|
QS. Ali Imran : 3 : "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung. "
|
|
|
fziah05@ymail.com |
|
http://facebook.com/fauziah humaira |
|
http://twitter.com/sihaizirah |





Selasa, 5 Februari 2013 pukul 17:00 WIB
Penulis : Fauziah Humaira
Keraguan selalu datang tanpa melihat usia ataupun jenis kelamin. Tak pandang bulu, mungkin begitu tepatnya. Datangnya tidak diundang, tapi tidak akan pulang kalau tidak diusir. Itulah dia, “ragu”. Saya yakin, setiap orang pasti mengalaminya. Saat ragu, lakukanlah! Hal Ini mungkin sangat sulit, karena yang kita kenal selama ini ragu-ragu mundur. Sungguh, ragu itu sahabatnya setan, siapa yang mau berteman dengan setan? Setan itu mahkluk terkutuk dan ingkar.
Mari sejenak kita membayangkan di luar rumah kita saat butiran salju dan hembusan angin datang. Kita akan lebih memilih untuk berada di rumah daripada keluar dengan alasan untuk menjaga kesehatan. Hal yang aneh ketika datang seorang yang renta ke luar dari rumahnya hanya untuk membelah kayu. Ada apa dengan peristiwa kecil ini? Inilah yang disebut seni total non-hidup. Salah satu penyakit yang mungkin kita lupakan saat ini, yaitu kecenderungan untuk mengobservasi ketimbang berbuat, menghindar daripada melibatkan diri, kecendrungan untuk mengalah pada kesulitan, berbagai ungkapan negatif yang terus mengarahkan kita untuk berhati-hati, untuk terus waspada pada pendekatan kita terhadap hal kompleks yang disebut kehidupan ini. Mengapa si renta itu begitu berani menentang salju untuk ke luar rumah, sedangkan yang lain memilih untuk tidak ke mana-mana? Satu kata “yakin”, dia yakin dengan apa yang dia lakukan. Berpikir positif dari setiap peristiwa.
Contoh dekatnya, di saat kita berada di bangku sekolahan. Setiap guru pasti sudah ada julukannya oleh para senior. Guru killer, mungkin itu yang paling popular. Sebagai anak baru, pastinya akan terima saja mentah-mentah kalau guru itu memang killer. Hanya sebagian kecil mungkin yang ingin mengalaminya sendiri, walhasil tidak semua yang mereka katakan itu benar.
Saat ragu, lakukanlah! Jangan terbelenggu dengan pola pikir yang belum tentu benar adanya. Segala sesuatu yang bergantung pada serangkaian keputusan-keputusan kita masing-masing, tetap harus diambil, keputusan-keputusan yang menjelaskan perbedaan antara hidup dengan non-hidup.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Fauziah Humaira sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.