|
Sirah Umar, Ibnu Abdil Hakam : "Aku akan duduk di sebuah tempat yang tak kuberikan sedikit pun tempat untuk syaitan."
|
|
|
http://ayyesha97.multiply.com |
|
|
ayyesha97 |

Selasa, 12 Januari 2010 pukul 18:35 WIB
Penulis : Ajeng Miftahul Jannah
Ketika mulai mengenal arti kata “sahabat”, selalu ada tanya yang terlontar, “Apa arti persahabatan bagimu?” Maka jawaban yang terucap adalah, ”Sebuah wadah tempat berbagi suka dan duka," jawaban yang klise.
Lalu muncul sebuah pertanyaan baru, “Bagaimana gambaran sahabat yang ideal dalam bayanganmu?” Maka jawabannya adalah, “Orang yang siap berbagi suka dan duka,” sangat klise. Maka terlontarlah pertanyaan terakhir, “Apa yang membuatmu mau bersahabat denganku?” Maka jawabnya hanyalah tatap dan senyum tanpa suara, sebuah jawab dari tanya yang memiliki beribu makna yang sulit ditafsirkan.
Sungguh, tiada yang lebih indah dari sebuah persahabatan, yang karenanya, maka terbukalah beribu cakrawala baru yang mampu mengubah segalanya dalam kehidupan seseorang. Apalagi saat kedua belah pihak bisa saling menyesuaikan diri dan saling menerima apa adanya. Subhanallah…
Tapi, saat realitas sang sahabat tak sesuai dengan bayangan idealnya, maka hal itu bisa menorehkan kekecewaan yang teramat dalam, yang bisa mengakibatkan dirinya tak percaya lagi pada arti “sahabat". Hal itu bisa saja terjadi, karena kurangnya pemahaman seseorang terhadap konsep Ukhuwah Fillah, sebuah ikatan persahabatan, ikatan persaudaraan yang berlandaskan keridhaan Allah SWT. Subhanallah…
Adalah indah jika ukhuwah terjalin karena terpautnya hati oleh iman dan aqidah.
Kalimat yang selalu terngiang-ngiang. Tak bisa diungkapkan oleh kata-kata mengenai keindahan berukhuwah itu. Namun, kembali, selalu ada kata yang mengusik, "Who am I and who they are?" Tapi jawaban yang kemudian didapat adalah senyum yang tulus, tatap yang teduh, dan jabat yang erat. Ukhuwah itu indah, apalagi jika diikat oleh Allah, maka tanyamu hanya dapat terjawab oleh hati yang tulus.
Kadang, ada saatnya diri merasa bahwa kita bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa dibanding sahabat-sahabat kita, hingga membuat kita minder dan merasa tak layak bersahabat dengan mereka. Adalah menjadi beban ketika perasaan itu melanda dan kita berada di tengah-tengah orang-oranng yang ‘hebat’.
Namun, kemudian timbul asa baru. Keyakinan bahwa Allah menciptakan manusia berbeda-beda. Kekurangan yang ada pada diri seseorang mungkin justru adalah kelebihan yang ada pada diri kita. Begitu pula sebaliknya. Dan jika itu berupa kebaikan, semoga menjadi spirit bagi kita untuk memacu diri agar kita bisa lebih baik lagi dari orang lain.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ajeng Miftahul Jannah sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.