QS. Luqman:17 : "Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). "
Alamat Akun
http://rifafarida.kotasantri.com
Bergabung
11 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Jakarta - Jakarta
Pekerjaan
CEO Nasywa Cafe
I'm Muslimah and Very Happy ^_^
http://rifarida.multiply.com
rifatulfarida@ymail.com
rifatulfarida@ymail.com
rifatulfarida@ymail.com
Tulisan Rifatul Lainnya
Aku yang Begini
24 November 2011 pukul 12:00 WIB
Walau Hanya Sekejap Mata
21 November 2011 pukul 14:00 WIB
Kemuslimahan dan Berdesak-desakan
11 November 2011 pukul 11:11 WIB
Menguncup Bunga
10 November 2011 pukul 13:20 WIB
Aku Malu
7 November 2011 pukul 13:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Percik

Jum'at, 25 November 2011 pukul 10:45 WIB

Berbagi Takdir

Penulis : Rifatul Farida

Malam Idul Adha. Dalam sorak takbir yang saling bersahutan. Pikiran saya melesat pada mereka yang mengalami busung lapar, pada mereka yang hampir setiap hari hanya makan nasi aking, pada mereka yang tidur di bawah jembatan, pada mereka yang kehilangan anggota keluarganya karena ditembak mati tentara zionis, pada mereka yang sudah dalam bilangan tahun hidup dalam embargo, pada mereka yang dibakar kampungnya, dan masih banyak lagi pada mereka, yang hidupnya begitu kontras dengan keadaan saya, engkau dan kita semua di sini.

Dalam bingkai keimanan, pertanyaanpun muncul. Adakah tanggung jawab ukhuwah yang bisa dan sudah dilakukan? Ketika kesetiaan dan kepedulian menguraikan bentuknya, maka bagaimanakah bentuk kesetiaan dan kepedulian kita tehadap mereka? Yang mungkin hanya menyelip di tengah kesibukan masing-masing kita yang sedang tenggelam mengurusi diri sendiri.

Bukankah setiap kita bersaudara? Yang ikatannya adalah hubungan dari langit, dengan kalimat syahadatain sebagai awal mula memintal ikatan itu. Kemudian, digambarkan begitu indah oleh sang Nabi SAW; jika yang satu sakit, maka yang lain ikut merasakannya.

Ya, yang lain ikut merasakannya. Dan ini artinya kita berbicara pada wilayah luas tentang tanggung jawab ukhuwah, kepedulian, dan kesetiaan. Sedang apa kita, ketika saudara kita di belahan bumi yang lain sedang merasakan busung lapar. Sedang apa kita, ketika saudara kita di belahan bumi yang lain sedang makan aking sebagai makanan pokok. Sedang apa kita, ketika saudara kita di belahan bumi yang lain sedang tidur di bawah jembatan. Sedang apa kita, ketika saudara kita di belahan bumi yang lain sedang kehilangan anggota keluarganya karena ditembak mati tentara zionis. Sedang apa kita, ketika saudara kita di belahan bumi yang lain sedang hidup dalam embargo. Sedang apa kita, ketika saudara kita di belahan bumi yang lain sedang dibakar kampungnya. Sedang apa kita?

Jika mereka sakit, maka kita pun ikut serta merasakannya. Demikian seharusnya statement itu keluar, yang dirujukkan pada sabda sang Nabi SAW. Inipun, dapat diartikan bahwa kita sedang berbicara tentang berbagi takdir. Siapkah? Entahlah, mungkin jawabannya menjadi tak sekedar ya atau tidak. Karena berbagi takdir adalah berbagi rasa juga. Dan ini belum menyentuh pembahasan pada kata itsar (mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri).

Berbagi takdir. Mungkin seperti "menantang" pertanyaan; kenapa bukan kita saja yang mengalami busung lapar; kenapa bukan kita saja yang makan nasi aking; kenapa bukan kita saja yang tidur di bawah jembatan; kenapa bukan kita saja yang kehilangan anggota keluarga karena ditembak mati tentara zionis; kenapa bukan kita saja yang diembargo; kenapa bukan kita saja yang dibakar kampungnya? Kenapa bukan kita saja?

Inilah gambaran ukhuwah itu, yang membuat kita sangat kencang kalau hanya untuk mengistighfarinya. Karena mungkin ternyata kita, tak sesiap itu untuk berbagi takdir.

http://rifarida.multiply.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rifatul Farida sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Widia | guru
Semailah hikmah dengan berpikir, tumbuhkan hikmah dengan menulis, dan petiklah hikmah dengan membaca. Semuanya bisa dilakukan di KotaSantri.com. Tampilannya keren, biru menyejukkan. I like it! Tulisannya sederhana, indah, dan sarat makna. Bisa nulis dan bisa baca juga. Semoga selalu memberikan manfaat bagi pengunjungnya.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1489 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels