|
HR. Al Hakim : "Menyendiri lebih baik daripada berkawan dengan yang buruk, dan kawan bergaul yang shaleh lebih baik daripada menyendiri. Berbincang-bincang yang baik lebih baik daripada berdiam, dan berdiam adalah lebih baik daripada berbicara (ngobrol) yang buruk."
|
|
|
http://muhammadrizqon.multiply.com |
|
rizqon.ak@gmail.com |





Jum'at, 10 Juli 2009 pukul 15:00 WIB
Penulis : Muhammad Rizqon
Suatu ketika, saya menghadiri acara akad pernikahan. Ada yang unik dan lucu, tetapi sebenarnya menyimpan pelajaran yang cukup berharga, khususnya bagi diri saya tentunya. Saat itu, saya diminta isteri untuk mengantarkannya ke acara akad pernikahan seorang sahabatnya, yaitu seorang dokter yang tinggal di Jaticempaka, Pondok Gede. Kami tidak memasuki ruangan tempat diselenggarakan akad nikah, melainkan mengambil tempat duduk di barisan kursi yang tersedia buat tamu di sepanjang koridor di luar ruangan. Di beberapa sudut ruangan nampak peralatan speaker dan kamera CCTV, sehingga prosesi akad nikah yang dilangsungkan di dalam suatu ruangan, bisa disaksikan oleh tamu-tamu di luar ruangan.
Kami datang ketika acara tengah berlangsung. Meski tidak mengikutinya dari awal, saya masih bisa bersyukur karena acara puncaknya (ijab-kabul pernikahan) belum dimulai. Setelah melewati beberapa acara pengantar, acara puncak yang cukup menegangkan pun segera dimulai. Saya tidak tahu bagaimana kesemarakan yang terjadi di ruangan sana. Tentulah sangat mewah dan meriah. Saya hanya menyimak dan membayangkan dari kejauhan lewat media suara speaker.
Setelah kata-kata sambutan berakhir, tibalah acara inti, yaitu prosesi akad nikah. Terdengar ada jeda beberapa saat, hanya terdengar bisik-bisik suara latar yang kurang begitu jelas. Saya membayangkan sang penghulu, orangtua mempelai pria, mempelai laki-laki, dan beberapa saksi pastilah sedang berbincang sejenak menyiapkan segala sesuatunya, mengecek beberapa kelengkapan syarat akad nikah sebelum prosesi dimulai.
Setelah menunggu jeda, akhirnya sang penghulu memulai acara dengan sedikit ceramah sebagai pengantar. Detik-detik ijab-kabul pun mulai dilangsungkan. Ketika ayah mempelai perempuan mulai mengucapkan ijab, saya menyimaknya penuh perhatian, mendekatkan suara pada suara speaker, dan berkonsentrasi dalam mendengarnya. Kata ijab pun terucap, "Saya nikahkan dan saya kawinkan, Muslim bin Fulan dengan anak saya Muslimah binti Abdullah, dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan emas seberat 5 gram, tunai." Begitulah kira-kira bunyi ijabnya.
Ucapan ijab ayah mempelai perempuan langsung disambut dengan ucapan kabul oleh mempelai laki-laki, "Saya terima nikahnya dan saya terima kawinnya, Muslimah binti Abdullah dengan mas kawin yang telah disebutkan, tunai. Allahu Akbar!"
Beberapa rekan dari mempelai laki-laki yang hadir langsung menyambut teriakan takbir tersebut. Namun hadirin lainnya, terutama masyarakat awam, cukup tersentak dengan gerumuh teriakan takbir itu. Rasa-rasanya baru kali itulah agaknya mereka mendengar kata-kata kabul diakhiri dengan teriakan takbir.
Setelah penghulu dan para saksi saling berpandangan dan menyepakati bahwa akad nikah itu "sah", semua hadirin serentak berdo'a, "Barakallahu laka wa baraka alaika wa jama'a bainakuma fi khair."
***
Prosesi ijab-kabul yang berakhir dengan teriakan takbir tersebut cukup menjadikan saya tercenung. Ada rasa lucu dan ingin tersenyum juga karena saya teringat pada kondisi di lapangan saat demo-demo sering dilakukan oleh mahasiswa. Namun ada rasa bersalah juga jika saya tetap dalam kondisi merasa lucu dan senyum seperti itu, karena kalimat yang terucap adalah kalimat takbir. Sesungguhnya kalimat takbir itu, tetap merupakan kalimat yang agung di mana pun ia digemakan, termasuk dalam forum sakral seperti akad nikah tersebut. Bukankah pernikahan adalah bagian dari kebesaran Allah?
Saya tidak tahu bagaimana ekspresi wajah hadirin yang mendengar pekik takbir di ruangan sana. Apakah menahan-nahan senyum seperti saya, menahan nafas karena kaget, atau berusaha memaklumi sebagai hal yang bisa terjadi pada diri sang mempelai yang mantan aktivis mahasiswa itu.
Bagi saya, fenomena itu meninggalkan kesan yang cukup mendalam, tak terlupakan, dan menyisakan sebuah pelajaran yang patut untuk direnungkan dalam-dalam.
***
Imam Hasan Al-Bana pernah menyatakan bahwa kehidupan rumah tangga adalah kehidupan "kerja". Ia diwarnai oleh beban dan kewajiban. Landasan kehidupan rumah tangga bukan semata kesenangan dan romantika, melainkan tolong menolong dalam memikul beban kewajiban itu.
Jika mengingat perkataan Imam Hasan Al-Banna tersebut, saya jadi memaklumi kenapa mempelai laki-laki itu secara spontan menggemakan takbir di dalam ruangan. Memikul beban dan kewajiban itu adalah berat, namun Insya Allah dengan kebesaran dan pertolongan Allah, beban dan kewajiban itu akan terasa ringan dan bisa ditunaikan dengan baik.
Saya tidak mengetahui dengan pasti gejolak apa yang terjadi pada mempelai laki-laki yang belakangan saya ketahui bernama Bayu Aji Sudibyo itu. Boleh jadi ia begitu menghayati betapa berat beban dan kewajiban yang akan ia sandang dan betapa beratnya ia harus berlaku sebagai suami yang konsekuen, amanah, dan bertanggung jawab dalam menjejaki hari-hari bersama pasangannya. Dan boleh jadi, ia menyadari ucapan Ustadz Hasan Al-Banna tersebut di atas bahwa kehidupan nikah adalah kehidupan yang penuh dengan "kerja" dan "jihad", bukan kehidupan yang penuh romantisme dan kesenangan belaka.
Konsekuensi dari kehidupan nikah yang penuh dengan kerja itu, hendaknya rumah tangga yang dibangun harus memenuhi karakteristik memiliki kekuatan amal shaleh (superioritas amal) dan kekuatan ajakan pada kebaikan (superioritas dakwah).
Rumah tangga yang dipenuhi dengan superioritas tersebut, niscaya tidak akan dijumpai adanya kedengkian satu sama lain karena fokusnya adalah berlomba-lomba di dalam amal kebaikan dan dakwah. Baik suami maupun isteri juga akan bahu membahu menanam benih dakwah pada keluarga sekitar dan masyarakat.
Sesungguhnya menegakkan karakteristik tersebut membutuhkan perjuangan dan komitmen yang tidak kecil. Pada akhirnya saya menyadari bahwa apa yang telah diisyaratkan oleh mempelai laki-laki itu, bahwa kita memerlukan pertolongan Allah untuk mewujudkan hal tersebut, adalah benar adanya.
Hal di atas cukup menjadi pelajaran bagi pasangan yang ingin memasuki jenjang pernikahan. Hendaknya ia tidak sekedar terobsesi pada "madu" alias kesenangan dan romantisme, melainkan terobsesi pula pada pewujudan supremasi amal dan dakwah dalam kehidupan rumah tangga. Hal ini menjadi catatan penting jika setiap pasangan mendambakan terbentuknya rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Insya Allah.
Wallahu a'lam bishshawab.
http://muhammadrizqon.multiply.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Muhammad Rizqon sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.