|
HR. Ahmad & Al Hakim : "Kemuliaan orang adalah agamanya, harga dirinya (kehormatannya) adalah akalnya, sedangkan ketinggian kedudukannya adalah akhlaknya.
"
|
|
|
http://www,elmishriya.blogspot.com |
|
|
ibnu_el_hindy@yahoo.co.id |
|
mujahiedmoeda |
|
http://facebook.com/iwan ghoenawan |

Ahad, 3 Oktober 2010 pukul 17:00 WIB
Penulis : iwan ghoenawan
Pagi ini, seluruh tubuhku menggigil kedinginan. Entah mengapa, seakan selimut yang sudah berlapis dua tak mampu membendung ganasnya cuaca musim dingin. Sungguh musim yang paling aku khawatirkan selama di Mesir. Semua penyakitku mandadak kambuh. Kaus kaki, kupluk, celana monyet, bahkan selimut yang sangat tebal pun tak berguna dijadikan pelindung. Kutengok jam bekkerku yang masih berbunyi. Waktu menunjukan pukul empat pagi. Setengah jam lagi adzan subuh akan tiba. “Ah, andai saja ada pemanas ruangan," batinku menggerutu. Kubuka kedua kaus kaki tebalku. Sambil berlalu kuambil sikat gigi dan pasta sighnal menuju hamam. Ketika pintu kamar kubuka, mendadak rasa kantuk yang masih remang-remang menggelayuti mataku kabur terbirit-birit, diterpa udara pagi kota Kairo.
“Wuuuuhhhsss...!!“
Gigiku gemertak, menggigil kedinginan, sengaja kupercepat irama langkahku agar tidak berlama-lama berada di luar. Sudah kuduga air kran pagi ini akan menyiksaku lagi, tapi biarlah seluruh tubuh yang terbasuh menjadi saksi di hadapan-Nya kelak. Tidak berapa lama aku sudah berada lagi di kamar dengan kondisi yang lebih segar. Kuambil handuk untuk menyapu habis sisa-sisa air yang masih membasahi tangan dan kaki. Masih ada sekitar lima belas menit lagi untuk shalat tahajud.
"Allaahu akbar..."
Dengan mengenakan sarung dan celana monyet, ditambah baju koko berlapiskan jasket almamater kemudian dililit sorban hadiah Bangdha, kuangkat kedua tanganku dengan mantap. Semilir harum kasturi merembah mengisi seluruh ruang pengap kamarku. Tidak pernah terlepas dari ritual sakralku aroma sedap dari misk abyadh yang sudah kuidap sedari Indonesia dulu. Bibirku bergeming, bergerak, perlahan, dan dengan nada teratur mengikuti Syeikh Mishari Rasyid. Kubaca awal surat Hud dengan penuh penghayatan, semakin lama aku semakin terlarut dalam alur kisah dan surat cinta dari Sang Pencipta. Semakin bertambah larut ketika kisah itu menggambarkan kaum yang tidak pernah mensyukuri nikmat Allah. Seakan sedang menceritakan keburukan diriku sendiri. Astaghfiruka, ya Rabb.
Adzan subuh sudah berkumandang, kututup lembaran mushaf yang sedang kubaca sambil berlalu menuju mesjid yang terletak di tengah asrama. Mulutku tidak berhenti bergumam, mengulang hafalan yang akan aku setorkan pagi ini kepada Syeikh Asyrof di darasa. Pagi ini, kusetorkan rubu’ kedua dari ayat wamaa min daabbatin fil ardhi illa ‘alallahi rizquha. Semoga lancar dan bisa melanjutkan ke ayat selanjutnya. Cuaca di luar kamar seakan tidak mau berkompromi lagi dengan kulit manusia. Hanya kekuatan iman yang mampu menggerakan gumpalan daging ini untuk beribadah kepada-Nya. Bahkan segala macam pelapis tidak mampu membendung rasa dingin di tulang sekujur tubuh, terlebih lagi kaki. Ya salaam.
***
Pukul Lima Kurang Seperempat
Selepas shalat subuh, aku bergegas menuju ke luar asrama. Kalau berangkat pagi-pagi biasanya kita mendapatkan jatah setoran lebih banyak dari yang lainnya. Dua rubu’ sudah berhasil kuhafal dari semalam. Masih kuulang mengiringi derap langkahku yang terayuh satu persatu menuju mesjid Ja’fari di depan mahattah darasa. Sesampainya di depan gerbang bu’uts, kutengok ke arah kanan, mungkin saja ada mobil lewat ke darasa jam segini. Jam sudah menunjukkan pukul lima kurang sepuluh menit.
"Hmm... Sepuluh menitlah buat nunggu mobil," bisikku dalam hati, berlalu menyeberang jalan.
Sambil duduk di bangku terminal, aku lalui dengan banyak mengulang hafalan. Udara dingin kembali menerpa tubuhku yang semakin lama semakin bergetar tidak karuan. Sesekali aku rapatkan kaki sambil menggosok-gosok kedua telapak tangan agar terasa hangat. Kulihat jam tangan bersejarah yang kubeli tiga tahun silam di depan kampus Al-Azhar.
***
Pukul Lima Kurang Delapan Menit
Tiba-tiba dari arah kiri kulihat bis merah delapan puluh coret.
"Alhamdulillaaah... akhirnya datang juga." Kulambaikan tangan kepada sopir bis untuk berhenti.
"Bismillaah..."
Kulangkahkan kaki kananku masuk pintu bus sambil membaca do'a safar dalam hati. Begitu berhasil memasuki bus, aku merasakan hal aneh dengan pemandangan sekitar. Ya, serba aneh. Semuanya aneh. Tapi masih banyak kemungkinan yang bergelayut dalam benakku sehingga mengalahkan rasa penasaran yang tiba-tiba merasuk dalam hati. Asthoh dan showaq, bus ini tampak mengenakan galabiah/jubah berwarna putih. Pemandangan yang sebenarnya sudah terbiasa di kota Ambiya ini, tapi entah mengapa ada perasaan asing yang kurasa. Apapun itu, aku tidak ambil pusing dengan semua yang terjadi di bus ini. Aku hanya menikmati suasana baru sembari bergumam mengulangi hafalan. Kuberikan uang satu pound kepada si ammu asthoh, tapi dia malah menatapku dengan senyuman.
"Kholash, sibuh ‘andak habib," katanya sambil menepuk dada.
"Mitsyakirin awi ya syeikh, barakallahu fiiku," jawabku.
Ada ketenteraman tatkala kulihat muka sang asthoh yang tersenyum memandangku, tampak tenang, berwibawa, dan bersih memancarkan cahaya. Kukira umurnya mungkin sekitar empat atau lima puluhan. Di pinggirnya ada buhur kecil yang dibakar dekat pintu masuk. Semerbak kasturi kuning kurasakan memenuhi ruangan sekitar bis. Sangat nyaman sekali, aku seakan terbius oleh suasana yang kurasakan pagi hari ini. Ada dorongan kuat dalam hati untuk bercengkrama dengan sang asthoh. Belum sempat aku memulai, dia malah bertanya duluan kepadaku.
“ masih gelap begini kamu mau kemana nak....?? “ tanya asthoh yang melihatku masih berdiri di depannya sambil mendekap mushaf.
“ mau ke darasa, syeikh. Ada mau’id dengan Syrikh Asyrof di mesjid Ja’farie ”
“ kamu sudah hafal alqur’an..? “
“ ah..belum. laitani kuntu ma’ahum.. anda sudah hafal.?”
“ alhamdulillaah..”
Subhanallaah..!! pantesan bus ini nonstop dengan murottal. Aku semakin bertambah segan kepada orang yang berada dihadapanku.
“ pak supir juga hafal alqur’an...? “
“ iya, beliau juga sama.. “
“ Ya salaam....barakallahu fikum ya syiekh...” ucapku berkali – kali penuh takjub kepada mereka. Ingin rasanya aku bertanya bagaimana mereka bisa menghafal alquran. Apa saja trik dan mungkin cara cepat dan mudah dalam menghafal serta agar tidak mudah hilang. Melihat mukaku yang diselimuti pertanyaan, seakan asthoh di depanku sudah bisa membaca semua persoalanku.
“ intinya bukan cepat atau lambat. Bukan lancar atau tidak. Semuanya bermuara pada niat dan hati. Apa motivasi awal kamu untuk menghafal alquran. Semuanya bermula dari sikap dan kondisi hati yang benar. Apakah ingin mendapat popularitas, penghargaan, kedudukan atau karena tuntutan lain. Jadikanlah niatan awal kamu hanya karena Allah, semata – mata ingin mendapatkan ridho – Nya. Jika masih belium bisa menguasai hatimu maka, alquran akan semakin lari darimu.
Luruskan niat, bersihkan hati dari segala urusan dunia. Berharaplah agar termasuk keluarga Allah di jagat raya ini. Jika sudah benar dan tulus hatimu, Allah akan membukakan dadamu dan mejernihkan hatimu untuk menerima kalam – Nya. Ingatlah , perumpamaan kalam Allah tidak ubahnya seperti perumpamaan Dia ( Allah ) dengan seluruh makhluknya.
Orang – orang yang dikehendaki kebaikan oleh Allah , maka akan dilapangkan dadanya dalam menerima ( kebenaran ) islam. Sebaliknya, orang yang dikehendaki keburukan akan dijadikan dadanya terasa sesak, sempit dan seakan sedang memanjat langit yang tiada ujungnya. “
“subhanallaaah....” hatiku bergumam mendengar penjelasannya.
“ tidak semua hafizh teramsuk orang - orang yang selamat dari adzab Allah. Mereka sesungguhnya dihadapkan kepada dualisme pilihan yang sangat menentukan. Jika ia beramal setelahnya, maka sudah ada jaminan baginya untuk memasuki syurga dari pintu mana saja yang ia kehendaki. Bahkan diberikan kesempatan untuk menyelamatkan sepuluh keluarganya yang sedang tersiksa di neraka.� Diberi penhargaan orang tuanya berupa mahkota dan pakaian yang berkilau memancarkan cahaya, sinar cahayanya melebihi segala cahaya. Akan tetapi, jika ia berpaling dan tidak mengamalkan apa yang ada di dalamnya, terjerumus ke dalam kemaksiatan dan melanggar perintah – Nya. Malaikat Jabaniyah lebih mendahulukannya untuk diseret ke neraka jahannam dari pada penyembah berhala sekalipun. “
“ naudzubillaah ya robb..!! “ tiba – tiba seluruh tubuhku bergetar.
Tangan dan kakiku keringatan. Keringat dingin perlahan keluar dari kening dan hidungku. “ ya Allah jangan kau jadikan hamba termasuk golongan mereka robb...!! “ batinku merintih, berharap penuh takut akan adzab – Nya.
“ ya bunayya...” kata dia yang menyaksikan perubahan di rona wajahku.
“ aiwa ya syeikh....” sambutku menjawab pangglannya.
“ kamu tahu kisah Bal’am bin Ba’ura..? “
“ ya, aku masih ingat. Seorang ‘alim dari bani israil murid kesayangan nabi Musa AS. “
“ Dia termasuk orang yang diberikan pemahaman oleh Allh terhadap kitab – Nya. Sekaligus salah seorang yang mengetahui ismullah al a ‘ dhzom. Setiapkali berdoa senantiasa dikabulkan oleh Allah. Akan tetapi, ia melanggar perintah Allah dan nabi – Nya. Lebih memilih kehidupan dunia daripada akhirat. Tergoda bisikan syetan dan nafsu sesaat. Akibatnya Allah jadikan lidahnya menjulur panjang sampai ke dada. Masih terrekam dalam firman – Nya di surat al a’rof : 175 sebagai pelajaran dan agar manusia yang lain dapat mengambil ‘ibrah dari kisahnya.
Malahan Allah buat perumpamaannya seperti anjing yang terus menjulurkan lidah. Dihalau atau tidak dia tetap saja menjulurkan lidahnya. “
“ astaghfirullaaahaladhzim...na’udzubillah robb...! “
Memang ayat ini yang paling tajam dan sangat kasar menurutku. Betapa Allah menggambarkan orang – orang yang sudah memahami kitab – Nya namun merka tetap mendustakan – Nya. Perumpamaan meraka digambarkan dalam alquran seperti seekor ANJNG yang selalu menulurkan lidahnya. Sangat tajam dan sangat menyentuh sekali. Disampaikan langsung dengan kata kalb, sehingga terasa ada
Tapi sebentar, aku serasa heran dengan kernet bus ini. Bukannya dia seorang kernet? Tapi mengapa pengetahuannya sangat dalam sekali.?
Tunggu dulu, bukannya sekarang musim dingin..?? lalu mengapa di dalam bus ini terasa hangat...?? malah tangan dan kakiku keringatan ?? ada yang aneh dengan suasana kali ini. Kulihat seisi ruangan bus dari belakang hingga depan. Sangat rapi dan bersih. Tidak ada sampah bekas karcis ataupun tulisan peringatan “likibari as sinn wa al mu’awwiqin “.
“ Hmmmmm.............”
“ ada yang janggal “ pikirku dalam hati. Tidak ada penumpang lain dalam bus ini kecuali aku sendiri. Bukannya ini bus baru....? delapan puluh coret merah..?? seharusnya supir dan kernet tidak mengenakan jubah, melainkan pakaian resmi warna abu – abu..??? ada buhur di sini. Tapi mengelurkan aroma kasturi. Sangat aneh, dan tidak seperti biasanya. Suara murottal dengan lantunan syeikh yang tidak kukenal. Ah, mungkin hanya murottal ini saja yang agak dapat diterima. Yang lainnya masih tanda tanya dalam benakku. Benar – benar bus yang aneh.
“ Yabni, bukannya kamu mau ke mesjid itu..? “ tanya si asthoh
“ owh...benar syeikh...! “ jawabku setengah tergesa. Tidak terasa aku sudah sampai di mahattah darasa’. Sungguh perjalanan yang tidak terasa sama sekali.
“ terimakasih banyak syeikh, anda sudah memberikan nasihat yang sangat berharga sekali buat saya. Semoga saya dapat mengamalkan nasihat antum tadi. Semoga Allah memberikan keberkahan dan taufiknya kepada anda, salamku untuk pak sopir dan seluruh keluarga anda. “ ucapku kepada kernet sebelum kuputuskan untuk turun dari bus.
“ berterimakasihlah kepada Allah “ jawabnya
“ Yabni, IttaQullaah..wa yu’allimukumullaah..! bersabarlan dan istiqomahlah dalam beramal, niscaya Allah akan membukakan rahmat dan pintu keberhasilan untukmu..”
“ terimakasih syeikh...Assalamu’alaikum “
Kuulurkan tanganku untuk menyalaminya terakhir kali dipagi ini. Suasana di terminal masih sangat sepi sekali. Belum ada orang bahkan kendaraan di terminl kecil ini. Alhamdulillaah aku termasuk orang yang pertama memulai aktifitas di terminal darasa, pikirku.
Udara ganas musim dingin dengan angkuhnya kembali menampar mukaku sekeluarnya dari bus itu. Aku langsung mengigil kedinginan. Kaki terasa beku, kedua tanganku terasa semakin kaku. Gigiku kebali gemertak menahan cuaca oktober yang semakin menyiksa.
Kuberjalan menyebrangi terminal ke arah mesjid ja’farie yang terletak tepat di seberang jalan ini. Sesampainya di depan gerbang mesjid kutengok jam tanganku menunjukkan pukul lima kurang sembilan menit..
“ Hahhh....!!...Astaghfirullaahal’adziem...astaghfirullaaaah..!! “ teriakku keheranan. Bukannya aku berangkat tadi pukul lima kurang delapan menit...??
sekarang kurang sembilan menit..?? tidak mungkin perjalanan bu’uts – darasa ditempuh dalam waktu satu menit. Tidak mungkin.! Sangat mustahil..! aku yakin tadi aku tidak salah lihat.
Minimal sepuluh menit waktu yang dibutuhkan untuk peralanan normal dari bu’uts ke darasa. Aku masih ingat bagaimana perbincanganku dengan sang asthoh brlangsung sangat lama.
Kuputar tubuhku menghadap terminal darasa untuk melihat kendaraan yang baru saja menghantarkanku.
“ ya salaaaaam..! “
Tidak ada satu kendaraanpun kulihat di sana. Tidak ada bus, tramko atau mobil lainnya. Suasana terminal kuihat masih sangat gelap dan sepi sekali. Tidak sampai satu menit aku menyebrang jalan dari terminal ke mesjid. Tidak mungkin bus itu langsung pergi meninggalkan terminal. Biasanya semua kendaraan akan menunggu dipenuhi dulu oleh penumpang, baru setelahnya meninggalkan terminal. Kalaupun sudah pergi, mestinya aku masih bisa melihat mobil itu di sepanjang jalan darasa ini.
“ benar – benar bus aneh, pagi yang aneh, hari yang aneh..”
Tiba – tiba aku mencium aroma kasturi yang sama seperti aroma di dalam bus tadi. Kucoba melihat ke arah terminal dan sepanjang jalan darasa, tapi tidak juga kulihat kendaraan itu. Muka sang asthoh yang tadi menasihatiku, bergelayutan di kepalaku. Masih tampak jelas raut muka dan garis wajahnya di dalam ingatanku. Juga seluruh nasihat berharga yang telah dia berikan mengawali pagi hari ini. Semakin terlarut aku memikirkan kejadian pagi ini, bulu kudukku sedikit demi sedikit mendadak bangun. Tanpa pikir panjang segera kuberjalan memasuki mesjid untuk menyalami syeikh Asyrof dan kawan – kawan yang sudah berada di sana.
Madinet el bo’utse el islamea
Cairo, 22 September ‘10
http://www,elmishriya.blogspot.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan iwan ghoenawan sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.