|
HR. Al Hakim : "Menyendiri lebih baik daripada berkawan dengan yang buruk, dan kawan bergaul yang shaleh lebih baik daripada menyendiri. Berbincang-bincang yang baik lebih baik daripada berdiam, dan berdiam adalah lebih baik daripada berbicara (ngobrol) yang buruk."
|

Jum'at, 30 April 2010 pukul 17:40 WIB
Penulis : wisnu frian
"Air mata ini adalah rahmah, Allah telah menjadikan di dalam hati hambaNya (kesedihan), dan sesungguhnya Allah merahmati kasih sayang pada hambaNya." (HR. Bukhari).
Ada yang berkata bahwa lelaki itu pantang untuk menangis. Kenapa? Salah satu kesimpulan adalah, karena menangis itu hanya kebiasaan yang dilakukan oleh wanita, bukan laki-laki. Sungguhkah demikian?
Bagi sebagian orang, menangis itu sesuatu yang menyenangkan, karena kepenatan yang terpendam akan padam ketika menangis. Hormon stres yang ada di dalam tubuh kita seolah tertekan, pedih memang. Tapi perasaan setelahnya adalah melegakan, bukankah begitu?
Sang lelaki yang murah hati dan murah senyum juga tak pernah kering matanya. Lelaki yang terkenal dengan sebutan sebagai Al-Amin itu, hampir tiap malam meneteskan air mata. Dalam sujudnya di sepertiga malam, matanya selalu sembab dan merah. Dan tahukah kita, apa yang membuatnya selalu menangis? Yang ia tangisi adalah kita, umatnya. Dialah Muhammad, sang kekasih Allah.
Bahkan Umar bin Khattab, pria gagah nan perkasa juga memiliki hati yang terlalu lembut bagai salju. Umar begitu mudah tersentuh, begitu kontras dengan tubuh kuatnya. Maka tak heran ketika hendak menemui Rasulullah, Umar melihat Rasulullah, sahabat yang selalu ada untuknya itu sedang berbaring di atas tikar yang permukaannya begitu kasar. Sebagian tubuh beliau berada di atas tanah. Beliau hanya berbantal pelepah kurma yang telalu keras. Sama sekali tidak melihatkan kenyamanan. Kemudian Umar mengucapkan salam kepadanya dan duduk di dekat sahabat terkasih. Air mata sang singa padang pasir itu pecah. Umar tak kuat menahan tangisnya melihat Rasulullah tergeletak dengan segala sesuatu yang jauh dari kata sederhana.
Rasul yang mulia itu bertanya, "Mengapa engkau menangis, ya Umar?" Umar menjawab, "Bagaimana aku tidak menangis. Tikar ini telah menimbulkan bekas pada tubuh engkau, padahal Engkau ini Nabi Allah dan kekasihNya. Kekayaanmu hanya yang aku lihat sekarang ini. Sedangkan Kisra dan kaisar duduk di singgasana emas dan berbantalkan sutera."
Nabi menjawab dengan nada begitu lembut, "Mereka telah menyegerakan kesenangannya sekarang juga, sebuah kesenangan yang akan cepat berakhir. Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir. Perumpamaan hubunganku dengan dunia seperti orang yang bepergian pada musim panas. Ia berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian berangkat dan meninggalkannya."
Lalu, masih berpikir bahwa menangis adalah kodrat wanita?
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan wisnu frian sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.