus menghiburnya.

Akhi, sekali lagi saya minta maaf jika pertanyaan saya tadi justru membuat hati akhi semakin sedih. Insya Allah keharuan yang akhi rasakan, kerinduan yang akhi tahankan, mudah-mudahan membukakan jalan dan memudahkan segala urusan untuk bisa mewujudkan mimpi akhi menunaikan ibadah haji. Mungkin tahun sekarang belum, tahun depan siapa tahu. Bukankah Allah Mahakaya juga Mahakuasa. Bukan perkara besar bagiNya memberikan jalan bagi akhi untuk bisa menunaikan ibadah haji. Jagalah terus niat dan keinginan, gunakan waktu menunggu ini untuk mengumpulkan ilmu dan jangan lupa pula untuk terus menabung. Akhi sudah mulai menabung kan?” aku mencoba menghiburnya, membangkitkan kembali semangatnya.

Lelaki itu hanya menjawabnya dengan anggukan dan senyuman. Aku membalasnya dengan tersenyum pula. Kujabat erat tangannya, dan kami pun kemudian berpisah. Aku harus segera pulang karena istri dan anakku pasti sudah menunggu di rumah.

***

Saudaraku, dengan dalamnya rindu yang kau rasakan, derasnya air mata yang kau teteskan, semoga Allah memudahkan bagimu jalan untuk bisa mewujudkan impian, harapan, dan keinginan menyempurnakan rukun Islam. Bukan hal mustahil jika tahun depan Allah memilihmu menjadi tamuNya, karena Dia Mahakaya, Mahakuasa, Maha Berkehendak, dan Mahasegalanya. Insya Allah.

http://www.abisabila.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Abi Sabila sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Cybi Newsletter | Buletin Bulanan
Situs ini berisi berbagai tulisan menarik yang bernuansa anak muda. Walau demikian, situs ini tetap dapat memberikan siraman rohani dan memperkaya wawasan Anda, ketika membaca dan menekuninya.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1216 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels