|
Umar bin Khattab : "Kebajikan yang ringan adalah menunjukkan muka berseri-seri dan mengucapkan kata-kata yang lemah lembut."
|
Senin, 23 November 2009 pukul 15:20 WIB
Penulis : BUYUNG AZHAR
Lebaran tahun ini secara umum tidak seperti lebaran tahun-tahun sebelumnya (penuh keceriaan dan kegembiraan), kali ini kami lalui dengan sedikit keprihatinan karena orang tertua dalam keluarga kami yang di Jakarta sedang sakit keras.
Kami membiasakan untuk berkumpul di rumah Bude kami pada Idul Fitri hari ke-2. Pada saat itu, Bude kami antara sadar dan tidak sadar menanyakan semua keluarga kami satu-persatu, keadaan tersebut semakin membuat hati kami yang sedang berkumpul merasa sangat sedih.
Di tengah kami berkumpul (bersilaturrahim sambil menjenguk Bude kami yang sedang sakit), mbakku yang di Solo telepon, mengabarkan bahwa ibuku masuk rumah sakit. Spontan aku berucap astaghfirullah. Aku bertanya dalam hati, kenapa Allah memberikan cobaan ini bersamaan. Benarkah Allah sedang menguji kesabaran kami? Itu berarti Allah sangat menyayangi kami.
Kami pun akhirnya mengatur segala sesuatunya. Sudah menjadi kebiasaan di keluargaku, setiap masalah selalu dipecahkan bersama. Aku sangat bersyukur hidup di tengah keluarga besarku. Akhirnya, akulah yang harus pulang ke Solo lebih dulu, selain yang sakit adalah Ibu kandungku, memang sudah jadwalnya aku harus pulang.
Begitu tiba di Solo, aku langsung ke rumah sakit untuk menjenguk ibuku. Aku tak sanggup untuk menahan tangis ketika aku lihat tubuh kurus Ibuku terbaring dan masih tertidur di kasur. Hanya senyum mbakku yang masih tersisa di antara lelah dan cape yang ia rasakan karena harus menjaga Ibu. Aku sendiri hanya dua bersaudara dengan mbakku.
Ibuku terbangun karena terganggu suara tangisku. Alhamdulillah, rupanya kedatanganku bisa membuat semangat ibuku tumbuh. Apakah mungkin ibuku kangen sekali, padahal belum lama aku pulang ke Solo dan ibu pun juga dari Jakarta. Tapi alhamdulillah, semenjak kedatanganku, dan tentunya atas karuniaNya, kesehatan ibu berangsung-angsur membaik.
Inilah hikmah yang ingin aku sampaikan. Pada hari kedua aku menjaga ibu di rumah sakit, ibu minta diantar ke kamar mandi. Dengan segala rasa bersalah, aku pun memapahnya ke kamar mandi, dengan membawa tiang dan selang infuse. Tapi beliau tidak mau aku tunggui di dalam kamar mandi, aku diminta untuk ke luar.
Setelah selesai, aku bermaksud untuk membersihkannya, dan aku terkejut ketika ibuku tidak mau. Aku masih tertegun atas penolakan beliau. Sambil menangis, aku bertanya kenapa ibu menolaknya, "Tidakkah ibu ingin aku berbakti kepada Ibu, dengan cara apa pun aku akan lakukan untuk Ibu?"
Ternyata beliau punya alasan lain, beliau bilang, “Aku telah mengadungmu selama 9 bulan. Aku telah mengorbankan nyawa untuk melahirkanmu. Aku telah menyusuimu dengan Ikhlas. Aku telah menjalankan kewajibanku untuk mendidik, menjaga, dan mengasuhmu. Semua itu aku lakukan dengan Ikhlas, nak. Berbakti tidak harus mengotori tanganmu. Ibu melahirkanmu, bukan untuk membuatmu menjadi susah."
Setelah mendengar perkataannya tersebut, aku tak bisa menahan tangisku. Aku peluk beliau erat-erat, kemudian aku bersimpuh di kaki beliau dan mohon maaf. Aku merasa bahwa aku bukanlah apa-apa di hadapan ibuku.
Dalam nasehatnya kepada kami, beliau berkata, sampai kapan pun ia tetaplah seorang Ibu yang akan memberikan kasih sayangnya dengan tulus, yang selalu berdo'a untuk anak-anaknya. Tidak peduli bagaimana pun keadaan anaknya, sejahat atau sebaik apa pun anaknya, do'a seorang ibu akan selalu mengalir setiap waktu, setiap helaan nafasnya, setiap kedip matanya, di setiap shalatnya.
Kami tak kuasa lagi untuk berdiam, kami (aku dan mbakku) berpelukan, menangis sedih, bahagia sekaligus bangga memiliki ibu yang begitu mulia hatinya. Itulah rahasia Allah. Dengan kejadian tersebut, kesehatan ibuku semakin membaik dan diperbolehkan pulang lebih cepat dari perkiraan dokter.
Sekarang, kewajiban kami untuk berbakti kepadanya. Untuk menjaganya, kami memang tidak mampu karena jarak dan waktu, maka kami menitipkannya pada Allah untuk menjaganya, karena memang tinggal ibulah harta kami yang paling berharga.
Ibu, maafkanlah apabila selama ini kami sudah sering menyakiti ibu, telah menyusahkan ibu. Kami tak kan bisa membalas apa yang telah ibu lakukan buat kami, sedikit pun kami tak kan sanggup membalasnya.
Ya Allah, berikanlah kami kesempatan untuk berbakti dan membahagikan ibu. Berikanlah beliau umur panjang agar kesempatan kami untuk berbakti semakin banyak. Ampunilah segala dosa-dosanya, lindungilah beliau dalam segala keadaan.
Solo, 6 Syawal 1428 / Oktober 2007
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan BUYUNG AZHAR sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.