Sirah Umar, Ibnu Abdil Hakam : "Aku akan duduk di sebuah tempat yang tak kuberikan sedikit pun tempat untuk syaitan."
Alamat Akun
http://aishliz.kotasantri.com
Bergabung
8 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Matsudo - Chiba
Pekerjaan
Guru
http://aishliz.multiply.com
http://friendster.com/http://friendster.com/aishliz
Tulisan Lizsa Lainnya
Jepang, di Sini Ada Persahabatan
22 November 2009 pukul 15:25 WIB
Mental Terjajah?
13 November 2009 pukul 16:00 WIB
Asisten Pribadi
3 November 2009 pukul 15:35 WIB
Malu yang Sebenarnya
23 Oktober 2009 pukul 15:00 WIB
Jepang, di Sini Cinta Bersemi
10 Oktober 2009 pukul 15:15 WIB
Pelangi
Pelangi » Percik

Jum'at, 27 November 2009 pukul 17:40 WIB

Jangan Menuntut Pembenaran

Penulis : Lizsa Anggraeny

Apa salahnya diam? Melihat ke dalam diri, jangan hanya mencari pembenaran. Kasak-kusuk kanan-kiri mempertanyakan sesuatu yang membosankan. Jangan membuat persepsi baru yang membuat ambigu orang-orang yang tak tahu. Bersikap wajar apa salahnya? Dewasa membaca hati nurani.

Ternyata... Umur bukan ajang mengukur kedewasaan. Pendidikan tak menentukan kepribadian. Jangan menuntut pembenaran, tanpa bercermin pada diri. Mendandani kata berdalih persahabatan. Karena sebuah persahabatan tidak menuntut pembenaran. Ia akan tumbuh dari sikap yang wajar.

Sudahkah mencoba melihat bening air dalam kolam? Air diam tenang yang tiba-tiba dilempari batu. Ia akan menimbulkan riak, guncangan kencang saat tenangnya tersakiti batu. Meski beberapa saat riak secara perlahan-lahan menghilang, tapi batu tetap ada, tak bisa hilang dari dasar kolam.

Atau, sudahkah membaca kisah Wahsyi RA? Salah seorang sahabat yang hidup di jaman Rasulullah SAW. Sahabat yang berjasa membunuh orang terjahat pemimpin kaum murtad Yamamah "Musailamah Al-Kazzab" setelah ia memeluk Islam.

Namun, ia pula yang membunuh paman tercinta Rasulullah bernama Hamzah saat perang Uhud, sebelum masuk Islam. Meski Rasulullah SAW tidak membenci Wahsyi yang telah berikrar dalam Islam, namun beliau memberikan wasiat kepadanya. "Jangan engkau menunjukkan wajahmu di hadapanku." Karena setiap melihat wajah Wahsyi, akan terbayang pula wajah Hamzah mati menggenaskan.

Sesuatu yang terlanjur dilemparkan secara menyakitkan, perlu waktu untuk menghilangkannya. Seperti air kolam yang dilempari batu, ataupun seperti hati lembut Rasulullah yang teriris pilu, mungkin seperti itu pula hati nurani yang masih terasa.

http://aishliz.multiply.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Lizsa Anggraeny sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Eni Sumartini | Dosen Keperawatan
Alhamdulillah, tulisannya baik, semoga jadi amal shaleh yang tidak terputus. Amin.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1229 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels