HR. At-Tirmidzi : "Pena (takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering, apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan."
Alamat Akun
http://sari_asma.kotasantri.com
Bergabung
1 Februari 2010 pukul 16:22 WIB
Domisili
Jakarta Selatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
Mahasiswi
Tulisan Sari Lainnya
Rohingya, Kaum yang Terluka
13 Agustus 2012 pukul 18:00 WIB
Menjadi Muslimah Berprestasi dan Berkontribusi
3 Februari 2011 pukul 18:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Percik

Jum'at, 12 November 2010 pukul 17:20 WIB

Belajar; Dulu, Kini, dan Nanti

Penulis : Sari Anggar

Belajar dulu, kini, dan nanti. Mungkin sebagian orang, belajar atau menuntut ilmu bukanlah hal yang utama ketimbang materi duniawi. Akan tetapi untuk sebagian yang lain bahkan bagi kebanyakan orang, belajar atau menuntut ilmu adalah salah satu cahaya yang keelokannya melebihi matahari, kerupawanannya melebihi purnama, bahkan ia lebih berharga ketimbang materi duniawi semata, karena dengan belajar dan ilmulah dapat mengubah seseorang dari ketidaktahuan menjadi tahu. Mengubah dari kebodohan menjadi pintar. Mengubah dari kealpaan menjadi ingat. Mengubah dari kekhilafan menjadi sadar. Mengubah dari individualisme menjadi sosialisme. Mengubah dari anak-anak menjadi dewasa. Mengubah dari pemalas menjadi rajin luar biasa. Mengubah dari buruk perangainya menjadi berbudi mulia. Mengubah dari yang tidak beragama menjadi beragama nan shaleh dan shalehah. Juga mengubah dari penakut menjadi berani yang luar biasa. Berani bermimpi dan berani mengaplikasikan mimpi.

Dengan belajar dan ilmulah Nabi Adam AS bisa mengenali apa-apa yang ada di dalam surga. Allah Azza Wa Jalla telah mengajarkan secara langsung kepada Nabi Adam AS mengenai benda-benda yang ada di sekitarnya pada awal penciptaan Nabi Adam AS.

Dengan belajar dan ilmulah, seorang bayi yang tidak berdaya dapat bergerak, merangkak, serta berjalan, walau dengan kondisi tertatih dan jatuh bangun, juga dapat berbicara walau pada awalnya dengan bahasa yang kurang dimengerti oleh orang dewasa.

Hingga beranjak dewasa pun, kita masih harus terus belajar. Belajar bagaimana menjadi generasi rabbani. Belajar bagaimana menjadi muslim dan muslimah yang sejati, yang bermanfaat selain untuk diri sendiri, tetapi bermanfaat pula untuk agama, umat, orangtua, keluarga, tanah air, dan masyarakat.

Setelah itupun kita masih memiliki banyak pekerjaan rumah. Kita dituntut untuk terus belajar, di antaranya belajar dan memperbaiki diri. Bukankah dengan kita terus belajar dan memperbaiki diri, berarti kita juga telah belajar dan memperbaiki jodoh? Karena cikal bakal dari suatu pembentukkan keluarga selain karena kehendak dan ketentuan Allah Azza Wa Jalla, juga ditentukan oleh usaha dari diri kita sendiri.

Belum selesai sampai di situ. Kita pun setelah itu dituntut untuk terus belajar. Belajar bagaimana menjadi seorang ayah atau ibu yang baik, karena kualitas dari suatu generasi ditentukan oleh seorang ibu dan ayah. Seorang Ibu yang hebat akan melahirkan generasi yang hebat. Begitu juga dengan seorang ayah yang hebat akan membentuk generasi yang hebat pula.

Belajar. Belajar di sini tidak hanya mencakup konteks di atas, karena sesungguhnya belajar memiliki artian yang sangat luas. Pun, belajar maupun menuntut ilmu tidak cukup hanya dengan secara formil maupun nonformil. Tidak cukup hanya dengan duduk di bangku sekolah maupun bangku kuliah. Sungguh, Allah SWT telah memberi banyak karunia-NYA. Banyak media yang dapat kita gunakan untuk belajar, seperti alam dan kehidupan kita. Belajar bagaimana untuk peka dengan beribu-ribu hikmah dan tarbiyah yang telah Allah berikan di setiap peristiwa. Belajar bagaimana ikhlas ketika ujian datang, dan masih banyak lainnya.

Belajar. Tidak mengenal usia. Banyak orang-orang yang sudah lanjut usianya masih saja semangat untuk belajar. Terlebih belajar bagaimana cara melantunkan firman-firman Allah SWT secara baik dan benar, walaupun bacaan mereka masih terbata-bata. Itu menunjukkan bahwa belajar atau menuntut ilmu tak kenal usia.

Banyak sekali hal mengenai belajar. Tetapi memang, belajar memiliki artian yang sangat luas, sehingga tidak cukup hanya ditorehkan dengan lautan tinta atau ucapan hingga lelah. Tapi yang harus kita yakini, bahwa belajar atau menuntut ilmu tidak cukup hanya sampai di sini. Tidak cukup hanya sampai lulus kuliah. Tidak cukup hanya sampai ketika menikah. Tidak cukup hanya sampai memiliki anak atau ketika sudah mulai menua dan uban mulai bermunculan.

Karena belajar atau menuntut ilmu ada, dulu, kini, dan nanti. Hingga nafas terhenti dan hingga nyawa ada di kerongkongan.

Allahu a'lam.

Semangat untuk para pembelajar.

Suka
bambang dan Sari Anggar menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Sari Anggar sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Eko | Karyawan BUMN
Alhamdulillah bisa bergabung lagi setelah 6 bulan aku off. Tulisannya bisa menggugah perasaan kita. Lanjutkan, saudaraku!
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1039 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels