|
Ali Bin Abi Thalib : "Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusan sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan kejahatan, dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya akan kehormatan dirinya."
|
|
|
http://kotasantri.com |





Ahad, 19 Agustus 2012 pukul 10:30 WIB
Penulis : Redaksi KSC
Matahari baru saja terbit. Gema suara takbir yang bersahutan sejak tadi sore semakin jelas terdengar dari corong-corong masjid. Orang-orang dengan pakaian bagus bergegas memasuki sebuah mesjid besar di salah satu jalan di Jakarta. Kebanyakan mereka memakai busana Muslim dengan kepala ditutupi kopiah. Selembar sajadah terselempang di pundak mereka.
Sebagian wanita tampak sudah memakai mukena sejak berangkat dari rumah. Sebagian lainnya berpakaian kebaya sambil menjinjing mukena dan sajadah. Anak-anak tidak lupa dibawa serta.
Meskipun sebagian besar jama'ah berjalan kaki, namun tidak sedikit diantara mereka yang datang ke masjid itu berkendaraan, baik sepeda motor maupun mobil. Kebanyakan mobil-mobil yang datang dipenuhi oleh seluruh anggota keluarga. Perasaan gembira tampak jelas pada wajah-wajah mereka yang penuh senyum. Maklumlah, hari ini adalah Hari Raya Idul Fitri, hari kemenangan umat Islam, setelah satu bulan lamanya mereka menjalankan ibadah Ramadhan.
Suara takbir semakin menggema. Jama'ah semakin padat memenuhi ruangan masjid yang luas itu. Sebagian mulai tampak membanjiri teras masjid karena bagian dalam masjid sudah penuh. Sebentar saja, teras pun penuh terisi jama'ah. Beberapa anak kecil memanfaatkan kesempatan itu untuk menawarkan koran bekas kepada jama'ah yang baru datang. Di Jakarta, apa pun bisa dijual, tak peduli di hari raya seperti ini.
Bukan hanya anak-anak penjaja koran bekas saja yang sedikit "mengganggu pemandangan" pagi itu. Beberapa pengemis pun tampak berjejer di depan gerbang masjid menyambut para jama'ah dengan menyodorkan baskom plastik. Beberapa diantara mereka menggendong bayi yang masih mungil.
***
Seorang anak laki-laki dengan wajah kusut dan pakaian yang masih kotor terlihat berdiri di depan gerbang. Sebut saja namanya Husein. Usianya sekitar tujuh tahun. Ragu-ragu ia memasuki gerbang masjid.
Ia tahu kalau hari ini adalah Hari Raya Idul Fitri, sehingga ia ingin masuk ke dalam masjid untuk ikut merayakannya dengan shalat Id. Akan tetapi ia juga sadar kalau keadaan dirinya yang kusut dan tak terurus itu bisa menjadi pusat perhatian jama'ah lain yang berpakaian rapi.
Husein memang mematung di depan gerbang. Beberapa rombongan jama'ah yang hendak masuk ke masjid menyadarkan dirinya untuk segera menyingkir dan memberi jalan kepada mereka. Anak itu segera menepi. Diurungkan niatnya untuk masuk ke gerbang masjid.
Kini ia sandarkan tubuhnya di pagar besi yang mengelilingi masjid. Dari pagar itu ia bisa melihat bagaimana ramainya suasana halaman masjid oleh para jama'ah dengan pakaian baru aneka warna. Anak-anak seusianya tampak duduk bersila di samping orang tua mereka dengan baju baru, kain sarung baru dan peci yang juga baru. Kontras sekali dengan dirinya yang lusuh oleh debu dan pakaian yang kotor.
Terbayang dalam ingatannya ketika tahun-tahun lalu ia masih bisa menikmati suasana lebaran yang penuh kebahagiaan bersama kedua orang tuanya. Pagi-pagi, ia sudah dibangunkan oleh tangan lembut ibunya. Terdengar suara takbir dari masjid dekat rumahnya. Kue-kue dan ketupat tersaji di meja makan. Ia dan anak-anak seusianya tidak lupa ikut orang tua mereka shalat di masjid atau tanah lapang. Tawa canda tampak dari mereka setiap kali bertemu. Mereka seolah saling memperlihatkan baju baru yang mereka pakai.
Tapi itu dua tahun lalu, ketika kedua orang tuanya masih berada di sisinya. Sebab beberapa bulan selepas kenangan manis itu, kedua orang tuanya harus bercerai. Sebagai seorang anak kecil, ia tidak mengerti mengapa kedua orang tuanya harus bercerai, sehingga ia harus menjadi korban dari sikap egoisme kedua orang tuanya.
Beberapa bulan kemudian, ia masih bisa merasakan kasih sayang ibunya, meski tidak tahu lagi kemana ayahnya pergi. Tetapi lewat tiga bulan dari perceraian kedua orang tuanya, ibunya terpaksa kawin lagi dengan lelaki lain. Parahnya, lelaki itu juga membawa ibunya pergi ke Jakarta. Konon, ayah tirinya itu punya pekerjaan di Jakarta meskipun hanya sebagai pekerja kasar.
Husein sendiri dititipkan kepada neneknya dari pihak ibu. Maklumlah sejak menikah, ayah dan ibunya memang menumpang di rumah neneknya itu. Karena itu, Husein sudah dekat dengan sang nenek meskipun tetap saja ia merasakan kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya. Kalau saja ia besar, ia ingin sekali meninggalkan neneknya dan pergi ke Jakarta untuk menyusul kedua orang tuanya.
Sebenarnya, neneknya sendiri tidak memiliki penghasilan yang memadai. Di usianya yang sudah uzur, ia terpaksa menghidupi dirinya dan cucunya dengan kerja serabutan. Kadang ia masih ikut menjadi kuli di sawah atau kerja apa saja yang bisa mendatangkan sesuap nasi bagi dirinya bersama cucunya. Husein sendiri kerap kali membantu neneknya. Ibunya yang konon ikut suaminya ke Jakarta tidak kunjung kabar beritanya. Jangankan mengirimkan uang untuk mereka, mengirimkan kabar saja tidak pernah.
Sampai akhirnya derita yang harus ditanggung Husein mencapai puncaknya ketika minggu lalu sang nenek pun akhirnya pergi untuk selama-lamanya. Neneknya meninggal dunia setelah dua hari menderita sakit. Para tetangga berusaha mencari alamat ibunya untuk mengabari perihal kematian neneknya itu. Tetapi tak satu pun yang tahu dimana alamat ibu Husein berada. Akhirnya jenazah sang nenek terpaksa dimakamkan tanpa kehadiran anak perempuan satu-satunya itu.
Selepas neneknya meninggal, beberapa saudara jauh dari neneknya mencoba merayu Husein agar mau tinggal di rumah mereka. Akan tetapi Husein tampaknya tidak bisa menerima kebaikan hati mereka. Mungkin ia merasa kurang mengenal mereka. Maklumlah mereka memang saudara jauh yang jarang datang ke rumah neneknya.
Akhirnya, satu hari setelah kematian neneknya, Husein nekad pergi meninggalkan kampung halamannya. Dengan bekal seadanya, ia pergi ke Jakarta untuk mencari ibunya. Ia sendiri tidak pernah membayangkan seperti apa sesungguhnya kota Jakarta. Ia memang pernah melihatnya, tetapi hanya lewat sinetron di televisi.
Husein pergi ke Jakarta dengan menumpang beberapa kendaraan. Dari kampungnya di sebuah desa di Jawa Barat, ia menumpang mobil bak terbuka yang kembali ke kota Kabupaten setelah mengantarkan barang-barang dagangan seorang pemilik toko.
Beruntung sang sopir mau mengantarkannya sampai ke terminal. Dari terminal ia menumpang bus jurusan Jakarta dengan gratis karena kebaikan sang kondektur yang kasihan melihat Husein. Apalagi, seminggu menjelang Idul Fitri seperti ini, bus yang ditumpanginya justru kosong jika menuju Jakarta.
Sampai di Kampung Rambutan, Husein langsung bertanya ke sana kemari menanyakan orang-orang yang ditemuinya. Ia mengira mencari orang di Jakarta sama mudahnya seperti mencari orang di kampungnya. Ternyata, semua orang yang ditanyainya malah memarahi kebodohannya yang mencari orang tuanya tanpa kejelasan alamat sedikit pun.
Husein tidak mau menyerah. Ia merasa sudah terlanjur sampai di Jakarta. Pantang baginya kembali ke kampung halamannya. Apalagi ia merasa sudah tidak ada lagi saudaranya di kampung halamannya. Untuk apa kembali lagi? Sementara di ibukota ini, ia masih memiliki peluang untuk menemukan ibunya, meskipun ia tidak tahu sampai kapan cita-citanya itu bisa terwujud.
Untuk mengganjal perutnya, ia berusaha mengamen dari satu bus ke bus lainnya tanpa menggunakan alat musik apa pun. Ia mengamen hanya bermodalkan suara dan tepuk tangannya saja. Jika malam menjelang, ia mencari tempat tidur di pinggir-pinggir toko atau terminal. Beruntung ia belum pernah dijahili oleh para preman. Dan pada hari kelima kedatangannya di Jakarta, Idul Fitri pun tiba.
Suara orang ramai keluar dari masjid menyadarkan lamunan Husein. Anak-anak seusianya berlarian dengan baju baru. Sebagian lainnya bergandengan tangan dengan ibu bapaknya. Tiba-tiba Husein kembali teringat ibu bapaknya. Wajah neneknya juga berkelebat di benaknya. Tanpa disadari, setetes air hangat terbit di sudut kelopak matanya. Ia benar-benar merindukan orang-orang yang dicintainya itu.
Ternyata, tanpa ia sadari, sepasang suami isteri yang mobilnya harus antri keluar dari gerbang masjid, memperhatikan tingkah lakunya. Mereka trenyuh menyaksikan seorang anak yang berwajah polos dengan penampilan kusut tampak melamun menerawang denga air mata yang tak mampu ditahan. Mereka tidak bisa membayangkan bagaimana jika nasib serupa menimpa anak-anak mereka, meskipun sampai saat ini mereka belum juga dikaruniai seorang anak.
Suasana gerbang masjid yang semrawut membuat mobil pasangan yang sudah tujuh tahun belum dikaruniai anak ini tidak bisa bergerak. Entah apa yang menggerakkan hati wanita itu, ketika tiba-tiba ia membuka pintu mobil. Sejenak ia menatap wajah suaminya. Mata sang suami tampak memberi isyarat kalau ia menyetujui tindakan isterinya.
Sang isteri bergegas menghampiri Husein yang hendak bersiap pergi meninggalkan tempat itu. Sedikit gugup dan agak kesulitan untuk memulai menyapa Husein, perempuan yang sudah lama merindukan hadirnya seorang anak dalam rumah tangganya itu, akhirnya memberanikan diri menuruti naluri rasa sayangnya menyapa Husein.
"Ibumu dimana?" tanya perempuan itu. Husein terkejut bukan kepalang. Ia tidak mengira kalau perempuan itu ternyata menyapanya. Padahal, ia belum sempat menyeka air matanya.
Husein tidak mampu menjawab pertanyaan lembut itu. Ia seolah menemukan kelembutan seorang ibu yang begitu lama dirindukannya. Ia hanya mampu menggeleng karena air matanya semakin deras mengucur di pipi.
"Dimana ibumu?" tanya wanita itu lagi.
Husein berusaha keras melawan perasaannya, tetapi ia tidak mampu. Berkali-kali ia mencoba mengusap air matanya, tetapi air bening itu seolah tumpah begitu saja, tak mampu dibendungnya.
Perempuan itu tampaknya semakin penasaran sekaligus merasa kasihan kepada Husein. Ia segera membungkuk, lalu duduk berjongkok agar bisa lebih dekat lagi dengan anak malang itu. Diberanikan dirinya untuk menyentuh kepala Husein. Lalu ia mengusapnya perlahan-lahan.
"Siapa namamu?" tanya wanita itu sambil menatap wajah Husein. Wanita itu melihat kepolosan di mata anak itu, juga duka yang begitu dalam. Tampaknya ia bisa membaca kepedihan dan duka Husein.
Mendapat perlakuan penuh kasih seperti itu, Husein semakin haru. Ia tidak habis pikir. Betapa tidak, hampir satu minggu ia menjelajah ibukota mencari ibunya, tetapi tak ada satu orang pun yang bersikap baik padanya, apalagi menunjukkan perhatian yang begitu besar seperti wanita ini.
Sambil mengusap air matanya, ia mencoba memandang wanita itu. Wanita itu masih memandangnya dengan tatapan penuh kasih seorang ibu. Aneh, tiba-tiba perasaan haru yang besar merayap di hati Husein. Ia seolah merasakan kembali tatapan dan kasih sayang ibunya yang sudah lama tidak dirasakannya. Tanpa sadar, ia memeluk wanita itu, seolah memeluk ibunya sendiri yang begitu lama tidak pernah mendekapnya. Air mata pun semakin deras mengalir dari pipinya membasahi busana Muslimah wanita itu.
Wanita itu segera menyambutnya. Ia mengelus punggung anak malang itu. Tanpa terasa, air matanya ikut menitik dan jatuh di pipinya. Ia bisa merasakan kesedihan dan kerinduan seorang anak yang mendambakan kehangatan orang tuanya. Perlahan ia lepaskan pelukannya dan dipegangnya pundak Husein dengan lembut.
"Kamu tinggal dimana?" tanya wanita itu penuh harap. Matanya benar-benar menyelidik, berharap Husein segera menjawabnya.
Saya tidak punya rumah di sini. Saya mencari ibu. Katanya ibu ke Jakarta,"jawab Husein.
"Dimana tinggalnya?" tanya wanita itu lagi.
Husein menggeleng, tetapi kemudia ia berucap, "Sudah hampir setahun ibu pergi. Saya tidak tahu kemana. Kata nenek, ibu dibawa bapak tiri saya ke Jakarta. Jadi saya pergi ke Jakarta. "Dimana nenekmu?" tanya wanita itu.
"Nenek meninggal satu minggu yang lalu di kampung. Saya, saya tinggal sendiri. Bapak sudah lama pergi. Bapak kawin lagi. Saya tidak tahu dimana," cerita Husein.
Mendengar pengakuan polos Husein, wanita itu semakin terharu. Naluri keibuannya yang lembut membuatnya tak mampu menahan tetesan air bening yang perlahan merambat di pipinya. Suaminya yang sejak tadi menunggu di mobil yang sudah menepi, akhirnya turun juga. Ia bisa melihat keharuan di mata isterinya, didekatinya isterinya sambil berjongkok memandang Husein.
"Maukah kamu menganggap saya ibumu?" tanya wanita itu. Husein tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya mampu memandang sebentar sepasang suami isteri yang menatapnya penuh haru dan kasih. Ia membayangkan, betapa bahagianya jika dua orang di depannya itu adalah ayah dan ibunya, dua orang yang begitu dirindukannya.
"Maukah engkau tinggal bersama kami? Anggaplah kami orang tuamu," ujar wanita itu dengan suara sedikit bergetar. Husein semakin terharu. Perlahan ia tegakkan kepalanya yang sejak tadi lebih banyak tertunduk. Mata polosnya menatap sepasang suami isteri di depannya dengan penuh tanya.
"Ikutlah dengan kami," tiba-tiba suami perempuan itu ikut bicara. Ia memegang bahu Husein. Lagi-lagi Husein tidak mampu menahan harunya. Ia rebahkan wajahnya di bahu lelaki itu. Air matanya belum juga reda. Isteri lelaki itu kembali mengusap kepala Husein. "Jangan takut, Nak. Meskipun orang tuamu belum engkau temukan, kami bersedia menjadi pengganti mereka. Jadilah anak angkat kami," bujuk isterinya lagi.
Suami wanita itu mengangkat kepala Husein dan kembali memandangnya dengan penuh rasa sayang. Sorot matanya menunjukkan betapa ia benar-benar ingin mengajak Husein menjadi bagian dari keluarganya.
"Ikutlah dengan kami. Jadilah anak angkat kami," ucap lelaki itu sambil memegang tangan kanan Husein. Isterinya pun segera berdiri dan memegang tangan kiri Husein. Tanpa bisa menolak lagi, Husein pun mengikuti kedua pasangan suami isteri itu menuju mobil mereka. Begitu mobil dibuka, Husein berhenti sebentar. Ia ragu-ragu. "Tak apa. Masuklah! Anggaplah kami orang tuamu!" ujar si suami. Setelah Husein masuk, mobil pun segera pergi diikuti tatapan jama'ah lain yang tampak keheranan.
Sejak saat itu, Husein tinggal di rumah pasangan suami isteri tadi. Ia dianggap anak oleh mereka. Tapi, Husein tetap tidak menyerah. Ia terus berusaha menemukan kedua orang tuanya meskipun sampai hari ini, setelah satu tahun kedatangannya di ibukota, usahanya tetap sia-sia.
Husein hanyalah salah satu contoh dari anak-anak yatim yang masih beruntung karena masih ada orang yang mau mengasihinya. Masih banyak anak-anak kita yang berkeliaran di jalan-jalan tanpa seorang pun yang peduli apalagi melindungi dan mengasihi mereka. Semoga di hari yang fitri nanti kita bisa berbagi kebahagiaan kepada mereka yang kurang beruntung, terutama anak-anak yatim di sekitar kita. Aamiin.
Majalah Hidayah # Dimuat Ulang dari Arsip KSC # 25-10-2005
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Redaksi KSC sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.