Anis Matta : "Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis."
Alamat Akun
http://mioariefiansyah.kotasantri.com
Bergabung
14 Maret 2009 pukul 17:57 WIB
Domisili
Bekasi - Jawa Barat
Pekerjaan
Penulis
http://mioariefiansyah.wordpress.com
Tulisan Miomio Lainnya
Jangan Sebut Aku Perempuan Sejati
11 Oktober 2012 pukul 13:00 WIB
Wanita Perkasa
30 Agustus 2012 pukul 17:00 WIB
Susah ya Jadi Wanita
5 Juli 2012 pukul 13:45 WIB
Wanita, Satu Kata Berjuta Makna
1 Desember 2011 pukul 13:45 WIB
Agar Suami Mengizinkan Istri Bekerja
10 Maret 2011 pukul 13:15 WIB
Pelangi
Pelangi » Muslimah

Kamis, 6 Mei 2010 pukul 19:15 WIB

Budaya Membaca bagi Wanita

Penulis : miomio

”Wanita adalah tiang negara.” Ungkapan tersebut menggambarkan betapa pentingnya peran wanita dalam suatu negara. Negara bisa hancur karena wanita, dan begitu pula sebaliknya, negara bisa maju juga karena wanita. Hal tersebut bukan berarti keberadaan laki-laki dalam membangun bangsa menjadi ter-maginal-kan, bahkan laki-lakilah yang menggerakkan jalannya roda kepemimpinan bangsa. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa wanitalah yang merupakan unsur pertama dalam membangun peradaban suatu bangsa. Hal tersebut karena wanita mengemban tugas yang sangat penting, yaitu mendidik generasi penerus bangsa untuk menjadi generasi yang lebih baik dan lebih maju.

Kondisi yang ada pada saat ini, dimana kenakalan remaja sudah tak terbendung lagi, merupakan sebuah fenomena baru yang tidak mudah untuk diatasi. Kegagalan dalam pendidikan yang menjadikan mereka disorientasi merupakan salah satu penyebab terjadinya kondisi tersebut. Kegagalan dalam pendidikan tersebut berarti kegagalan wanita dalam membimbing menuju pintu masuk keberhasilan. Walaupun wanita tidak bisa disalahkan sepenuhnya atas kondisi tersebut, namun seperti yang telah diungkapkan di atas, bahwa wanita merupakan unsur pertama yang menjadikan generasi bangsa ini menuju ke arah yang lebih baik.

Untuk menjadi seorang pendidik yang baik, maka wanita harus memiliki kecerdasan yang tinggi. Bukan hanya dari segi akademis dan non akademis saja, namun wanita juga harus memiliki pengetahuan yang luas. Bagaimana mungkin wanita dapat menghasilkan generasi yang hebat dan kuat jika wanita yang notabene berperan sebagai pendidik tersebut tidak memiliki kemampuan yang memadai. Paradigma masyarakat yang cenderung konvensional meletakkan sebuah pemikiran yang sudah berakar kuat yang menyatakan bahwa wanita tidak perlu cerdas adalah sebuah paradigma yang salah, karena di tangan wanitalah nantinya akan terbentuk sebuah peradaban yang tinggi melalui pendidikan.

Untuk menjadi seorang pendidik yang cerdas dan berhasil, salah satu upaya yang paling mudah adalah dengan banyak membaca. Seseorang dapat mengubah pandangan hidupnya dan pola pikirnya melalui membaca, dan tentu saja membaca hal-hal yang positif. Dapat dikatakan bahwa membaca merupakan langkah awal menuju keberhasilan. Dengan membaca, seseorang dapat menjadi lebih baik daripada sebelumnya, pikiran menjadi cerah, inspirasi masuk, dan pada akhirnya proses untuk menuju ke arah yang lebih baik akan menjadi semakin mudah. Maka tidak salah jika dikatakan dengan membaca, kita bisa berubah, dari gelap menjadi terang dan dari tidak tahu apa-apa menjadi tahu segalanya. Leluhur bangsa Indonesia juga menciptakan ungkapan fantastik, membaca adalah kunci ilmu, sedangkan gudangnya adalah buku. Ungkapan ini menggambarkan betapa berartinya sebundel kertas yang bertorehkan tulisan bagi kehidupan manusia. Buku tidak hanya menjadi kekuatan yang mampu mengubah suatu bangsa menjadi lebih baik.

Sekarang bisa kita bayangkan, apa jadinya jika seorang wanita yang merupakan seorang pendidik tersebut memiliki budaya membaca yang tinggi. Tidak terlalu berlebihan jika dikatakan bahwa akibatnya adalah wanita bisa mengubah negara menjadi lebih baik melalui tutur katanya dan goresan penanya. Wanita yang gemar membaca akan memiliki pengetahuan yang luas serta pandangan hidup yang jelas. Wanita yang gemar membaca juga memiliki prinsip yang kuat dan tidak mudah terpengaruh oleh kondisi lingkungan yang berubah. Pada akhirnya nanti, wanita dapat menghasilkan generasi penerus bangsa yang cerdas dan mulia.

Jika kita boleh belajar rahasia besar di balik kesuksesan Bangsa Jepang, maka tidak lain dan tidak bukan adalah karena tingginya minat baca dan kemauan belajar yang keras. Padahal sudah menjadi rahasia umum bahwa Jepang pernah luluh lantak karena bom yang dijatuhkan di Hirosima dan Nagasaki. Namun, berkat perjuangan dan kerja keras, salah satunya adalah dengan banyak membaca buku pengetahuan dan mengimplementasikannya dalam kehidupan nyata, maka tidak heran jika sekarang Jepang sudah mampu mengungguli bangsa-bangsa Barat yang notabene adalah negara maju. Di Jepang, mulai dari anak- anak sampai orangtua, wanita dan laki-laki, hampir semua memiliki minat baca yang sangat tinggi. Oleh sebab itu, kesuksesan bisa mereka raih dengan gemilang.

Di Indonesia, budaya membaca sepertinya sudah ditinggalkan sebagian besar masyarakat, terutama wanita. Data yang dilansir Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2003 menggambarkan, penduduk Indonesia usia di atas 15 tahun yang membaca koran hanya 55,11% sedangkan yang membaca majalah atau tabloid hanya 29,22%, buku cerita 44,28%, dan yang membaca buku pengetahuan lainnya hanya 21,07%. Bukti terakhir dari rendahnya minat baca penduduk Indonesia adalah laporan kepala Perpustakaan Nasional Dady P. Rachmanata, dalam kegiatan Hari Aksara Nasional (HAN) tahun 2004 yang menyatakan angka pengunjung perpustakaan nasional dan daerah masih rendah. Dari pengunjung yang sedikit tersebut, hanya sepuluh sampai dua puluh persen yang meminjam buku. (www.pikiranrakyat.com). Di samping fakta tersebut, berdasarkan pengamatan penulis sendiri, di lingkungan tempat menimba ilmu (kuliah) yang notabene merupakan kumpulan calon-calon intelek muda dan agen pengubah dunia (the agent of change), penulis mendapati bahwa sebagian besar wanita tidak memiliki kesenangan untuk membaca. Kebanyakan dari mereka lebih suka untuk ngobrol/ngerumpi dibandingkan dengan membaca, bahkan walau hanya sekedar membaca buku cerita. Kalaupun ada yang memiliki kesenangan membaca, itupun jumlahnya hanya sedikit.

Berbagai macam alasan dikemukakan oleh sebagian besar wanita yang tidak suka membaca, di antaranya adalah bahwa kegiatan membaca merupakan kegiatan yang membosankan dan dianggap tidak keren. Kalaupun mereka harus membaca, itupun dilakukan karena tuntutan profesi sebagai mahasiswa, misalnya karena ada tugas yang mengharuskan mereka membaca berbagai macam literatur untuk mendapatkan nilai yang maksimal. Sehingga bisa penulis katakan bahwa membaca merupakan sebuah paksaan, bukan sebuah keharusan yang datangnya dari hati sanubari karena keingintahuan yang tinggi akan ilmu. Di samping itu, membaca dianggap kegiatan yang membosankan dan membuang-buang waktu karena manfaatnya tidak dapat dirasakan sekarang. Kalau ada pertanyaan, ”Mengapa Anda tidak suka membaca?” Maka jawabannya adalah, ”Buat apa membaca? Apa dengan membaca kita bisa menjadi kaya?”

Pandangan seperti itulah yang menyebabkan runtuhnya budaya membaca di kalangan wanita. Anggapan bahwa orang yang suka membaca merupakan orang yang kuper (kurang pergaulan) dan tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan merupakan sebuah penghalang bagi masuknya pengetahuan dalam kehidupan mereka. Padahal perintah membaca secara jelas ditulis dalam Al-Qur'an surat Al-'Alaq ayat 1, yaitu ”Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu.” Sehingga bagaimana mungkin seseorang dapat mengubah dunia melalui kecerdasan yang dimilikinya sedang dia sendiri tidak tahu apa-apa karena tidak suka membaca.

Bayangkan jika ”penyakit” ini terus menghinggapi para wanita. Bayangkan jika semua wanita beranggapan sama bahwa membaca adalah kegiatan yang membosankan dan tidak memiliki pengaruh apa-apa. Maka, tidak terlalu hiperbola jika penulis katakan bahwa dalam jangka panjang, bangsa ini hanya akan menjadi bangsa follower/pengikut, tertinggal jauh dari peradaban, dan mungkin akan hancur. Jika hal ini terjadi, bagaimana mungkin bangsa ini akan survive. Tidak ada lagi pemikiran-pemikiran kreatif serta tidak ada ide-ide cemerlang yang akan tumbuh untuk mengubah peradaban negeri ini menjadi lebih baik dan maju.

Berdasarkan pengalaman, penulis pernah memiliki taman bacaan yang sangat sederhana di teras rumah sekitar tahun 2004-2005. Waktu itu, tujuan penulis adalah agar ibu-ibu yang biasanya menunggui anaknya mengaji bisa memanfaatkan waktu luang dengan membaca buku, kebetulan rumah penulis dan tempat mengaji cukup dekat. Tidak hanya itu, penulis juga berharap bahwa anak-anak di sekitar lingkungan tersebut membiasakan diri untuk membaca sejak dini, daripada menghabiskan waktu mereka untuk bermain play station. Buku-buku yang disediakan penulis waktu itu merupakan sumbangan dari kakak, teman, dan beberapa kerabat. Jenis bukunya pun mulai dari cerita anak-anak, majalah, buku cerita islami, dan beberapa buku pengetahuan umum.

Sambutan yang diterima oleh masyarakat cukup menggembirakan, terutama anak-anak. Tempatnya pun dinilai cukup strategis karena di teras rumah, sehingga sambil membaca, mereka juga bisa melihat pemandangan yang menyejukkan mata. Namun, lama kelamaan jumlah pengunjung semakin sedikit, bahkan sekarang, karena kesibukan penulis dan peminat yang tidak ada, taman bacaan tersebut penulis tutup. Berbagai macam alasan dikemukakan, mulai dari tidak ada waktu membaca sampai anggapan yang sebagian besar datang dari ibu-ibu bahwa daripada membaca lebih baik nonton televisi, karena membaca hanya membuat kepala jadi pusing dan tidak menghasilkan duit.

Berdasarkan pengalaman tersebut, penulis berpandangan bahwa hal yang paling penting yang harus dilakukan untuk menciptakan minat baca yang tinggi pada wanita adalah dengan mengubah paradigma. Paradigma yang menyatakan bahwa membaca hanya dilakukan oleh orang-orang yang kurang pergaulan harus dieliminasi/dihilangkan. Kesadaran bahwa peran wanita begitu besar dalam pembangunan dan dalam mencetak generasi penerus bangsa yang berkualitas harus terus ditingkatkan. Para wanita harus menyadari bahwa nantinya peran mereka sebagai ibu yang berkewajiban mendidik anak-anaknya, sehingga untuk itu diperlukan sebuah ilmu yang memadai.

Untuk mengubah paradigma tersebut, diperlukan suatu peran dari berbagai pihak, baik dari masyarakat maupun pemerintah. Memang praktek tak semudah teori, namun juga perlu diusahakan. Bagaimana pun juga wanita adalah aset negara yang tidak ternilai harganya, oleh sebab itu perlu adanya kesadaran dari masyarakat pada umumnya dan wanita pada khususnya untuk meningkatkan kualitas dirinya dan salah satu pintu masuk menuju peningkatan kualitas diri adalah dengan banyak membaca.

Peran kaum intelektual juga menentukan perkembangan tingkat kecerdasan para wanita. Jika siswi dan mahasiswi memberikan contoh yang baik kepada masyarakat, khususnya wanita, maka secara tidak langsung mereka ikut mengkampanyekan budaya membaca di kalangan wanita. Namun sebaliknya, jika kaum intelektual tersebut (siswi dan mahasiswi) tidak mampu memberikan contoh yang baik kepada masyarakat, khususnya kaum wanita seperti kondisi pada saat ini, maka janganlah heran jika kaum wanita tidak akan meningkat derajatnya, dan janganlah heran jika kaum wanita hanya dianggap sebagai pemanis belaka, seperti boneka yang tidak memiliki value added (nilai tambah) dan hanya dilihat dari segi fisik saja tanpa mempedulikan intelektualitasnya. Oleh sebab itu, sangat penting bagi kaum intelektual untuk memberikan contoh yang baik kepada masyarakat, khususnya kaum wanita.

Di samping itu, peran pemerintah juga sangat diperlukan dalam upaya meningkatkan minat baca pada wanita. Sosialisasi pentingnya membaca harus terus dilakukan, baik melalui televisi maupun koran-koran dan majalah. Pemerintah yang memiliki wewenang untuk membuat kebijakan, hendaknya membuat kebijakan/peraturan yang dapat memberikan kontribusi kepada masyarakat umum, khususnya wanita, di bidang membaca. Pemerintah juga harus tanggap dan jeli terhadap berbagai macam tayangan televisi yang dinilai tidak mendidik. Berdasarkan pengalaman penulis, melihat kondisi para ibu (wanita) di lingkungan tempat tinggal penulis, maka penulis dapat mengatakan bahwa para ibu (wanita) lebih menyukai tayangan televisi dibandingkan dengan membaca. Membaca merupakan hal yang sangat membosankan dan melelahkan, sedangkan menonton televisi dinilai lebih menyenangkan karena tayangan yang ditampilkan bermacam-macam dan tentu saja hal tersebut jauh lebih menarik dibandingkan membaca berlembar-lembar buku yang memusingkan. Oleh sebab itu, pemerintah sebagai motorik harus jeli terhadap fenomena yang terjadi di kalangan masyarakat, khususnya kaum ibu (wanita), sekarang ini.

***

Kesimpulan

Membaca merupakan sebuah investasi jangka panjang, yang manfaatnya tidak dapat langsung dirasakan saat ini, namun di kemudian hari. Membaca dapat mengubah pola pikir dan pandangan hidup. Sehingga jika seseorang terbiasa dengan membaca, maka hidupnya akan jauh lebih bermakna bila dibandingkan dengan seseorang yang tidak suka membaca. Bisa dikatakan bahwa membaca merupakan langkah awal menuju keberhasilan.

Kebiasaan membaca tidak hanya diperuntukkan bagi wanita saja, namun semua lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Namun demikian, wanita dianggap sebagai subyek aktif yang berperan penting dalam proses pembelajaran dan pendidikan dalam rangka membangun bangsa. Oleh sebab itu, tidak salah bila dikatakan bahwa untuk membentuk bangsa yang kuat dan maju, diperlukan wanita yang cerdas dan maju pula, dan untuk menjadikan wanita tersebut cerdas dan maju, salah satu upaya yang dianggap penting adalah dengan banyak membaca.

Ketidaksadaran akan pentingnya membaca di kalangan wanita merupakan sebuah hambatan dalam menjadikan bangsa ini menjadi lebih maju. Untuk itu, diperlukan kontribusi dari semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat setempat, dalam rangka menciptakan suasana kondusif agar tujuan dapat tercapai. Sosialisasi akan pentingnya peran wanita dalam pembangunan harus terus dilakukan. Sehingga dengan begitu, para wanita bisa lebih menyadari makna dan arti pentingnya membaca untuk menambah wawasan dan pengetahuan mereka.

http://mioariefiansyah.wordpress.com

Suka
miomio menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan miomio sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Riesna | I'm Real Jobless
KotaSantri.com adalah situs keren yang memungkinkan kamu mengetahui dan mempelajari ilmu agama Islam lebih jauh, mudah, dan mengena. Di sini juga kamu bisa saling bersilaturahmi dengan para santri, melalui email dan chatting room yang tak kalah keren!
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1341 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels