|
Ali Bin Abi Thalib : "Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusan sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan kejahatan, dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya akan kehormatan dirinya."
|
|
|
http://dekaes.com |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
mujahid.alamaya@kotasantri.net |
|
|
mujahid.alamaya |
|
mujahid.alamaya |
|
http://facebook.com/alamaya |
|
ponggawa.ksc@gmail.com |





Jum'at, 27 Februari 2009 pukul 03:20 WIB
Penulis : Mujahid Alamaya
Jum'at yang lalu, ketika saya dan seorang teman menyusuri sebuah jalan, kira-kira sekitar pukul 20, melihat seorang bapak yang berjualan mie dengan memikul dagangannya. Dari kejauhan, terlihat bapak itu sedang berjalan perlahan memasuki sebuah jalan kecil dan berusaha menembus kegelapan malam.
Baru saja beberapa menit, langkah kami sudah berhasil mendahuluinya. Ketika melewatinya, saya lihat bapak itu berhenti menaruh pikulannya. Setelah beberapa meter, teman saya berhenti dan berkata, "Itu mie tek-tek bukan ya? Kayaknya mie tek-tek asli. Beli yuk?!" Lalu kami pun berbalik arah itu.
Ketika kami berbalik arah, saya melihat bapak itu mengangkat kembali pikulannya dan mulai berjalan ke arah kami. Pelan sekali jalannya. Setelah jaraknya agak dekat, kami memanggil bapak itu dan memintanya agar menepi. Bapak itu masih berjalan perlahan mencari tempat yang aman.
Saat mendekati bapak itu, kami baru mengetahui bahwa ternyata yang berjualan itu seorang bapak tua, mungkin usianya sudah di atas 60 tahun. Lalu kami pun langsung memesan 2 porsi mie untuk dibungkus. Dengan perlahan, bapak itu menepi dan berusaha menyimpan pikulannya.
Saya perhatikan dengan seksama, bapak itu berjalan dengan pelan sekali, mungkin karena pikulannya yang berat. Buat saya, pikulan tersebut sangat berat sekali dan tidak mampu mengangkatnya. Tapi, bapak itu mampu mengangkatnya dan berusaha untuk tetap memikulnya agar dapat berjualan demi sesuap nasi.
Setelah menepi, dengan susah payah bapak itu menyimpan pikulannya. Gerakannya sangat pelan sekali. Lalu bapak itu mulai menyiapkan pesanan kami dan menawarkan 2 pilihan, mie kocok atau mie baso. Kami baru tahu, ternyata mie yang bapak itu jual bukan mie tek-tek yang kami maksud.
Teman saya terlihat agak kecewa karena mie tersebut bukan mie keinginannya. Lalu saya berbisik kepada teman saya, "Sudahlah, mungkin sudah rejekinya bapak ini." Dan teman saya memilih mie kocok sebagai gantinya. Saya pun demikian. Setelah sepakat, bapak itu pun segera 'memproses' pesanan kami.
Sambil ngobrol dengan teman, sesekali saya perhatikan gerakan bapak itu. Ternyata, tubuh bapak itu sudah agak bungkuk, raut wajahnya sudah mulai keriput, tapi semua itu seakan tertutupi oleh postur tubuhnya yang agak besar. Bapak itu pun melayani kami dengan perlahan dan sedikit gemetar.
Berbeda dengan pedagang lainnya, bapak itu melayaninya lama sekali, mungkin karena faktor usia. Setelah beberapa lama, pesanan kami sudah siap. Kami pun membayarnya dan segera meninggalkan bapak itu. Sambil berjalan, beberapa kali saya menoleh ke belakang untuk melihat bapak itu.
Dalam perjalanan tersebut, saya berpikir dan merenung. Kasihan sekali bapak itu. Seharusnya malam-malam begini bersantai bersama keluarga, atau melakukan aktivitas ringan lainnya di rumah. Sudah berjalan berjalan berapa kilometer? Apakah banyak yang membeli mie dagangannya? Dan sejumlah gundah lainnya.
Saya masih beruntung, mempunyai seorang bapak yang usianya sudah di atas 60 tahun. Walaupun saat ini, bapak saya harus terus membanting tulang untuk menafkahi 'keluarga', tapi tidak seperti bapak penjual mie itu, harus keliling berjualan mie dengan memikul beban yang berat untuk memenuhi kebutuhannya.
Tak henti-hentinya saya bersyukur mempunyai seorang bapak yang pengorbanannya tiada terkira. Lalu, apa yang sudah saya lakukan sebagai tanda bakti kepada bapak? Saya hanya bisa menarik nafas. Saat ini, belum bisa berbakti kepada bapak, belum bisa membuatnya bahagia.
Ketika saya mengingat-ingat tentang bapak, hati ini selalu gemuruh, detak jantung berdebar kencang. Rasanya, diri ini terlalu banyak merepotkannya. Belum satu pun yang saya persembahkan untuk kebahagiaan bapak. Ingin sekali saya membuat bapak bahagia, di dunia maupun di akhirat.
Tapi, apakah kita dapat membalas kebaikan orangtua kita? Sungguh, kita tidak dapat membalas semua kebaikannya. Pengorbanan mereka tidak dapat dinilai dengan apapun. Oleh karena itu, selama mereka masih hidup, berusahalah untuk selalu membuatnya tersenyum bahagia, lahir dan batin.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mujahid Alamaya sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.