|
Ibn Qudamah : "Ketahuilah, waktu hidupmu sangat terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desahnya akan mengurani bagian dari dirimu. Sungguh, setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tak ada bandingannya."
|

Sabtu, 14 November 2009 pukul 15:05 WIB
Penulis : Mundzakir
Rasa lelah fisik, capek pikiran selalu saja ada pada diri ini setiap melakukan aktifitas atau setelah melakukan aktifitas itu. Ya, semua kulakukan pekerjaan ini karena aku ingin agar aku besok bisa makan, bisa membantu biaya sekolah adik-adikku, bisa nabung untuk ini itu. Itulah yang ada dalam pikiranku saat itu. Semua aktivitas pekerjaan telah menjadi beban kewajiban.
Keluh kesah diri hanya dilakukan melalui keypad atau bahkan keyboard melalui update status yang saat itu berharap simpati dan empati dari teman-teman. Ketika tidak ada komentar, seolah diri berkata, “Ya, kok gak ada yang memperhatikan aku." Rasanya tak sempat lagi untuk merenungi apa yang salah dalam diri, karena setiap selesai aktivitas kerja sebagai buruh, kemudian sudah menunggu lagi pekerjaan kost yang harus dikerjakan. Capek rasanya semua badan dan pikiran.
Ketika malam yang hening itu, saat penghuni “Wisma Quds Community” pada tepar, aku mencoba merenung dari sebuah buku. Aku baca buku itu dan baru bisa merenungi kenapa aku selalu merasa lelah setelah mengerjakan sesuatu. Merenung kenapa amal yang dikerjakan terasa melelahkan dan memberatkan. Aku baru menyadari, ada yang hilang dari diriku. Orientasi atas semua yang kulakukan ternyata salah. Aku merenung bahwa keduniaan yang akan aku raih tidak didasari dengan cinta. Aku terlalu berfikir bahwa pekerjaan dan amal-amal ini adalah beban aku sebagai manusia yang hidup di dunia ini.
Tetesan air mata pun membasahi lembaran-lembaran hikmah yang seharusnya dirawat karena dia yang telah memberi pelajaran kepadaku. Suara dengkuran dari kamar samping pun mengiringi tangisan senduku yang seolah aku akan lama dan terus tersedu mengingati apa yang aku pikirkan saat itu.
Maka mulai kali ini, akan aku lakukan semua amal dan pekerjaanku dengan cinta. Kalau aku mengaku mencintaiNya, maka harus kubuktikan dengan pekerjaan. Pekerjaan-pekerjaan yang akan senantiasa meraih cintaNya. Itulah makna cinta sesungguhnya. Ketika aku berkata, “Wahai sahabat, aku mencintaimu karena Allah,” maka seketika itu juga aku harus siap membantu ia dalam kesulitan yang dia hadapi. Membuat dia gembira dengan pekerjaan-pekerjaan yang kita lakukan. Ya, semua ini kulakukan dengan cinta.
Sungguh, semua itu berbeda dengan diriku. Tapi yang harus dilakukan sekarang adalah terus membuat karya dengan berdasarkan “cinta”. Aku bekerja karena cinta. Membantu meringankan beban saudaraku karena cinta, bukan karena kewajiban yang ditetapkan oleh jama’ah/organisasi. Keluh kesah dengan update status pun tak memberikan solusi. Ya, dengan cinta, aku mampu melakukan semua pekerjaan yang beresiko menjadi nikmat, yang sulit terasa mudah, yang berat terasa ringan.
Semoga komitmen ini senantiasa tumbuh dalam jiwa.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mundzakir sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.