|
QS. At-Taubah 9 : 129 : "Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepadaNya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung."
|


Ahad, 15 November 2009 pukul 17:30 WIB
Penulis : Maryam Eveline
Aku mati,
Ya, aku akan mati sekarang.
Bahagia bukan? Mati dalam kepahitan,
Mati dalam amukan?
Yang manis,
Yang nikmat.
Di dalam pekuburanku,
Beri aku kecupan hangat,
Taburkan bunga-bunga kematian untukku, sayang.
Maka jangan lupa kau akan datang.
Dan akan kuucapkan,
Selamat datang malaikat maut.
Hihihihihi...
Melodi yang indah bukan? Melancolis, syair-syairnya gentayangan, dan cantik. Aku sangat menikmatinya. Membuat senyumanku menyeringai manis. Bahkan, terlalu manis.
Bagiku…
Lirik, yang sangat sempurna.
Melodi yang terus melantun. Melambaikan nada yang tersaji di antara kesunyian malam. Bermain dengan denting jam yang semakin menunjukan kesepiannya. Berdentang kini, menunjukkan tepat jam 11 tengah malam. Bulan sekarang, bulan awal November, awal kematianku yang terbayang di pelupuk mata. Sedang malaikat maut, terus menari-nari di depanku. Mengitari, dengan senyuman selamat datang untukku.
Di dalam ruangan yang gelap, hanya 2 obor besar yang terus mengobarkan cahaya gulita malam yang menyepi. Yang terletak di antara 4 sudut ruangan yang teramat besar. Ruangan yang bagi manusia-manusia itu, hanya dihuni oleh nenek sihir yang tak waras, dan hanya memiliki seorang pesuruh tua serta seekor kucing gila. Di dalam ruangan itu, terdapat benda-benda usang yang lapuk, berdebu tak terawat. Gurat-guratnya masih menyisahkan memori lama yang manis.
Seekor kucing masih menemaniku di sini, matanya tajam. Seakan menusuk jantung kemirisanku. Juling, tak layak. Bola mata cekung tak ramah, merah, dan pongkak. Percis sepertiku. Tua dan keriput. Tapi aku sangat menyukainya. Suara pekikannya, yang mengeong di antara kepedihan-kepedihan masa perihku. Dia setia, menemani hari-hariku. Dan selalu bersandar di tubuhku yang renta ini. Bermanja padaku. Tanpa piciknya, aku bagaikan manusia tanpa jiwa.
Aku duduk dengan secangkir kopi tak dingin, pahit. Kopi yang tak layak diminum oleh perempuan tua sepertiku ini. Kopi hitam yang dibawa pesuruh tuaku, yang keinginannya untuk aku mati lebih cepat. Dan ia, akan mendapati hartaku yang tak habis 7 keturunan ini.
Sekarang, aku masih menikmati pemandangan yang amat indah. Teramat indah, bahkan. Gurat-guratnya kelam, bahkan pekat. Dengan corengan plat yang menggelitiki senyuman parahku. Membuatku berjam-jam, bahkan setiap detik memandanginya. Menatapi liukan pemandangan itu, pemandangan yang tergores dalam sebingkai foto dinding yang berwarna hitam. Tahukah dirimu, sayang? Tahukah apa isinya? Isinya ada di depanku sekarang. Sebuah foto yang lapuk. Tapi mungkin, kau tak perlu tahu apa isinya, karena itu tak penting bagimu. Tapi, tidak bagiku.
Di kursi tua inilah, tempatku bercokol, menikmati foto itu. Sambil mengelus kucingku ini. Dan menyanyikan melodi kematian yang aneh.
“Aku mati…”
“Aku akan mati. Hihihi...”
Bernyanyi, sambil menikmatinya. Senyuman itu, terpancar rona-rona miris, gamang. Di sana, tergurasi sepotong tangis yang meremuk dan lagi, anggun. Cerita 3 dimensi yang tak nyata, seolah, terdapat dengungan tawa, suara-suara 3 orang yang saling bercerita di balik foto itu. Bercerita tentang hari-hari yang indah. Yang maya. Tapi, seakan malaikat maut terus menertawakan mereka, menertawakan kecelakaan yang sebentar lagi merenggut 4 tahun parade kematian. Kematian mereka. Ya, mereka!
Oh Tuhan!! Mereka.
“Hihihihi…” Aku pun juga ingin tertawa. Tertawa seperti dirimu, malaikat maut.
“Hihihi...” Terus kupandangi foto keluarga itu.
Tidak!!! Itu mereka. Mereka, Ayu. Mereka! Anak- anakmu, suamimu.
Begitu tegakah dirimu?
Begitu tegakah…
Menertawakan kematian mereka
Menertawakan malaikat maut yang menjemput mereka lebih dulu.
“Tidakkk!!!!!!!! Tidak!!!!”
Tidak! Mereka tidak mati.
Mereka masih hidup!
Mereka di sini.
Mereka ada!!! Rasanya, aku ingin memecahkan suara yang mengerikan itu!!
“Huhuhuhu...” Air ini berlinangan. Air mata ini seakan nanah yang menghujamku berkali-kali, karena itu tak benar!! Siapa yang mengatakan itu??? Siapa yang berani?!
“Tidak!! Kau itu idiot!! Persetan denganmu! Keluargaku masih hidup. Masih hidup. Huhu..”
Aku muak mendengarmu!! Muak!!!
“MEONGGGGG!!!!!!!!!!$&(#*!!!!”
“Plasshsss!”
Darah itu, mengucur di antara pecahan kaca bingkai foto yang usang. Terus mengalir deras di lantai ruangan yang hanya diterangi api perapian dan obor. Di sisi pecahan kaca itu, terkapar seekor kucing yang malang. Yang tak bernafas, dan tak berkutik. Karena baru saja, ia terlempar untuk sekedar menghantam bingkai poto yang sekarat. Sedang tuannya, menangis merintih sejadi-jadinya.
“Jangan kau siksa aku. Jangan kau siksa aku. Huhuhu…”
Aku semakin mendekap diriku lebih kuat. Melindungi kalau-kalau suara itu akan menghantuiku lagi. Aku muak!
“Roi…” Kudekati ia, masih terus kuelus bulunya yang hitam. Kasar, bahkan teramat.
Kuciumi ia, seakan tak ingin merasakan perihnya kehilangan lagi. Kehilangan yang menyisakan ketersiksaan siksa yang menari-nari dalam bayangan kematianku.
“Roi… Lihat aku, manisku.”
Kuraih Roi-ku yang malang, sangat malang bahkan! Dan aku tahu, ia mati sekarang. Tapi itu pantas baginya. Karena ia terus-terusan mengatakan, bahwa mereka yang kucintai itu, telah mati.
“Lihat ini!” Kuangkat tubuhnya, kutatapkan matanya yang mendelik itu. Kupaksa ia untuk menatapnya lebih tajam.
“Mereka masih tersenyum. Hihihi...” Kuperlihatkan satu persatu anak-anakku yang anggun itu.
“Ini Maryam, gadis yang manis. Bahkan lebih manis darimu Roi. Hihi..”
“Ia selalu memperlihatkan senyumnya. Hihi.. Dan memberiku mawar hitam setiap pagi.. Hihi..”
“Dan ini, Eveline, gadis yang terlalu anggun dan pemalu. Dan kau tahu, Roi, wajahnya merah, menggelikan sekali. Hihihi...”
“Dan ini, adalah suamiku.” Terbayang suara-suara tawa miliknya. Tawa, yang mematikan.
“Laki-laki yang selalu memberiku kehangatan. Haha.. Kehangatan yang kekanakan, tapi aku suka, Roi,” aku lagi-lagi terbahak tak karuan. Memang sangat menyenangkan sekarang.
“Puk!!!”
“CESSSS...”
Sekarang aku benci semua ini, Roi terlihat tambah sekarat karena telah kubuang di ujung perapian dan terbakar hebat. Bau busuk menyeringai sekarang. Seakan kemenyan terus bertebaran di ujung kematianku. Dan kusadari, aku telah kehilangan sahabat terbaikku sekarang. Tidak, ini tak adil!!
Lonceng jam dinding tampaknya sebentar lagi akan berdentang. Tepat jam 00.00 tengah malam. Dan saat itulah, malaikat maut menghampiriku dan memberiku senyuman yang indah.
Dan sekarang,
“Teng.. Teng..”
Melodi itu tiba-tiba hilang tak berbekas. Lenyap, bersama kematian yang tragis.
Seorang pesuruh tua duduk dengan tenang, ia sedang menyaksikan acara televisi pagi tentang berita hangat yang berjibaku bersama kengerian mereka yang menyaksikannya. Diam dan ketakutan.
“Berita pagi hari ini, tepat pukul 00.00 tengah malam, awal November 2005. Seorang nenek tega menghabisi nyawanya sendiri dengan menyayat-nyayat tubuhnya dengan pecahan kaca foto keluarganya. Bunuh diri ini diduga lantaran almarhumah tidak dapat menerima kematian keluarganya yang meninggal akibat kecelakaan 4 tahun yang lalu.”
Laki-laki tua itu tersenyum mendelik dan puas. Karena sebentar lagi, milik perempuan itu akan menjadi miliknya, selama-lamanya.
“Hihihi... Sudah lama aku menantikan kematianmu, ayu. Sayang, kau baru mati sekarang.”
“Tapi tak kusangka, tepat 1 November.”
Pesuruh tua itu lalu pergi meninggalkan ruangan itu, tak peduli dengan acara berita yang didengarnya. Sekan muak dan puas! Berjalan acuh. Sama halnya, ketika ia meninggalkan serentetan memori lama, saat ia merusak rem mobil milik tuannya. Ya, tepat malam 1 November, dan kematian itu terjadi. Hihihi... 4 tahun yang lalu, bersama melodi kematian.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Maryam Eveline sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.