|
HR. At-Tirmidzi : "Ya Allah, sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada Engkau dari hati yang tidak pernah tunduk, dari do'a yang tidak didengar, dari jiwa (nafsu) yang tidak pernah merasa puas, dan dari ilmu yang tidak bermanfaat."
|
|
|
http://dtpoetri11.blogspot.com |





Jum'at, 29 Oktober 2010 pukul 18:11 WIB
Penulis : Adinda Poetri
Banyak yang berpendapat bahwa menunggu adalah hal yang paling membosankan. Menunggu sebentar saja sudah mengeluarkan beraneka ragam komentar, apalagi jika harus menunggu dengan rentang waktu yang cukup lama. Bermacam ekspresi pun kerap diperlihatkan. Ada yang kecewa, bete, kesal, marah, gak sabar, dan ekspresi lainnya, terungkap secara jelas, langsung maupun tidak langsung.
Cobalah kita lihat kegiatan yang dilakukan jika kita masuk ke dalam suatu Bank. Ada yang menabung, mengambil uang, melakukan transfer, dan lain sebagainya. Pastinya setiap orang ingin segera dipanggil dan maju ke depan Teller dengan cepat sehingga tujuannya akan segera terlaksanakan. Tetapi segala sesuatunya memiliki aturan yang harus ditaati. Kita harus menunggu antrian tersebut sampai saatnya nomor antrian kita dipanggil oleh mesin pemanggil atau sampai saatnya kita berada di depan antrian.
Bagi yang masih berstatus belum menikah alias masih single, pastinya ingin segera menggenapkan setengah diennya itu. Do'a pun tak pernah lepas mengiringi langkah ikhtiar yang dilakukan. Bermacam bekal pernikahan pun kerap dipersiapkan dengan sebaik-baiknya.
Di saat yang lain telah menikah dengan pasangannya, terbesit dalam hati keinginan untuk bisa melakukan hal yang sama diliputi rasa rindu yang tinggi untuk bisa menikah. Setelah bermacam ikhtiar dilakukan, tetapi jika Allah SWT belum berkehendak mempertemukan kita dengan pasangan kita, berarti kita harus menunggu antrian tersebut dengan sabar dan tawakal. Insya Allah, jika sudah tiba waktunya, maka kita bisa melangkah memasuki gerbang pernikahan yang diridhai-Nya sesuai dengan harapan dan keinginan kita masing-masing.
Bagaimana jika dibandingkan dengan menunggu antrian untuk bertemu dengan Allah SWT dan Rasul-Nya? Apakah kita ingin segera dipanggil dan berada di urutan paling depan untuk maju ke hadapan Allah SWT dan Rasul-Nya? Ataukah justru kita malah ingin berada di urutan paling akhir dalam antrian tersebut?
Bila menikah saja muncul rasa rindu yang tinggi untuk segera melaksanakannya, akan serindu itukah untuk segera bertemu dengan Allah SWT dan Rasul-Nya? Ataukah kita merasa biasa-biasa saja, karena masih ingin tinggal lebih lama dengan kehidupan di dunia ini? Apakah bekal untuk bertemu dengan Allah SWT dan Rasul-Nya sudah kita persiapkan dengan sebaik-baiknya? Ataukah justru kita malah lupa tidak mempersiapkan bekal tersebut?
http://dtpoetri11.blogspot.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Adinda Poetri sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.