Ust. Aam Amiruddin : "Sesungguhnya sepercik kejujuran lebih berharga dari sebongkah cinta. Apa arti sebongkah cinta kalau dibangun di atas kebohongan? Pasti rapuh bukan? Betapa indahnya apabila kejujuran dan cinta ada pada diri seseorang. Beruntunglah Anda yang memiliki kejujuran dan ketulusan cinta."
Alamat Akun
http://mumtahah_annisa.kotasantri.com
Bergabung
19 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Jakarta Barat - DKI Jakarta
Pekerjaan
IRT
http://li4ni.multiply.com
Tulisan Mumtahah Lainnya
Ingin Cantik? Berjilbablah!
3 Juni 2010 pukul 20:13 WIB
Muslimah Sejati
18 Maret 2010 pukul 20:55 WIB
Karenanya Kau Dipilih
18 Februari 2010 pukul 20:45 WIB
Untukmu, Wahai Wanita Muslimah
15 Oktober 2009 pukul 19:33 WIB
Apa Kabar Hari-hari Dakwahmu, Saudariku?
18 Juni 2009 pukul 19:30 WIB
Pelangi
Pelangi » Muslimah

Kamis, 9 Desember 2010 pukul 21:15 WIB

Bengkoknya Tulang Iga Merupakan Keistimewaan Wanita

Penulis : Mumtahah Annisa

Apakah seorang wanita merasa tidak enak bila disebut oleh seseorang, seperti suaminya bahwa ia diciptakan dari tulang iga yang bengkok?

Apakah ia merasakan bahwa kebengkokan tulang iga yang diciptakan oleh Allah berasal darinya akan mendeskreditkan dirinya dan mengurangi martabatnya?

Abu Hurairah telah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, "Saling berpesanlah kalian untuk memperlakukan wanita dengan baik, karena sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang iga, dan sesungguhnya yang paling bengkok dari tulang iga itu adalah bagian atasnya. Jika engkau bersikeras untuk meluruskannya, niscaya engkau akan mematahkannya; dan jika engkau biarkan, ia akan tetap bengkok. Karenanya, saling berpesanlah kalian berkenaan dengan wanita."

Makna hadits ini tidaklah mengurangi martabat wanita barang sedikitpun dan tidak pula mendiskreditkan eksistensi kemanusiaannya. Bahkan makna hadits ini mengingatkan karakter psikologi penting yang telah difitrahkan dalam diri wanita sejak asal mula kejadiannya. Hadits ini melarang upaya untuk mengubah karakter ini melalui sabdanya yang mengatakan, "Jika engkau bersikeras untuk meluruskannya, niscaya engkau akan mematahkannya."

Permulaan hadits ini dan penghujungnya, kedua-duanya memesankan untuk memperlakukan wanita dengan perlakuan yang baik. Pesan ini justru makin memberikan nilai tambah pada diri objek yang dipesankan dan sekaligus menguatkan penafian kecurigaan adanya kekurangan.

Sebagaimana hal yang bengkok bukanlah suatu kelemahan, demikian pula hal yang lurus pun bukan suatu keistimewaan. Alangkah indahnya ungkapan yang memperumpamakan hakikat ini dengan busur dan anak panah. Busur memang harus bengkok dan anak panah harus lurus. Seandainya tidak ada kebengkokan pada busur, tentulah anak panah tidak dapat melesat kuat dan lurus ke arah sasaran yang akan dikenainya.

Sesungguhnya semua kata yang menunjukkan makna bengkok dalam bahasa Arab, dalam waktu yang sama menunjukkan pula arti yang mengandung makna perasaan. Kata hadabun artinya punggungnya melengkung dan juga berarti penyayang. Hanna artinya bengkok dan juga sayang dan kasihan. Athfun artinya berlenggak-lenggok saat berjalan dan sebagainya, dan juga berarti pengasih dan penyayang. Demikianlah seterusnya.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa seandainya tidak ada kebengkokan yang juga mengandung makna kelembutan, kasih sayang, dan perasaan dalam diri wanita, niscaya laki-laki tidak dapat bergerak dengan lurus dalam kehidupan sebagai faktor yang menentukan.

Apakah akan berhasil jika kita mencoba meletakkan busur sebagai ganti dari anak panah pada busur lain untuk kita lepaskan ke arah sasaran? Apakah berhasil jika kita jadikan anak panah yang lurus sebagai busur, lalu kita meletakkannya pada anak panah lain untuk kita lepaskan ke arah sasaran? Jawabannya ialah dua anak panah, kedua-duanya tidak akan dapat mengenai sasarran! Demikian juga dua buah busur, kedua-duanya tidak akan dapat mengenai sasaran pula! Tiada lain untuk mengenai suatu sasaran hanyalah diperlukan sebuah anak panah dan sebuah busur!

Risalah Mukminah, Jangan Teperdaya (Muhammad Rasyid Al-Uwaid)

http://li4ni.multiply.com

Suka
Eka Mirnia, bambang, dan Naflah menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Mumtahah Annisa sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Akhmad Muhaimin Azzet | Penulis
Membaca-baca di KotaSantri.com, di samping memetik motivasi dan inspirasi, betapa terasa damai di dada. Sungguh. Beginilah bila akhlak mulia yang dijunjung dan dijaga. Alhamdulillah...
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1312 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels