QS. Luqman:17 : "Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). "
Alamat Akun
http://joko.kotasantri.com
Bergabung
3 April 2009 pukul 00:18 WIB
Domisili
binjai - sumatera utara
Pekerjaan
tentor
seorang yang selalu berusaha untuk menyetabilkan keimanan... demi menggapai surga Ilahi
jecka_prabu2007@yahoo.com
Tulisan Arief Lainnya
Kesedihan yang Nyata
27 Januari 2010 pukul 20:55 WIB
Pelangi
Pelangi » Percik

Jum'at, 19 Februari 2010 pukul 18:12 WIB

Kala Terjerembab Dosa

Penulis : Arief Joko

“Manusia tidak ada yang terlepas dari dosa. Para Nabi pun pernah terjatuh dalam dosa, tetapi cepat bertobat dan mendapat ampunan dari Allah. Sikap cepat kembali dari dosa menjadi salah satu sebab kemulian mereka. Maka bagi siapa pun, hendaknya mencontoh para nabi ketika tersadar telah melakukan dosa."

Dosa merupakan sebuah pelanggaran syari'at Allah dan sangat dimurkai Allah. Dosa pertama yang terjadi adalah penentangan iblis kepada perintah Allah untuk sujud kepada Adam AS. Sebuah dosa yang menjadikannya dikutuk sampai hari kiamat dan menjadi penghuni abadi neraka. Ketetapan Allah kepadanya tersebut membuatnya kalap dan bersumpah akan menyesatkan manusia seluruhnya untuk menjadi temannya di neraka kelak, kecuali mereka yang ikhlas.

Pelaku dosa akan sulit kembali ke jalan yang benar kecuali mereka yang dirahmati Allah. Satu sisi dalam dirinya ada nafsu lawwamah yang selalu cenderung kepada keburukan dan di sisi lain ada iblis dan tentaranya yang membuatnya betah dalam kemaksiatan, sehingga mungkin kita pernah mendengar ungkapan keputusan seperti aku susah bertobat, aku sudah terlalu kotor, terlanjur basah mandi sekalian, tak ada jalan tobat bagiku, dan lain lain. Bahkan ada sebagian orang sebagai pelaku dosa yang seolah-olah tidak bisa hidup tanpa maksiat, karena dosa telah mendarah daging dalam kehidupanya.

Dosa ibarat penyakit yang apabila dibiarkan akan semakin ganas dan membunuh. Namun untuk sembuh pun perlu perjuangan dan kesabaran atas pahitnya bertobat, namun ada yang tidak mampu dan kembali berkubang dengan dosa.

Seorang muslim yang melakukan dosa, pasti suatu saat merasa kepenatan dan kesempitan, sehingga dengan kesadarannya ia ingin lari dan menyudahi dosanya. Namun setan akan membisikan kepadanya agar tidak bertobat dengan menakut-nakuti akan kemarahan Allah kepadanya dan kehinaan dirinya hingga tak mungkin diampuni Allah, hingga dia akan berputus asa dari tobat, walaupun mungkin dia telah meninggalkan dosanya. Sikap meninggalkan dosa tanpa tobat ini tidak akan mempunyai nilai ibadah, karena tanpa ada nilai penghambaan kepada Allah.

Insan ini hendaknya merenungi perkataan seorang ulama, yaitu Ibnul Qayyim, “Dia (Allah) adalah Rabb yang Maha Pengampun, maka dia menyukai ampunan, maghfirah, dan tobat. Dia senang dan gembira dengan kegembiran yang tak terhingga kepada tobat hambaNya saat seorang hamba bertobat kepadaNya. ”Allah akan mengampuni hambaNya yang berdosa lantas ia bertobat walaupun dosanya sebanyak apapun.” Sebagaiman dalil dari Al-Qur’an, “Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai ampunan (yang luas) bagi manusia sekalipun mereka berbuat aniaya." (QS. Ar-Ra’d : 6).

Sabda Rasulullah SAW, Allah SWT telah berfirman, “Hai anak Adam, sesungguhnya selama kalian mau berdo'a dan mengharap kepadaKu, niscaya Aku ampuni segala dosa yang telah lalu darimu dan Aku tidak menghiraukan lagi. Hai anak Adam, sekiranya dosa-dosamu sampai memenuhi isi langit, kemudian kamu meminta ampun kepadaKu, niscaya aku ampuni. Hai anak Adam, sekiranya kamu menghadap kepadaKu dengan membawa sepenuh bumi kesalahan, tetapi kamu tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu pun, niscaya Aku berikan kepadamu ampunan sepenuh bumi pula." (Riwayat Tarmidzi).

Keluasan Rahmat Allah tersebut hendaknya menjadikan seiap insan tidak berputus asa untuk kembali kepadaNya. Pintu ampunan Allah begitu luas dan selalu terbuka, maka tiada alasan bagi siapa pun untuk tidak bertobat. Taubatan nasuha sebagai bentuk penghambaan yang secara tulus merendahkan diri terhadap Keagungan Allah. Janganlah berputus asa dari RahmatNya, karena sikap tersebut merupakan sikap orang yang sesat, sebagaimana Firman Allah, “Dan tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya kecuali orang orang yang sesat." (QS. Al-Hijr : 56).

“Maka bersegeralah menuju Allah, semoga menjadi hamba-hamba yang beruntung.“

Wallahu a’lam.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Arief Joko sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Dradjat | Pegawai
KotaSantri.com memang pas menjadi tempat mangkalnya para santri yang ingin mengikuti jejak nabinya. Semoga penulisan-penulisan di KotaSantri.com yang penuh keteledanan dan pelajaran adalah wajah kehidupan santri sebenarnya.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1297 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels