|
Umar bin Abdul Aziz : "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika engkau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
|
|
aziz_riz@ymail.com |
|
bacusti@gmail.com |
|
aziz_riz@ymail.com |

Jum'at, 5 November 2010 pukul 18:35 WIB
Penulis : muhammad rizal al aziz
Pada akhirnya tujuan manusia hidup adalah untuk mendapat pandangan rahmat dari tuhannya. Akan tetapi sebagian orang telah salah jalan dalam perjalanan hidupnya. Banyak yang mengartikan bahwa hidup harus dinikmati selagi hidup, hidup harus mendapat kekayaan yang lebih dari lainnya.
Kemudian timbul pertanyaan, "Apakah hidup hanya sebatas mencari kekayaan materi saja? Ataukah hidup hanya untuk mengejar cita-cita duniawi?" Lalu ada yang menjawab, "Hidup itu untuk mencari ketenangan dan ketentraman hati." Timbul pertanyaan lagi, "Lalu jalan manakah yang harus ditempuh untuk mendapatkan itu semua, apakah dengan bergelimangan materi dapat mewujudkan itu semua?" Jawabannya adalah, "Ya."
Tapi tunggu dulu, jika materi menjadi barometer akan ketenangan dan ketentraman jiwa, maka hal itu akan menjadi nishbi tatkala materi secara perlahan meninggalkan kita. Tak ada yang dapat menjamin semua materi yang kita miliki akan terus bersama kita sampai akhir hayat. Lalu jika semua materi itu benar-benar hilang dari diri kita, apakah kita masih bisa tetap merasakan ketenangan dan ketentraman jiwa seperti sebelumnya? Jawabannya sudah pasti tidak, karena yang jadi barometer tadi telah hilang.
Ada pepatah jawa bilang, "Wong urep iku sak dermo mung mampir ngombe (orang hidup di dunia itu cuma sebentar, ibarat kata cuma mampir untuk minum saja)." Ya, memang benar orang hidup itu cuma mampir minum saja, hanya sebentar. Jika yang sebentar itu hanya digunakan untuk mengejar ketenangan dan ketentraman duniawi, sungguhlah sangat merugi. Tapi lain halnya jika yang digunakan sebagai barometer ketenangan dan ketentraman jiwa itu adalah harta ukhrawi.
Harta ukhrawi adalah segala sesuatu yang dikerjakan untuk mendapat pandangan rahmat dari Tuhan. Tak perlu mengejar surga. Jika beribadah hanya ingin mendapat surga saja, tak ubahnya seperti seorang budak yang menginginkan upah padahal segala kebutuhan dan keinginannya telah dipenuhi oleh tuannya, bahkan sang tuan telah menyelamatkan nyawa budak tersebut. Lalu di mana rasa loyalitas budak tersebut pada tuannya, di mana rasa terima kasihnya, di mana rasa pengabdian setelah sang tuan memberi semua keinginan budak tersebut?
Surga bukanlah tujuan akhir seorang hamba, tetapi ridha. Ridha hamba kepada Tuhannya, ridha Tuhan kepada hambaNya. Tidak akan terasa panas nyala api neraka jika Allah telah memberikan pandangan rahmat dan ridha kepada hambaNya, meskipun ia telah dibenamkan ke dasar neraka yang paling dalam sekalipun. Dan sebaliknya, tidak akan terasa nikmatnya surga seorang hamba jikalau ia mendapat pandangan laknat dari Tuhannya sekalipun ia berada di dalam surga yang paling tinggi. Pada akhirnya adalah ridha yang harus dicari seorang hamba. Ridha ketika ia dikondisikan dalam keadaan kekurangan harta, ridha ketika ia dalam keadaan mempunyai harta yang lebih, ridha ketika ia diberi cobaan penyakit, ridha ketika ia diberi kesehatan, ridha akan segala hal, karena pada dasarnya semua keadaan yang kita alami adalah dari Allah Azza wa Jalla, Tuhan semesta alam.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan muhammad rizal al aziz sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.