|
HR. Muslim : "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada sosokmu dan hartamu, tetapi Dia akan melihat kepada hatimu dan amalanmu."
|
|
|
http://mariam008.multiply.com |
|
mariam@kotasantri.net |
|
mariam@kotasantri.net |
|
|
mary_oq07 |
|
email_aq07@yahoo.com |





Kamis, 21 Februari 2013 pukul 17:00 WIB
Penulis : Mariam Komalawati
"Hak kita sama dengan kaum laki- laki! Kita jangan mau dinomorduakan! Kita harus perjuangkan hak-hak kita!" Itulah bagian dari ungkapan-ungkapan yang dikemukakan oleh para "pahlawan" pembela kaum perempuan. Sepertinya sangat membela dan meninggikan derajat kaum wanita. Tetapi sebetulnya mereka sedang memperburuk kehormatan dan kemuliaan mereka sendiri.
Islam sudah sejak awal memuliakan perempuan. Salah satunya tercermin dalam ungkapan Rasulullah SAW menjelang wafat beliau, selain mewasiatkan untuk menjaga umat dan shalat. Kemudian dalam sejarah juga tercatat para pahlawan wanita Islam yang namanya harum karena karyanya dalam dakwah. Mereka dicatat tinta emas sejarah tanpa mengorbankan kedudukan mereka di hadapan Allah SWT dengan melanggar ketentuanNya.
Sangat disayangkan banyak para Muslimah dengan dalih berdakwah memperjuangankan emansipasi, tetapi tidak paham bagaimana seharusnya wanita berdakwah sesuai aturan Islam. Di antaranya tidak memperhatikan hijab, tidak terjaganya pandangan, dan yang paling penting mereka tidak paham tentang kepemimpinan wanita dalam Islam. Inilah emansipasi yang kebablasan.
Dalam Al-Qur'an Allah SWT menyatakan bahwa kaum laki-laki adalah pemimpin atas kaum perempuan. Rasulullah SAW mempertegas firman Allah tersebut dalam sebuah haditsnya, "Tidak akan pernah bahagia suatu kaum yang menyerahkan urusannya kepada wanita."
Ayat dan hadits di atas sangat jelas sekali bahwa yang harus memimpin itu adalah laki-laki. Kecuali dalam komunitas perempuan, maka boleh di antara mereka ada yang menjadi pemimpin untuk kalangan mereka sendiri. Sudah seharusnya dalam sebuah lembaga Islam seperti pesantren, ada unit khusus bagi Muslimah untuk dapat berkreasi dalam berdakwah. Dengan wadah khusus, kaum Muslimah memiliki kebebasan dalam berkreasi untuk tujuan dakwah sesuai tuntunan Islam.
Pada akhirnya, tidak ada emansipasi yang kebablasan. Tidak terjadi lagi perjuangan atas nama emansipasi yang menghinakan martabat kaum Muslimah. Mudah-mudahan Allah SWT membimbing para Muslimah agar selalu mengevaluasi diri dan mengevaluasi gerakan dakwahnya, sehingga dapat sesuai dengan aturan Yang Mahakuasa. Semoga gerakan dakwah kaum Muslimah tidak terkotori oleh ambisi dan kepentingan pribadi, serta terbebas dari syahwat duniawi.
Terakhir, sebagai bahan renungan. Beberapa kejadian kriminalitas yang dilakukan oleh beberapa orang laki-laki karena mereka tidak memiliki pekerjaan. Mereka terpaksa melakukannya agar dapat menghidupi keluarganya. Bila kita runut akar masalahnya, salah satunya karena banyaknya posisi pekerjaan untuk laki-aki diisi oleh perempuan.
Mungkin akan sedikit tindakan kriminalitas seandainya kaum perempuan tidak meninggalkan rumah mereka, sehingga posisi-posisi pekerjaan itu diisi kaum laki-laki. Saat ini masih banyak sarana yang dapat digunakan para Muslimah untuk mengoptimalkan kemampuannya dalam dakwah tanpa harus menjadi pimpinan untuk kaum laki-laki.
Dari Majalah Swadaya - Edisi 46
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mariam Komalawati sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.