|
HR. At-Tirmidzi : "Pena (takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering, apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan."
|





Jum'at, 11 Oktober 2013 pukul 21:00 WIB
Penulis : Muhammad Nahar
Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Ad, (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain. (QS. Al-Fajr : 6-8).
Banyak penguasa mendirikan bangunan-bangunan besar dan megah untuk mengagungkan dan mengabadikan kehebatan mereka. Baik saat mereka masih hidup dan berkuasa atau saat mereka sudah meninggal dunia. Para Fir'aun membangun piramida-piramida raksasa untuk memakamkan jasad mereka dan mengabadikan keagungan kekuasaannya. Sebagian kaisar Cina ada yang membangun makam raksasa yang dijaga patung-patung prajurit terakota bersenjata lengkap. Penguasa pagan Babylonia dan sebagainya juga seringkali membuat bangunan-bangunan yang kurang lebih sama jenis dan fungsinya. Bangunan yang tampak megah itu justru menjadi saksi intrik politik, peperangan, dan pertumpahan darah para penghuninya. Baik karena serangan musuh dari luar ataupun konflik di antara para penghuninya sendiri.
Di saat para penguasa berlomba memperindah bangunan-bangunan mereka, kaum muslimin terdahulu justru berlomba-lomba memperindah qalbu dan kehidupan spiritual mereka dengan dzikir dan amal-amal shaleh. Bisa jadi itulah sebabnya para penerus Rasulullah SAW tidak mendirikan bangunan-bangunan megah dan besar. Mereka bukannya tidak mampu, Imperium Persia dan Romawi sudah mereka taklukkan dan wilayah kekuasaan mereka sudah sangat luas. Hasil bumi dan harta kekayaan duniawi mengalir deras ke dalam kekuasaan mereka. Tentu sangat mudah kiranya jika mereka mendirikan istana-istana raksasa. Namun, dari sejarah, kita ketahui bahwa keempat Khulafaur Rasyidin bersama para pembantu mereka hidup sangat sederhana. Mereka memberi teladan kesederhanaan pada pejabat dan rakyatnya, sehingga hampir tidak ada yang hidupnya mewah bergelimang harta meskipun tetap ada yang kaya. Hati-hati mereka sudah seperti istana megah yang mereka merasa nyaman berada di dalamnya, sehingga mereka tidak lagi perlu menambah kemewahan di luar dirinya.
Namun kini, sejarah kelam bangunan-bangunan megah itu terulang kembali. Bangunan-bangunan besar yang seolah tegak menantang Sang Penguasa Alam Semesta yang Hakiki kini dibangun di mana-mana. Menara-menara pencakar langit dan gedung-gedung perbelanjaan memenuhi setiap inci lahan kota. Semua itu hanya diperuntukkan bagi mereka yang tebal kantongnya, entah haram entah halal. Dan orang-orang miskinpun terpuruk di sudut-sudut kehidupan, tanpa masa depan yang pasti dan bisa diharapkan.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Muhammad Nahar sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.