|
QS. An-Nahl : 97 : "Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."
|
|
shirotsuya@gmail.com |
|
shirotsuya |

Rabu, 2 Desember 2009 pukul 16:20 WIB
Penulis : Ninja Insaf
Malam hari itu, Sabtu, 26 September 2009, penulis sedang ada dalam acara syawalan kampung. Di tengah acara, pak Ketua RT 05 pamit pada penulis, yang kebetulan bertugas menjadi MC, karena harus segera meluncur ke lokasi taman candi Prambanan, membantu tetangga untuk mengangkut beberapa barang yang masih bisa diselamatkan, jika ada. Apa pasal?
Malam hari itu ada kejadian yang cukup menghebohkan, sempat menjadi buah bibir masyarakat yang tahu akan kejadian tersebut, termasuk di rumah saya. Malam itu ada kebakaran di lokasi taman candi Prambanan, yang di sana terdapat banyak kios yang digunakan untuk menjajakan pakaian, souvenir, pernak-pernik, mainan, dan sebagainya. Semua kios habis dilalap api, meski pemadam kebakaran mengerahkan 9 mobil pemadam kebakaran. Sepertinya tidak ada lagi barang yang bisa diselamatkan, karena para pemilik kios juga terlambat datang padahal api sangat cepat menjalar. Kios-kios itu, menurut kabar yang saya dengar, kebanyakan terbuat dari papan tripleks. Sehingga tentu api dengan renyahnya melahap kios-kios tersebut. Mungkin (karena saya juga tidak di sana) para pemilik kios berteriak histeris menyaksikan barang dagangannya ludes, tinggal abu.
Di antara banyak pemilik kios, mungkin hanya satu yang menderita kerugian paling besar. Tak kurang dari Rp. 700 juta amblas akibat peristiwa itu. Masya Allah... Saya sendiri belum pernah melihat uang sebanyak itu. Dan pastinya lebih, karena jumlah itu baru terhitung uang yang tersimpan di sana, belum termasuk barang dagangannya. Wah.. wah.. wah.., bagaimana rasanya ya kehilangan sebanyak itu? Meski pihak pengelola candi memberikan ganti Rp. 10 juta per kios, jelas tidak sebanding dengan jumlah itu.
Tapi, mungkin ini merupakan peringatan kepada orang itu. Kabarnya, pendapatannya per hari (entah total omset atau bersihnya) Rp. 10 juta. Tapi sepertinya tidak mau men-zakat-i harta tersebut. Idul Adha kemarin tidak tahu juga, ikut berqurban atau tidak. Bahkan, dengan tidak tahu malunya, dia ngganthol (mengambil secara ilegal) listrik dari aliran listrik di jalan untuk keperluan tertentu. Padahal penghasilannya sebanyak itu, tapi tidak mau kehilangan sedikit uang untuk membayar biaya pemakaian listrik dan memilih cara ilegal. Apakah yang seperti itu bukan bakhil namanya?
Maka ini bisa menjadi pelajaran bagi kita. Logikanya, kalau kita sudah menjadi wajib pajak, misalnya pendapatan sudah memenuhi PKP (Penghasilan Kena Pajak), ya harus bayar pajak. Kalau tidak bayar pajak, nanti kena denda, atau disita. Seperti itu pulalah dalam zakat, kalau sudah mencapai nishab, maka zakatnya harus dibayarkan. Jika tidak, maka Allah akan menarik dendanya, atau bahkan disita hartanya. Sudah banyak contoh orang yang kehilangan harta jauh lebih banyak akibat tidak mau membayar zakat atau shadaqah. Padahal, harta yang dizakatkan atau dishadaqahkan tidaklah hilang, melainkan justru menjadi tabungan milik kita yang sejati, yang jumlahnya dilipatgandakan hingga tujuhratus kali lipat oleh Allah.
Wallaahu a'lam...
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ninja Insaf sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.